Usaha Rendang Merambah Penjualan Online

Pekerja sedang memasak rendang telur di sebuah usaha di Kampung Rendang Payakumbuh (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

PENJUALAN produk secara online semakin mudah karena didukung akses internet dan kecepatan layanan jasa pengiriman barang. Kondisi ini pun dimanfaatkan para pengusaha kuliner khas Minang kemasan di Kota Payakumbuh.

Payakumbuh adalah kota tempat usaha kuliner khas Minang bersemi sejak dulu. Penduduknya sangat kreatif menciptakan jenis-jenis makanan baru turunan dari makanan tradisional. Boleh disebut, kota ini surga kuliner khas Minang, tidak bisa ditandingi daerah lain di Sumatera Barat.

BACA JUGA: TAK SATU RENDANG DI MINANG

Nah, yang menarik di Kota Payakumbuh ada satu lokasi yang disebut “Kampung Rendang”. Ini adalah kawasan sorga rendang yang terletak di Jalan Tan Malaka. Nama Tan Malaka juga menambah nilai historis tempat tersebut, karena nama jalan ini tidak sekadar label seperti banyak nama pahlawan dipakai untuk jalan di Indonesia.

Tapi ini betul-betul jalan menuju rumah gadang dan kampung kelahiran Tan Malaka, pahlawan nasional yang legendaris dengan bukunya yang keren, “Madilog”. Rumah kelahiran Tan yang terletak di Pandan Gadang memang sudah masuk wilayah Kabupaten Limapuluh Kota, namun hanya berjarak 12 km dari Kampung Rendang di jalan tersebut.

Jadi, jika Anda berwisata ke Kota Payakumbuh, bisa mampir ke rumah Tan Malaka dan pulangnya singgah di Kampung Rendang.

Seorang pekerja memasak rendang telur. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Membahas rendang pasti menerbitkan selera, sebab rendang adalah makanan favorit. Bagi orang Minang sendiri, rendang adalah menu kebanggaan. Bahkan mereka selalu mengirimkan rendang kepada korban bencana gempa dan tsunami yang terjadi di daerah lain.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengkoordinir pengiriman rendang ke Aceh, ke Lombok, dan kepada korban gempa-tsunami di Palu-Donggala. Pengiriman rendang tidak sedikit, berton-ton hasil racikan ibu-ibu yang melakukan dengan gotong royong.

Sebenarnya tidak hanya untuk korban bencana, rendang juga dijadikan bekal untuk jemaah haji setiap tahun.

Sekarang rendang tidak lagi menjadi kebanggaan Ranah Minang, tetapi sudah kebanggaan bangsa Indonesia. Ini setelah CNNGo.com menempatkan rendang urutan ke-11 dalam daftar “50 Makanan Terlezat Dunia” pada postingan 21 Juli 2011. Kemudian urutan pertama “50 Makanan Terlezat Dunia” pilihan 35.000 pembaca melalui Facebook pada postingan 7 September 2011.

BACA JUGA: RENDANG MASUK 50 MAKANAN TERBAIK DUNIA

Sejak itu nama rendang meroket di dunia. Dampaknya terjadi ‘booming’ usaha rendang di Ranah Minang dan orang Minang di perantauan. Tak terkecuali di Payakumbuh, beberapa usaha rendang yang sudah ada pun semakin bersemangat, terutama di Kampung Rendang.

Rendang telur sebelum dikemas. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Kampung Rendang yang terletak di Kecamatan Lampasi sebenarnya baru diresmikan dua tahun silam dengan pemasangan gapura. Dijadikan kampung rendang karena sebelumnya di kiri-kanan Jalan Tan Malaka tersebut sudah lama hadir puluhan toko usaha rendang kemasan. Sebut saja usaha rendang “Erika”, “Dapoer Rendang Riry”, dan “Yolanda”.

Bisnis rendang memang selalu berkibar di Payakumbuh. Terutama rendang kering dengan aneka jenis bahan seperti telur, daging sapi, daging ayam, ubi, dan ikan. Rendang memang masakan tradisional seluruh daerah di Sumatera Barat. Namun hanya Payakumbuh yang memiliki masakan tradisional rendang kering yang berbahan bukan daging sapi.

BACA JUGA: SEPERTI APA RUMAH KELAHIRAN TAN MALAKA

Daerah lainnya hanya memiliki rendang basah daging sapi atau kerbau. Rendang basah karena tidak tahan, paling lama dua minggu, itupun jika sering dipanaskan. Karena itu rendang basah hanya sering disajikan langsung di rumah makan atau restoran.

Meski yang dimaksud CNNGo.com adalah rendang basah, namun pamor rendang kering ikut terbawa, karena memakai nama “rendang”. Usaha rendang kering di Payakumbuh pun menyesuaikan dengan juga memproduksi rendang basah.

MENJUAL ONLINE

Haris Budiman, 48 tahun, pemilik “Dapoer Rendang Riry”. Ia memulai bisnis bersama istrinya Ratna Juwita, 36 tahun, pada 2002. Semula ia memiliki usaha peternakan ayam potong, tapi bisnis ayam potong menurutnya memiliki kekurangan. Meski saat beruntung hasilnya lebih besar, tapi ketika rugi juga besar.

“Kami pindah ke usaha rendang telur, selain mudah dibuat, bahan bakunya juga murah dan harganya juga bisa dijual murah, dan modalnya hanya tekad,” ujar Haris yang memulai usaha dengan merendang 40 butir telur ayam.

