Wawancara Khusus dengan Famega, Penulis ‘Kelana’ ke-18 Negara

Famega Syavira Putri. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

FAMEGA Syavira Putri telah melakukan perjalanan yang menarik ke-18 negara. Perempuan ini berkelana melalui jalur darat, dimulai dari Indonesia hingga ke Maroko, melewati daratan Asia, Rusia, dan Eropa. Perjalanan lewat laut hanya dilakukan dengan terpaksa, ketika tepi daratan telah habis dan ia harus menyeberang dengan kapal mencari daratan lainnya.

Perjalanan selama 4,5 bulan melewati negeri asing dan berjumpa orang-orang beragam budaya, tentu saja menjadi pengalaman yang menarik bagi mantan jurnalis TEMPO ini. Pengalaman inilah yang ia tuangkan lewat buku menarik berjudul “Kelana” yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, Juli 2018.

Sebuah catatan perjalanan yang amat menarik nan penuh perenungan tentang kemanusian yang ia jumpai sepanjang perjalanan.

JurnalisTravel.com bertemu dengan Fame, panggilannya, pada sebuah kesempatan di sebuah hotel di Palembang, Sumatera Selatan, awal Oktober 2018. Kesempatan untuk menggali pengalaman “Si Mbak Kelana”. Juga untuk mengajak Anda segera membaca bukunya yang masih belum hilang hangatnya dari ‘oven’.

Yuk simak percakapan kami….

Jalur perjalanan 44 kota di 18 negara dan buku “Kelana”. (Sumber: Facebook Famega Syavira Putri)

Dari mana perjalanan Anda dimulai?

Perjalanan ini menempuh 18 negara dan 44 kota dengan total jarak 23.181 kilometer. Itu mulainya dari Indonesia, dari Riau, terus naik kapal ke Malaka. Di Malaysia naik bus ke Thailand, dari Thailand naik bus ke Laos, lalu naik bus sampai ke Vietnam.

Dari Vietnam naik kereta api ke Cina, ke kota Naning, lalu naik kereta 24 jam lagi ke Beijing. Dari Beijing ke Mongolia, masuk ke Rusia, terus naik Trans Siberia itu sekitar 7 ribu kilometer melintasi Rusia, juga ke Moskwa, sampai ke St. Petersburg.

Baru masuk ke Eropa, negara pertamanya Estoania, kemudian Lithuania, Polandia, Warsawa, Praha, Zurich, Prancis, Spanyol, lalu menyeberang ke Afrika ke Maroko. Lalu pulang terbang.

Total lama perjalanan 4,5 bulan. Lama di setiap negara itu berbeda-beda. Di Malaysia hanya beberapa jam cuma mampir langsung pergi. Kalau di Rusia tiga  minggu. Aku nggak pakai ‘planning’ berapa lama perjalanan. Sebenarnya tujuan awal itu ke Rusia saja jalan darat. Lalu aku riset, ternyata gampamg lewat jalur darat, jadi aku mikirnya itu bisa dilakukan. Setelah baca-baca lagi mungkin bisa sampai Eropa, mungkin bisa sampai Afrika.

Jadi setelah sampai di kotanya, baru dipikirin lagi mau lewat kemana. Setiap kota kayaknya baru dipikirin di dua kota sebelumnya.

Kapan perjalanan dilakukan?

Ini perjalanannya tahun 2017. Aku kepikiran itu Desember 2016, aku lagi ‘off’ dari bekerja. Bulan Februari akhirnya aku mau memutuskan jalan. Aku punya visa Eropa dan bikin visa ke Rusia, kalau ke Maroko kita orang Indonesia nggak perlu Visa untuk 6 bulan.

Aku keluar dari TEMPO pada 2011, waktu itu jadi ‘freelance’ di beberapa tempat, jadi punya banyak waktu. Aku bisa di suatu tempat di mana saja.

Famega Syavira Putri. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Apa persiapan untuk perjalanan panjang itu?

Ya, paling persiapan finansial. Satu ransel kecil 32 liter berisi perlengkapan dan pakaian, ringkas, dan bisa dibawa di kabin atau dipangku. Kalau persiapan fisik nggak ada karena aku kan nggak melakukan yang secara fisik berat, sama saja dengan kehidupan aku.

Bahasa?

Hanya Bahasa Inggris, tapi di Rusia itu nggak banyak yang bisa Bahasa Inggris, di hotel pun orang nggak berbahasa Inggris. Untung ada Google dan mereka tulisannya kan Sirilik, kalaupun ada papan nama jalan, ya tulisan Sirilik, jadi saya belajar Alfabet Rusia, setidaknya aku bisa baca ooh…ini Jalan Lenin, kalau naik Metro.

Jadi aku belajar ‘ngapalin’. bisa baca dikit-dikit, aku punya kertas kecil isinya alpabet, jadi sepeti sandi-sandi morse, karena itu sangat penting. Nyasar-nyasar di stasiun biasa, nanti balik lagi.

