Struktur Rumah Adat Manggarai Flores Mirip Rumah Gadang Minangkabau


Rumah adat “Mbaru Gendang” di Manggarai, Flores, NTT. (Foto:Markus Makur/JurnalisTravel)

[Pengantar Redaksi]

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian kisah tentang pengaruh Minangkabau di Manggarai Raya, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ini adalah tulisan kedua setelah tulisan pertama:

> MENAPAKI JEJAK MINANGKABAU DI FLORES

**

SWAFOTO di depan Istano Basa Pagarruyung di Batusangkar, Sumatera Barat yang diunggah Romo Silvianus Mongko, Pr di akun Facebook-nya mengingatkan saya kepada jejak-jejak leluhur Minangkabau di tanah Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Jejak-jejak leluhur  yang terus dikisahkan turun-temurun.

Selain swafoto yang diunggahnya itu, juga ada keterangan tertulis saat berada di Padang (Sumatera Barat). Saat itu Romo Silvi, biasa disapa, sedang melaksanakan studi lapangan tentang strategi pemerintahan di Provinsi Sumatera Barat bersama sejumlah peserta yang sedang belajar di Lemhanas, Jakarta.

Mantan Kepala SMA Seminari Pius XII Kisol ini mengikuti pendidikan di Lemhanas kurang lebih selama setahun. Selain belajar di kelas, ia bersama peserta lain juga mengikuti pendidikan lapangan dengan mengunjungi Provinsi Sumatra Barat.

Di sela pendidikan lapangan itu, Romo Silvi mengambil sedikit waktu untuk mengunjungi dan melihat dari dekat rumah adat orang Minangkabau yang terkenal dengan sebutan “Rumah Gadang”. Istano Basa Pagarruyung yang dikunjungi, meski sebuah istana yang dibangun untuk tujuan wisata, juga berstruktur rumah gadang.

Tanduk kerbau di puncak atap Rumah Adat “Mbaru Gendang” di Manggarai, Flores, NTT. (Foto:Markus Makur/JurnalisTravel).

Kepada JurnalisTravel.com  melalui pesan WhatsApp pada Minggu, 2 September 2018, Romo menjelaskan bahwa yang paling ia tangkap saat melihat sepintas rumah adat Minangkabau tersebut adalah kemiripan strukturnya dengan rumah adat “Mbaru Gendang” di Manggarai Raya. Meski atap Mbaru Gendang tidak bergonjong, melainkan limas.

“Beberapa hal struktur bangunan yang mirip adalah ‘tonggak tuo’ (tiang utama) rumah adat Minangkabau mirip dengan ‘hiri bongkok’ di Mbaru Gendang,” katanya.

‘Tonggak tuo’ tersebut berada di tengah dengan ukuran lebih besar, sama persis dengan ‘hiri bongkok; yang berada di tengah Rumah Gendang. ‘Tonggak tuo’ tersebut adalah tempat duduk tua adat orang Minangkabau, mirip dengan orang Manggarai di mana ‘hiri bongkok’ tempat duduk tua-tua adat saat ritual dan urusan adat dilangsungkan.

Selain itu, lanjut Romo Silvi, ada kemiripan beberapa motif dinding ukiran di rumah adat Minangkabau dan motif ‘kain songket’ yang juga ditemukan pada dinding ‘Mbaru Gendang’, serta kain tenun ‘Songke’ orang Manggarai. Dan juga ada beberapa kamar di dalam rumah adat Minangkabau untuk perempuan di ‘istana raja’, persis seperti di Mbaru Gendang orang Manggarai.

“Saat itu saya tidak sempat bertemu dengan tua adat untuk memperoleh penjelasan terkait dengan rumah adat Minangkabau, itu saja yang bisa saya informasikan karena saya hanya mengambil waktu tak lama di sela-sela kegiatan utama saya untuk belajar strategi pemerintahan di Provinsi Sumatera Barat,” kata Romo Silvi.

Dua Bersaudara dari Minangkabau 

Pengaruh struktur Rumah Gadang Minangkabau kepada “Mbaru Gendang” di Manggarai Raya, wilayah adat masyarakat di dua kabupaten, yaitu Manggarai dan Manggarai Raya di Pulau Flores, NTT sangat mungkin terjadi karena terkait dengan sejarah masa lalu mayarakat sana.

Rumah Gadang Minangkabau dengan atapnya yang khas di salah satu perkampungan tradisional di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Dikisahkan, nenek moyang Manggarai Raya berasal dari Minangkabau, yaitu dua laki-laki kakak-beradik di masa lalu bernama Mashur dan Masur (hanya beda  satu huru dalam penulisan) yang datang ke Flores bersama rombongannya.

Dikisahkan secara lisan bahwa Mashur dan kakaknya, Masur, serta rombongannya beragama Islam pada abad ke-17. Diperkirakan perjalanan mereka bermula dari Minangkabau menuju ke Goa-Tallo, Ujung Pandang waktu itu dan kini Makassar.

Selanjutnya dari Goa-Tallo mereka menuju ke Bima. Karena Raja Bima masih berhubungan kekeluargaan dengan Minangkabau, kemudian mereka menemukan kampung itu dan merupakan pendiri pertama kampung tersebut hingga saat ini.

Mashur dan keluarga sedikit bergeser dari Todo Koe menuju Todo. Selanjutnya ia dan keluarga menetap di Kampung Todo sampai meninggal dunia.

Diperkirakan Bima diekspansi serta diislamkan pada 1616 dan 1626. Kemungkinan pada tahun yang sama itu Mashur (adik) dan Masur serta rombongannya berlayar dari Bima menuju ke Wareloka atau Warloka, di bagian Barat dari Manggarai waktu itu dan kini masuk wilayah Manggarai Barat.

