Mengangkat Kemegahan Dharmasraya

Candi Pulau Sawah II. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

DARI tepian sungai Batanghari di ketinggian Kompleks Candi Pulau Sawah, Kabupaten Dharmasraya, arus Batanghari yang berair coklat terlihat mengalir tenang ke arah timur.

Batanghari adalah sungai bersejarah yang menjadi saksi bisu masa kejayaan hingga meredupnya Kerajaan Malayu. Hulu Batanghari pada abad ke-13 hingga 14, atau mungkin lebih tua, pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Malayu Dharmasraya.

Pusat pemerintahan Malayu di Dharmasraya ini diperkirakan kelanjutan dari pusat Kerajaan Malayu sebelumnya yang terletak di Kompleks Candi Muara Jambi dari abad ke-8.

Tidak sulit membayangkan lalu-lintas Batanghari pada masa lalu pada saat Kerajaan Malayu sedang berjaya. Sungai sepanjang 800 km itu menjadi jalan raya penting dari Selat Malaka melewati Kompleks Candi Muara Jambi terus ke Dharmasraya hingga menembus ke hulu di pedalaman Minangkabau atau Sumatra Barat.

Sungai Batanghari dari Kompleks Candi Pulau Sawah. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Diperkirakan zaman dulu banyak kapal melintasi sungai ini hingga kapal besar bermuatan lebih 100 orang. Di tepian Batanghari di Dharmasraya terdapat beberapa kompleks percandian berbahan bata. Kompleks candi itu berdiri di tanah yang lebih tinggi seperti kompleks situs Candi Pulau Sawah.

Kompleks Candi Pulau Sawah sore itu terasa hening di tengah rimbunnya hutan karet dan pohon lainnya. Di kejauhan terlihat barisan bukit biru muda.

Kompleks percandian itu terawat dengan baik. Rumput yang hijau dan bangunan bata tapak candi yang dikelilingi pagar besi. Pepohonan yang melingkupinya dan sungai besar yang mengalir dengan tenang menimbulkan kesunyian yang terasa magis.

Antara Situs Candi Pulau Sawah 1 dan Candi Pulau Sawah 2 melewati jalan tanah, di antara  pohon dan padang rumput. Tidak ada rumah penduduk. Hamparan padang rumput dimanfaatkan penduduk untuk tempat mengembalakan sapi.

Candi Pulau Sawah II. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Di lokasi Kompleks Candi Pulau Sawah diindikasikan terdapat sebelas struktur bangunan batu bata dan tiga di antaranya sudah dipastikan bangunan candi. Namun baru dua candi yang sudah diekskavasi dan dibangun kembali.

SEZAMAN DENGAN SRIWIJAYA DAN MUARA JAMBI

Ketika melakukan ekskavasi pada 2016, tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menemukan beberapa benda kuno yang semakin menguak misteri masa lampau di Kawasan Candi Pulau Sawah.

Pada munggu tujuh ditemukan prasasti emas berisikan mantra Buddha, pecahan keramik asing dari Tiongkok, dan 37 periuk tanah liat berbaris menempel pada bagian luar dinding struktur candi.

Dalam laporan “Penelitian Arkeologi Tahap III di Situs Pulau Sawah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional 2018” yang dipimpin Eka Asih Putrina Taim disebutkan, hasil pembacaan sementara prasasti emas bertuliskan aksara melayu kuna dalam bahasa Sanskerta. Dari bentuk huruf dan tulisan diketahui aksara yang digunakan merupakan aksara kuno dari abad ke-8 hingga 9 Masehi.

Prasasti emas dari Munggu VII di Kompleks Percandian Pulau Sawah, Siguntur, Kabupaten Darmasraya. (Foto: Tim Arkenas 2018)

Sedangkan keramik yang tertua dan terbanyak ditemukan adalah masa lima dinasti pada abad ke-10 serta dari masa Dinasti Song awal pada abad ke-10 hingga 11 dan Dinasti Song akhir abad ke-12 hingga 13 Masehi.