Bagaimana berinteraksi dengan orang-orang di sana?

Jadi setiap aku di negara itu aku ketemu orang-orang. Setiap aku traveling itu aku ketemu orang-orang, nggak fokus untuk ke tempat-tempat, misalnya menara Eifel atau apa gitu… Memang males saja, aku ke Perancis tapi nggak ke Paris, karena memang nggak tertarik, jadi atau nggak. Lebih tertarik ke kebudayaan mereka, cara hidup mereka aku ikut.

Aku pakainya Couchsurfing, pertukaran situs, jadi ada orang-orang yang membuka rumahnya untuk orang asing, mereka pasang iklannya di website, menerima traveler, nanti kita email mereka, boleh aku numpang, nanti dijawab, kalau tidak cari yang lain. Nanti kita tanya lagi, o ya boleh, tanggal berapa, nah kalau boleh kita tinggal sama mereka selama di kota itu. Jadi aku banyak tinggal sama orang lokal, pagi-pagi bisa ikut ke pasar.

Famega di Mongolia. (Sumber Foto: Facebook Famega Syavira Putri)

Mengapa mereka mau menerima?

Mereka suka aja, kayak pertukaran kebudayaan. Ada yang kasihan juga sama traveler. Ada yang pingin mempromosikan kotanya seperti host saya di Kroasia,  jadi kotanya itu setiap hari didatangi ribuan turis. Jadi kalau kamu nggak punya duit, nggak bisa ke sana karena mahal banget, jadi aku akan membantu orang bisa punya akses ke sini, kayak gitu sih.

Kayak ada pelajaran yang aku temui dari orang-orang yang aku ceritakan di buku aku itu. Cerita orang-orang yang aku temui, karena kadang-kadang dengan orang ini ketemu hal yang menarik, ketemu misalnya orang yang jalan kaki keliling Eropa. Jadi banyak hal menarik.

Di tiap kota numpang di rumah orang?

Nggak setiap kota, ada juga yang nginap di penginapan. Jadi ketika kita ‘request’, orang itu belum tentu ada yang mau. Kalau nggak ada yang mau ya udah, aku tinggal di hostel. Nginap di hostel itu saat di Rusia. Sedangkan di banyak  kota nginap di rumah orang.

Yang menampungku itu ada yang keluarga, ada yang single, ada yang tingal sama temannya, ada bapak-bapak sama keluarga.

Kalau nginap di tempat bapak-bapak yang ada keluarganya, kalau mas-mas yang tinggal sendirian aku jarang, beresiko kan. Jadi kalau di website ini aku baca referensi dulu. Ada mas-mas yang di Maroko, dia referensinya bagus banget di website itu, jadi aku coba kirim email, oya, katanya boleh, di Maroko, orangnya baik banget, aku dijemput dari terminal ke rumahnya.

Rumahnya gede banget, ada empat lantai, kayak apartemen kecil, kayak rumah keluarga, tapi orang tuanya sudah meninggal, adik-adiknya sudah pindah semua, kakaknya pindah, dia sendirian.

Jadi saat dia nutup pintu, suara pintunya ‘jeglek’, serem juga, kalau aku hilang di sini nggak akan ada yang kedengaran. Tapi anaknya baik, sampai terakhir juga baik. Dia malah nggak traveling, makanya dia suka menampung orang yang traveling di tempatnya. Kami ngobrol, ke pasar, ‘shopping’, masak, aku masak soto di rumahnya, dia masakin aku makanan Maroko, dia undang teman-temannya, ya udah, lima orang datang untuk makan soto.

Famega Syavira Putri. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Ada penduduknya yang sikapnya dingin pada traveler?

Kalau orang pikir orang Rusia itu dingin, tapi enggak, ternyata mereka orangnya baik banget. Aku pernah nginap di Kazan, kayaknya apartemen Soviet yang sudah buluk, lifnya bunyi krek-krek krek, masuk ke sana kan dingin banget. Saat aku datang mereka sudah nyiapin air panas yang direbus pakai panci, jadi aku datang masuk kamar mandi sudah ada air yang direbusin sama mereka, sama mamanya. Suhu di sana beda-beda, minus 10 derajat celsius, pernah juga minus 30 derajat celsius.

Makanan?
Masih di Asia Tenggara sampai Cina itu masih bahagia ya makanannya, masih makanan pedas. Kalau di Rusia itu bener-benar beda. Aku kalau traveling itu nggak pernah ke KFC, tapi di Rusia itu ada satu masa aku tiap hari ke KFC, karena aku nggak tahan sama makanannya, makanannya plain, nggak ada rasanya. Kayak semacam gandum direbus, ditaruh air panas doang, isinya kayak bakso, terbuat dari gandum, nggak enak sama sekali. Ya, udah aku ke KFC.

