Tradisi Orang Kolang di NTT, Leluhurnya dari Minangkabau

manggarai

Gua atau liang dalam Bahasa Kolang sebagai tempat untuk memasak gola kolang dengan kuali besar atau sewe. (Foto: Markus Makur)

MASYARAKAT di kampung-kampung di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memegang teguh warisan budaya yang berhubungan dengan alam semesta. Bagi mereka alam semesta sebagai ibu bumi yang memberikan asupan gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang manusia.

Salah satu dari beberapa warisan tradisi NTT yang berkaitan dengan alam semesta tersebut adalah tradisi ritual "rah raping".

Rah raping berasal dari kata “rah” yang artinya syukuran. Sedangkan “raping” penamaan untuk pohon nira atau enau dari Bahasa Kolang. Jadi "rah raping" adalah syukuran yang berhubungan dengan penghasil gula merah atau gula enau.

manggarai

Gula merah dalam kuali yang disebut golang kolang atau gola merah yang diproduksi oleh orang Kolang. (Foto: Markus Makur)

Orang Kolang biasa menyebutnya dengan “gola kolang”. Makna luasnya juga bisa untuk syukuran tahunan pada sebuah klan atau suku tertentu.

Syukuran tersebut berkaitan dengan sebuah tempat memasak gula merah. Tempat tersebut bisa di gua atau di pondok yang sering disebut "sari".

Sari adalah sebuah pondok sederhana yang dibuat oleh petani yang memiliki keterampilan mengolah air nira bening atau “wae minse” menjadi gula merah.

Jadi “rah raping” hanya bisa dilaksanakan dalam lingkungan kecil, syukuran dalam sebuah klan suku. Ini juga bagian di dalam ritual penti atau syukuran tahunan di sebuah kampung.

manggarai

Gua atau liang dalam Bahasa Kolang sebagai tempat untuk memasak gola kolang dengan kuali besar atau sewe. (Foto: Markus Makur)

Khusus untuk “hamente” atau Kedaluan Kolang di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur sudah merupakan tradisi yang diturunkan oleh nenek moyang orang Manggarai Barat.

Emilianus Egor, 56 tahun, adalah seorang guru yang berasal dari Kampung Wajur. Meski ia sekarang bertugas di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, namun sangat mengetahui budaya kampungnya. JurnalisTravel.com mewawancarai Egor melalui telepon pada Selasa, 19 Januari 2021.

Egor mengatakan di Uku, Suku Besi Kolang di Kampung Lembah Wajur, Desa Wajur, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, rah raping salah satu ritual yang diwariskan oleh orang tua.

Warisan ritual tersebut bertujuan memberikan penghormatan kepada alam semesta, kepada Sang Pencipta atau “Mori jari agu dedek” dan leluhur. Semua ritual diperuntukkan dan mengarah kepada Wujud Tertinggi.

"Sebagaimana diwariskan almarhum Nikolaus Dahu di Kampung Lembah Wajur saat memproduksi gola kolang atau gola merah, selalu melaksanakan ritual rah raping,” katanya.

Ritual tersebut biasanya langsung dilaksanakan di Sari atau pondok tempat memasak gola kolang dan disebut “rah sari”.

Almarhum Nikolaus Dahu mengetahui tanda-tanda saat memasak gula merah di kuali besar yang disebut “sewe”.

manggarai

Seorang petani sedang memukul-mukul pangkal pohon nira untuk menghasilkan air nira (tewa raping) dengan sebuah kayu khusus. (Foto: Markus Makur)

“Hasil produksi gola kolang terus menurun dan juga tanda ada semacam gola tali, untuk itu almarhum melaksanakan ritual rah raping," ujarnya.

SEEKOR AYAM SEBAGAI SIMBOL

Ritual rah taping dilaksanakan dengan menggunakan seekor ayam sebagai simbol. Ada tanda-tanda baik yang direstui oleh alam semesta, Sang Pencipta, dan leluhur.

“Hasilnya sangat nyata, air nira, wae minse, berlimpah, air nira bening, manis berlimpah menandakan bahwa produksi gola kolang akan meningkat dari sebelumnya,” kata Egor.

Sebenarnya ritual rah taping tidak hanya berkaitan dengan syukuran terhadap hasil bumi, tetapi juga acara syukuran untuk bidang lainnya. Misalnya ketika ada anak di keluarga yang sukses di dunia Pendidikan, seperti baru meraih gelar sarjana. Orang tuanya mengakadan rah taping dan rah sari.

“Memang nama rah raping dan rah sari hanya khusus untuk pante minse oleh petani, tetapi maknanya juga diperluas untuk mensyukuri keberhasilan dalam dunia pendidikan juga,” katanya.