“Dengan demikian dapat dikatakan Situs Pulau Sawah semasa dengan berlangsungnya Kerajaan Sriwijaya dan Percandian Muara Jambi,” tulis laporan.

Sementara analisa isi periuk belum diketahui dan menunggu kerja sama dengan Batan untuk meneliti sampel. Namun sebuah periuk dari hasil analisa nonlaboratorium diketahui isinya sebuah jarum emas.

Tim Puslit Arkenas juga menyebutkan teknik bangunan di candi Situs Pulau Sawah juga sama dengan situs candi Muara Jambi.

Barisan periuk tanah di kotak ekskavasi Munggu VII, masih belum diketahui isi dan fungsinya. (Foto: Laporan Tim Arkenas 2018)

Menurut Tim Puslit Arkenas, meski harus ada penelitian lebih lanjut untuk memperkuat bukti-bukti arkeologi, bentangan wilayah kuno Dharmasraya sepanjang Barat-Timur lebih kurang 20 km dari bendung Bakawi hingga Sitiung (Koto Tuo) dan lebar sepanjang kurang lebih 5 km dari Rambahan hingga Gunung Medan.

Tim Arkenas menyimpulkan kemungkinan bangunan-bangunan candi tersebut adalah bangunan suci agama Buddha yang berbeda dengan banguan suci agama Hindu yang umumnya teratur dan terpusat pada satu bangunan induk  atau konsentris.

“Pada umumnya terdapat perbedaan kemiringan struktur bangunan 10 hingga 15 derajat dibandingkan dengan arah kompas, perbedaan penyimpangan arah bangunan dibanding dengan bangunan lain kemungkinan berkaitan juga dengan perbedaan masa pembangunan,” tulis laporan.

Hasil penelitian menarik lainnya yang disampaikan Tim Arkenas 2018 adalah lokasi candi Pulau Sawah dalam beberapa waktu dilanda banjir dan berada di bawah permukaan air. Ini terlihat dari lapisan kerakal yang cukup padat di setiap bagian luar dinding struktur dan kemungkinan terjadi setelah adanya candi.

Lokasi Kompleks Candi Pulau Sawah dan Kompleks Candi Padang Roco. (Gambar: JurnalisTravel.com)

“Kondisi terendam banjir membuat (percandian) Pulau Sawah terlewatkan pada saat adanya ekspedisi Pamalayu beberapa abad kemudian (13 – 14 Masehi)  sehingga mereka mencari lokasi (percandian) yang lebih tinggi yaitu Rambahan dan Padang Roco,” simpul tim.

Temuan baru ini tentu saja menambah khazanah dan mengubah anggapan selama ini bahwa situs-situs candi di Dharmasraya lebih muda dari situs Muara Jambi dan Palembang.

Sebelumnya dari enam situs di hulu sungai Batanghari, tidak ada satupun yang menyebutkan pertanggalan yang berkaitan dengan masa pembangunannya. Unsur penanggalan diperoleh dari Prasasti Dharmmāśraya (1286 Masehi) yang ditemukan di Candi Padang Roco dan Prasasti Amoghapāśa (1347 Masehi) yang ditemukan Situs Rambahan.  

Kompleks percandian Dharmasraya selain Pulau Sawah memang di Padang Roco, tujuh kilometer di hilir Pulau Sawah.  Ini kompleks percandian yang terluas, sekitar 500 meter persegi, meski hanya ditemukan tiga bangunan candi yang kini sudah dipugar.

Candi Pulau Sawah II. (Foto: Febriannti/ JurnalisTravel.com)

Luas areal ini dibuktikan dengan temuan parit-parit segi empat selebar 4-8 meter dengan dalam 1-5 meter di sekeliling lokasi menghadap ke sungai Batanghari. Di Padang Roco juga ditemukan alas Arca Amoghapasa pada 1911, meski arcanya ditemukan 10 km di hulu dekat Candi Rambahan.

Arkeolog dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Bambang Budi Utomo menduga Amoghapasa dulunya terletak di Padang Roco, lalu untuk penghormatan kepada Raja Mualiwarmadewa, raja pertama Dharmasraya, Adityawarman menaruhnya di Rambahan, sebuah tempat yang lebih ke hulu dan lebih tinggi.