Di Mongolia malah makanannya enak. Aku ikut paket, kemping nginap 5 hari dengan satu keluarga di tengah padang rumput. Makanannya enak, barbekiu, kan cuma ada binatang sama rumput. Jadi mereka makannya daging, mentega, susu, nggak punya sayur. Itu padang stepa yang luas banget, nggak ada akhirnya.

Di tempat lain di Eropa juga datar saja, kayak kentang ditumbuk, isinya kentang tumbuk yang dicampur yougurt, kayak kentang asem, nggak ada asinnya, nggak ada bumbunya, nggak ada yang pedes, akhirya aku hidup dengan omelet, biar irit aku masak sendiri juga, beli telur.

Kalau di Eropa di penginapan itu kan ada dapurnya atau kalau sama orang bisa masak sendiri. Bikin makanan simpel, omelet, nasi goreng, ada yang jual beras, masak pakai panci biasa, kadang saya buatkan juga makanan untuk tuan rumah.

Di Swiss itu tiap hari masak, karena mahal banget, satu porsi bisa Rp300 ribu, kayak makan biasa di warung itu. Kalau mau nginap di hostel satu kamar kayak asrama isi 8 orang itu sekitar Rp1,5 juta semalam.

Famega di Plaza de Espana, Seville, Spanyol. (Sumber Foto: Facebook Famega Syavira Putri)

Aku di sana nginap di tempat temanku, traveler yang ketemu di perjalanan sebelumnya, di Armenia, ketemu terus diajak, “Ayo main ke tempatku”, Oke, kayak gitulah.

Untuk keamanan di perjalanan?

Pertama aku selalu kabarin Mamaku di Magelang, aku hari ini di Bangkok, hari ini aku mau ke sini, misalnya, aku mau kemping. Terus kalau bawa tas itu, nggak aku tarok di bagasi, aku bawa sama aku. Kalau nginap sama orang, lihat referensinya yang bagus.

Kalau tiba di suatu tempat itu nggak pernah malam-malam, lebih memilih kereta malam, sampai di sana pagi. Di Eropa nggak apa sih, tapi di negara yang aku nggak tahu, seperti Mongolia, Mongolia itu terkenal dengan kriminalitas, kata orang kalau malam jangan keluar, banyak orang mabuk-mabuk, terus aku baca referensi duluan kan, kalau aku mau ke mana di sana itu ada apa.

Jadi aku ke sana itu baca dari sisi blogger perempuan, soalnya kalau yang nulis laki-laki itu akan lain, mereka nggak akan digoda di pinggir jalan. Jadi kalau laki-laki bilang aman, belum tentu aman untuk perempuan. Jadi aku selalu ngecek, misalnya Maroko, tapi kalau ke Maroko gimana keamanan perempuan di negara itu. Iran, pokoknya kemana yang negaranya nggak terlalu terjamin, harus cek yang bagus dulu.

Pernah jadi korban kejahatan?

Pernah di Praha, laptop saya hilang. Aku salah, narok di tas begitu saja di hostel. Bahan-bahan hilang, aku nangis-nangis gara-gara foto hilang, terus ke kantor polisi, diambil BAP. Ternyata foto dari kameraku itu sudah terinstal ke Google Fotos, terus besoknya aku instal Google Fotos, ooh ternyata ada, ada backup-nya, seneng banget.

Pengalaman paling ekstrem?

Yang paling ekstrem itu dingin di Siberia. Siberia dingin banget, jadi nggak berani lama di luar. Matahari terbenam langsung pulang, lihat kota saja.

Famega di St. Petersburg, Rusia. (Sumber Foto: Facebook Famega Syavira Putri)

Perjalanan ini mengubah pandangan?

Iya, kalau di Jakarta kayanya suram banget, berita politik, netizen, stres banget sih lihat hidup ini. Tapi kalau di luar sana itu kayaknya ada yang lebih menarik,  ada dunia lain, jadi dunia bukan hanya sosial media saja, dunia ada di luar sana ketemu orang, kehidupan itu di sana.

Ternyata banyak orang baik, kan selama ini ada kayak stereotipe pada orang tertentu, orang Rusia serem, orang Cina jorok, di situ mereka juga jorok, tapi kita udah kenal ternyata mereka baik juga. Membuat aku percaya pada kemanusiaan, keberagaman, dan yang menurut aku menakjubkan.

Itu kan perjalanan sudah jauh banget, ketemu banyak banget jenis orang tapi ternyata sama loh, kayak di sini, di semua tempat itu orang-orangnya baik, suka bantu orang. Jadi tinggal minta saja ke orang itu akan ada yang bantuin.

Masih ingin traveling?

Masih, mungkin beberapa tempat di Indonesia, Banda Naira, Ambon, juga Mentawai. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)