Bahkan semua keberhasilan di lingkungan keluarga juga harus disyukuri lewat berbagai ritual yang diwariskan nenek moyang secara turun-temurun.

manggarai

Dari air nira dimasak menjadi gula merah. (Foto: Markus Makur)

“Ritual-ritual adat tidak terpengaruh oleh budaya modern, orang Manggarai Barat terus mempertahankan tradisi yang diwariskan nenek moyang,” katanya.

NENEK MOYANG DARI MINANGKABAU

Meski orang Minangkabau di Ranah Minang, Sumatra Barat tidak pernah memiliki catatan atau silsilah tentang orang Minang yang menjadi asal-usul orang Kolang di NTT, tetapi Orang Kolang sendiri mengaku nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau.

Penuturan lisan yang diwariskan turun-temurun di tengah masyarakat Kolang menyebutkan bahwa orang Kolang di Hamente Kolang, Kedaluan Kolang berasal dari Minangkabau. Orang Minangkabau pertama yang menginjak kaki dan menetap di Lembah Beo, Kampung Kolang bernama Pesau.

Pesau berlayar dari Minangkabau atau Sumatra Barat sekarang menuju Goa, Makassar.  Ia menetap sementara waktu di Goauntuk kemudian berlayar ke Bima. Dari Bima dia berlayar ke Warloka, Labuan Bajo. Dari Warloka menuju ke Nangalili dan kemudian melanjutkan ke Lembah Beo Kolang.

Zaman itu yang tidak dijelaskan tahunnya mereka berlayar dengan perahu mengikuti aliran sungai Wae Impor dari hilir ke hulu, hingga menemukan air yang surut. Selanjutnya dia menetap di Kampung Lembah Kolang.

manggarai

Tua adat Fransiskus Ndolu sedang melakukan ritual adat dengan seekor ayam. Ayam sebagai perantara antara manusia, Sang Pencipta, alam semesta, dan Leluhur. (Foto: Markus Makur)

Sebenarnya tidak hanya di Kampung Lembah Kolang masyarakatnya mengaku nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau, tetapi juga masyarakat di wilayah Manggarai Raya (Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur). Bahkan sebagiannya di wilayah Pulau Flores.

Saya pernah mendengar cerita lisan bahwa di Manggarai Raya sangat kental sekali kisah leluhur mereka berasal Minangkabau.

Sementara orang Kolang sendiri sebagian besar mengetahui sejarah awal kedatangan orang Minangkabau. Bahkan di Kampung Todo, di wilayah Mukun dan di Kolan ada bukti kuburan nenek moyang mereka dari Minangkabau.

Memang selama ini yang popular masyarakatnya di NTT yang berasal dari Minangkabau adalah Kampung Wae Rebo. Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai. Sedangkan Beo Lembah Kolang terdap di Manggarai Barat.

Nenek moyang asal Minangkabau tersebut mewariskan tradisi, termasuk ritual adat.

Dalam tradisi Minangkabau sendiri memang juga dikenal pembuatan gula enau dan penggunaan ayam dalam banyak ritual adat, misalnya saat mendirikan rumah. (Markus Makur)

Catatan istilah Bahasa:

Gola Kolang adalah gula merah yang dihasilkan dari kolang. Gula merah atau gola merah ini bersumber dari air nira bening dan manis.

Sewe adalah kuali besar yang dipergunakan untuk memasak air nira yang kemudian menjadi gola kolang.

Pante minse adalah pengrajin gola kolang. 

Pante adalah sebuah alat yang tajam terbuat dari besi.

Minse adalah air nira yang bening dan manis.

Mori Jari Agu Dedek artinya wujud tertinggi.

Wae Impor adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) terbesar di wilayah Kolang. Aliran airnya sampai di hilir daerah Nangalili, Lembor.(*)

Dapatkan update terkini Jurnalistravel.com melalui Google News.

Baca Juga

Banjir
Banjir Lebih Sebulan Melanda Dataran Tinggi Kerinci
krisis air
Krisis Air di Empat Pulau Mentawai, Kenapa Bisa Terjadi?
Nelayan Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni
Nelayan Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni
Terancam Punah, Unand-Swara Owa Survei 6 Primata Endemik Mentawai
Terancam Punah, Unand-Swara Owa Survei 6 Primata Endemik Mentawai
Hutan Nagari
Hutan Adat Nagari Ampalu Masih Menunggu Perda Kabupaten
Kisah Kopi Londo di Nagari Sirukam
Kisah Kopi Londo di Nagari Sirukam