Adityawarman juga membubuhkan tulisan baru di punggung arca tersebut pada 1347 Masehi. Dalam prasasti itu Sri Maharaja Adityawarman disebutkan menyelenggarakan upacara tantra di Dharmasraya.

Arca Amoghapasa yang kini berada di Museum Nasional memiliki tinggi 163 cm. Amoghapasa adalah bukti kebesaran Kerajaan Dharmasraya pada masa silam. Arca yang dikirim dari Jawa oleh Kertanegara, raja Singosari itu dengan pelayaran yang terkenal dengan ekspedisi “Pamalayu”.

Kompleks Candi Padang Roco. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

EKSPEDISI PERSAHABATAN

Beberapa ahli di masa lalu menafsirkan Pamalayu sebagai ekspedisi penaklukan Kerajaan Malayu yang berpusat Dharmasraya, namun banyak ahli sekarang menafsirkan sebaliknya. Justru Pamalayu sebagai bentuk uluran tangan persahabatan Kertanegara kepada Maulawarman, Raja Malayu.

Buktinya adalah pengiriman arca Amoghapasha. Dharmasraya sepertinya mempunyai peranan penting bagi Kerajaan Singasari, karena Maharaja Kertanagara memandang perlu mengirimkan sebuah arca yang indah untuk Dharmasraya.

Ekspedisi persahabatan tersebut dilakukan Kertanagara setelah ia melukai utusan khusus Kubilai Khan sebagai jawaban bahwa Singasari tidak mau tunduk kepada Kubilai Khan. Karena secara geografis letak wilayah Dharmasraya di antara daratan Asia dan Singasari, maka diharapkan Dharmasraya menjadi benteng penahan serangan Mongol bagi Singasari.

Informasi penting pengiriman Amoghapasa adalah tulisan yang tertulis di alas arca bertanggal 1208 Saka (22 Agustus 1286) yang mengabarkan Amoghapasa dikirimkan Kertanegara bersama 14 pengiringnya dan saptaratna. Arca dibawa utusan empat pejabat kerajaan yang seorang di antaranya bernama Rakryan Mahamantri Dyah Adwyabrahma.

Candi Padang Roco. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Dua tahun kemudian, rombongan Pamalayu kembali ke Singosari bersama dua putri Dharmasraya, Dara Petak dan Dara Jingga yang dikirim Mauliwarmadewa ke Singosari untuk dikawinkan dengan raja.

Namun ketika rombongan ini sampai di Jawa ternyata Singosari sudah bubar dan berdiri kerajaan baru bernama Majapahit yang merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Indonesia.

Dara Petak kawin dengan Raden Wijaya. Sedangkan Dara Jingga kawin dengan Rakryan Mahamantri Dyah Adwyabrahma yang melahirkan Adityawarman. Adityawarman besar dan kemudian menjadi pejabat penting di Majapahit sebelum kembali ke Dharmasraya pada 1347 dan menjadi Sri Maharaja Diraja Adityawarman.

DHARMASRAYA TIGA KALI DISEBUT

Nama Dharmasraya tiga kali disebut dalam sumber sejarah. Pertama pada prasasti Amogapasa dan alasnya pada abad ke-13. Kedua dalam Negara Kertagama pada abad ke-14. Ketiga dalam Naskah Tanjung Tanah. Naskah Tanjung Tanah dikuak oleh Uli Kuzok, filolog berkebangsaan Jerman pada 2002.

Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah. (Foto dari Ulikozok.com)

Naskah kuno yang ditulis di atas kertas dari kulit kayu yang disimpan penduduk Kerinci itu dibuat di masa Dharmasraya sebagai kitab undang-undang dari Kerajaan Dharmasraya untuk masyarakat Kerinci. Menurut Kozok dalam naskah Tanjung Tanah dua kali disebut Maharaja Dharmasraya. Dari analisa radio karbon, naskah diperkirakan ditulis pada paruh kedua abad ke-14 atau pada zaman pemerintahan Adityawarman.