Dalam buku Dami N Toda, Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi pada sub tema, “Pendatang Melayu Minangkebau”, hal 235 mengisahkan sesuai kisah keturunan Minangkebau di Todo dan Pongkor di Manggarai, bahwa Mashur yang datang bersama saudara laki-lakinya bernama Mohamametali (disebut juga dengan nama Sutan), saudara perempuan bernama Kembang Emas beserta seluruh awak perahu di bawah juragan bernama Perkita Jermia mendarat di Wareloka (disebut juga Gunung Tallo), di Pantai Barat Manggarai dari arah bima.

Berbeda dengan yang dikisahkan tua adat Kampung Kilor, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, Tobias Sudirman bahwa, Mashur adalah adik dari Masur. Mashur adik dan Masur adalah kakak dalam perjalanan dari Warloka menuju ke Lale Lombong dan menetap di Kampung Kilor.

Tokoh  tersebut terkadang disebut dengan gelar “Kraeng” (karena sebelumnya bermukim di Makassar, Bone sebelum ke Bima, Nusa Tenggara Barat). Terkadang disebut dengan gelar “Dato” ataupun “Empo” oleh turunannya di dalam kisah lisan.

Kisah lisan yang terus diwariskan bahwa alasan meninggalkan Pagarujung karena perselisihan di antara ke tujuh bersaudara tentang siapa menjadi raja di tanah Menangkabo, hingga keputusan dari ketujuhnya bahwa adik bungsu yang menjadi raja.

Diperkirakan karena keputusan itu, Dato Mashur pergi merantau ke timur menuju Majampa’it (Majapahit). Dikisahkan bahwa kerajaan Menangkabo masih ada hubungan kekeluargaan dengan Majapahit yang sudah menerima agama Islam.

Dikisahkan bahwa saat bertemu dengan Majapahit, Dato Mashur menerima warisan dari Majapahit berupa bendera segi empat kuning dengan gambar didalamnya kapal layar yang sedang mengarungi lautan.

Juga ada petaka berbentuk segitiga berwarna kuning dan di dalamnya bergambar bulan dan bintang serta sebilah pedang bertuliskan huruf Jawi bersepuh emas, serta satunya tidak diketahui, namun berkekuatan kesaktian.

Sejak saat itu dikisahkan bahwa Empo Mashur memperoleh gelar Gelombang Palapa, bahasa lokalnya “Bombang Palapa” serta setiba di Warloka memperoleh gelar, “Cahaya Angkasa Menembusi Bumi”.

Perjalanan selanjutnya dikisahkan bahwa saat itu di Warloka sedang mengalami wabah penyakit. Demi menyelamatkan diri dari wabah itu, mereka berpindah menuju ke daratan Flores Barat serta pedalaman Flores Barat. Mereka berpindah menuju Lale Lombong. Dari Lale Lombong menuju ke Kampung Kilor dan menetap serta membangun perkampungan di sana.

Masih dalam buku Dami N Toda, bahwa Dato Mashur bergeser menuju ke Poco (bukit) Weri Ata, tak jauh dari kampung Deru, yang konon dikisahkan sudah ada orang Manggarai asli di kampung itu. Mereka membuka hutan untuk ladang dengan peralatan modern. 

Menikahi Putri Pribumi Manggarai

Setelah ditelaah dalam Buku Dami N Toda bahwa dikisahkan Mashur terpikat dengan kecantikan gadis pribumi di Poco Weri Ata. Gadis pribumi itu bernama Rewung Ngoel putri dari Peti Ine Holas dan Larung turunan dari Poca pemuka Beo Desu berasal dari Wangsa (Ng) Kuleng (Mandosawu).

Setelah menikah secara resmi nama putri pribumi tersebut diganti dengan nama baru, Siti Hawa. Pihak orang tua dari putri pribumi mengajak Dato Mashur dan rombongannya berpindah dan bermukim bersama mereka di Beo Desu, namun Dato Mashur menolak tawaran itu.

Dato Mashur bersama istri dan rombongannya diantar warga Kampung Desu untuk mencari tempat pemukiman baru. Saat berjalan untuk mencari tempat pemukiman itu, mereka lelah dan beristirahat di sebuah bukit yang memiliki gua alam.

Saat lelah, Dato Mashur ketiduran di bawah pohon di bukit itu, ia bermimpi bertemu seorang kakek berambut dan berjanggut putih, serta berpakaian serba putih dan berkata,” Berbahagialah engkau yang berniat menghuni tempat ini, karena di atas bukit ini nanti akan tumbuh sebatang pohon beringin bercabang menjalar ke seluruh permukaan bumi, daunnya rimbun dan banyak orang yang ingin benaung di bawahnya.” 

Setelah sadar dari mimpinnya dan ia terbangun serta memutuskan untuk merambah hutan sebagai lahan perkebunan dan menetap di bukit tersebut.

Selanjut Dato Mashur dan istrinya gadis pribumi beserta rombongannya membangun pemukiman serta menyebutnya “Todo Koe”. Jika diterjemahkan artinya ‘tumbuh kecil’ atau ‘semoga tumbuh’. Lalu mereka mengakui tempat itu dengan nama kampung Todo Koe.

Di kampung itu berkembang dan tumbuh dengan melahirkan keturunan-keturunannya. Selanjutnya, perkembangan manusia semakin banyak sehingga di akhir masa hidupnya, kampung Todo Koe bergeser sedikit ke arah barat dan dinaman Todo hingga masa kejayaan kerajaan-kerajaan Todo selanjutnya sampai masa tibanya Belanda. Todo berarti tumbuh. Jadilah Kraeng Mashur sebagai pendiri pertama perkampungan Todo hingga hari ini. (Markus Makur/ JurnalisTravel)