Saya menemukan tempat ditemukannya Arca Bhairawa di pinggir Batang Hari tak jauh dari kompleks candi Padang Roco. Arca paling besar Arca Bhairawa yang dianggap perwujudan Adityawarman kini menghuni Museum Nasional. Pemerintah Belanda membawanya ke Bukittinggi, lalu dipindahkan ke Museum Nasional di Jakarta pada 1935.

Bakhtiar, warga Sungai Lansek, Dharmasraya yang saya temui pada 2008 di bekas lokasi penemuan arca Bhairawa mengatakan, berdasarkan cerita orang-orang tua di kampungnya dulu patung Bhairawa dua buah atau sepasang, sama besar. Satunya berbentuk wujud Bhairawa perempuan.

Teks yang menyebut Dharmasraya dalam Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah. (Foto: Buku Uli Kozok, Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah Naskah Melayu yang Tertua)

Kedua patung berdiri memandang ke arah sungai Batang Hari menatap siapa saja yang lewat dengan kapal atau perahu di bawahnya. Kemudian karena tidak dipelihara kedua patung sering disenggol-senggol gajah sehingga lama-kelamaan miring dan jatuh.

Ketika tim Kolonial Belanda ke lokasi, kedua arca sudah tergeletak di tanah dan sering dijadikan penduduk untuk mengasah parang. Sebanyak 300 orang dikerahkan mengangkut kedua arca denga rakit melewati sungai Batanghari untuk dibawa ke Bukittinggi.

Namun satu arca terjatuh di pinggir sungai yang kini lokasinya menjadi sawah. Arca yang terjatuh tidak pernah ditemukan lagi dan juga dilaporkan oleh tim Kolonial Belanda.

MENJEMPUT KEBAIKAN MASA LALU

Dharmasraya kini menjadi salah satu kabupaten di Sumatera Barat sejak 7 Januari 2004. Pulau Punjung menjadi ibu kota yang sedang tumbuh. Sore hari terlihat banyak warga kota menghabiskan waktu bersantai menikmati sungai Batanghari dari atas Jembatan Sungai Dareh.

Candi Pulau Sawah. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Pemerintah Kabupaten Dharmasraya juga mulai menoleh kepada kejayaan masa lalu Dharmasraya. Pada 22 Agustus 2019 Pemerintah Kabupaten Dharmasraya menggelar pembukaan rangkaian Festival Pamalayu.

Bupati Kabupaten Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan mengatakan Festival Pamalayu diharapkan menjadi pintu menjemput nilai-nilai kebaikan di masa lalu. Ia juga berencana akan membangun sebuah museum di Dharmasraya.

“Kejayaan Dharmasraya di masa lalu yang ditinggalkan para leluhur seharusnya kita jaga, banyak candi bisa dikembangkan untuk wisata sejarah, Dharmasraya seharusnya tidak redup di masa sekarang,” katanya.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat Nurmatias mengatakan BPCB telah menyusun kajian rencana induk pelestarian Situs Candi Pulau Sawah. Situs Candi Pulau Sawah menurutnya sangat penting dilestarikan karena menjadi salah satu bukti keberadaan Kerajaan Malayu Dharmasraya.

Jembatan Sungai Dareh di atas sungai Batang Hari di Dharmasraya. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Ia mengatakan dalam pelestarian cagar budaya harus ada kerja sama dan sinergi semua kepentingan, baik pusat maupun daerah dan masyarakat. Itu bisa dilihat dari pemetaan zonasi situs Pulau Sawah yang terbagi menjadi zona inti, zona penyangga, dan zona pengembang.

Di Zona inti yang akan bekerja adalah BPCB, untuk penyangga bisa dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Dharmasraya dengan membuat taman-taman.

“Sedangkan zona pengembang bisa dikelola oleh masyarakat atau mitra lain dengan membuat sarana dan prasarana penunjang seperti parkiran, pusat kuliner, atau sarana reakreasi dan bermain,” katanya.

Saya membayangkan ada proyek pencarian satu lagi Archa Bhairawa yang terjatuh di pinggir Batanghari untuk melengkapi kemegahan Dharmasraya. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)