Dapoer Rendang Riry (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Tapi di bisnis baru ini tidak semudah membalik telapak tangan. Haris mengenang betapa susahnya waktu itu mengenalkan produk tersebut kepada orang. Apalagi ke luar Kota Payakumbuh.

Rendang telur adalah makanan tradisional masyarakat Payakumbuh. Tidak semua orang di luar Payakumbuh mengenalnya. Bahkan orang Payakumbuh sendiri banyak yang tidak kenal. Begitu disebut “rendang telur” orang langsung menduga itu rendang daging ditambah telur. Tapi tidak ada daging dan telur terlihat di sana.

Waktu itu, Haris mengenang, baru empat atau lima orang pengusaha rendang telur rumahan di sekitar daerahnya di Lampasi. Belum seperti sekarang dengan lebih 30 usaha.

Tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain terus berusaha mengenalkan produk rendang telur ke luar daerah. Sebab jika mengandalkan dijual di rumah, pasarnya sedikit. Ia kemudian memasok ke pusat oleh-oleh di Bukittinggi, Padangpanjang, dan Lubuk Bangku di pinggir jalan raya menuju Riau.

“Kami berani dengan sistem konsinyasi, diletakkan dulu, kalau sudah laku baru dibayar kemudian, sedangkan yang tidak laku dikembalikan kepada kami, itu perjanjiannya, tapi resikonya banyak yang menunggak, bahkan ada yang masih menunggak sampai sekarang,” katanya.

Produk Dapoer Rendang Riry, rendang telur dan rendang daging. (Sumber Foto: rendangriry.com)

Sistem ini, meski tidak membuat Haris rugi, tapi untungnya sedikit karena banyak yang menunggak tersebut. Lama kelamaan karena rendang telur mulai dikenal, usahanya terus berkembang.

Kemudian jenis rendang bertambah menjadi tujuh macam. Selain rendang telur ada rendang daging basah, rendang belut, rendang suir daging, rendang suir ayam, rendang ubi kayu campur teri, rendang paru, dan rendang jamur tiram.

“Menjamurnya bisnis rendang kemudian di sini tetap menguntungkan kami, karena produk kami sudah lama dan punya nama,” ujarnya.

Kini usahanya makin maju dengan belasan pekerja. Sehari rata-rata memproduksi 80 kilogram rendang, terutama rendang daging dan rendang telur. Mengolah 10 kg daging, 300 butir telur, dan 400 butir kelapa. Rendang daging basah yang dikemas dalam aluminium foil bisa tahan sampai empat bulan.Pada waktu liburan, Ramadan, dan Idul Fitri omsetnya menanjak dua kali lipat, bahkan lebih.

Ketekunan Haris dan istrinya mengelola usaha berbuah penghargaan dari Kementerian Perindustrian. Pada 2014 ia dibawa ke Hongkong mengikuti Hongkong Food Expo di Hongkong Convention and Exhibition Centre, Wan Chai. Pada 2015 usahanya meraih piagam “One Village One Product” (OVOP) kategori Bintang 4 (Empat).

BACA JUGA: MASAKAN PADANG TETAP SEHAT, INI TEMUAN AHLI GIZI

Selain menjual rendang di outletnya, Haris juga melayani pembelian secara online melalui situsnya rendangriry.com. Di situsnya tertera, “Cita Rasa Minang Favorit Dunia” dan “Kami Siap Antar ke Seluruh Nusantara”. Ia menawarkan aneka produk rendang, dan makanan khas Minang lainnya dengan kemasan yang menarik.

“Kami baru melayani 20 persen melalui online, sedangkan 80 persen masih melalui outlet,” katanya kepada JurnalisTravel.com.

Pemesan melalui online kebanyakan dari Pekanbaru, Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Bandung. Pengiriman dilakukan melalui jasa kurir sesuai pilihan pemesan.

1 TON PER BULAN PENJUALAN ONLINE 

Di sebelah usaha “Dapoer Rendang Riry” adalah “Rendang Erika”. Usaha ini didirikan Fransiska atau Rika, 36 tahun. Usaha Rendang Erika salah satu usaha rendang yang terkenal di Payakumbuh. Nama “Erika” adalah gabungan bersama nama ibunya Evarida Eriani atau Eri, karena mereka memulai usaha berdua.

Rika memulai usahanya pada 2001 dengan menjual rendang telur bermodal Rp50 ribu. Ya, Rp50.000! Ia membuat rendang telur dengan modal sebesar itu dan menjajakannya berkeliling kampung dengan sepeda motor.

Pada awal 2000, Rika adalah penjual susu kedelai buatan sendiri dengan bersepeda motor ke kampung-kampung di sekitar Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Jelajah sepeda motornya dengan “garendong” atau kotak jualan di jok belakang hingga ke Kubang dan Dangung-Dangung di Kabupaten Limapuluh Kota.

Memasak rendang sapi. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Untuk menambah produk jualan, ia membuat rendang telur. Rika membuat rendang telur dengan resep dari neneknya yang sering membuatnya untuk makanan di rumah. Modal Rp50 ribu itu untuk membeli 15 butir telur. Rika membuat dengan ibunya. Rendang telur tersebut dibungkus dengan plastik setengah ons dengan harga per bungkus Rp1.000.

“Awalnya agak susah mengenalkan ke orang-orang, mereka selalu bertanya mana telurnya, karena rendang telur mirip kerupuk, bahkan saat saya buka satu bungkus untuk dicoba gratis saja ada yang nggak mau,” kenangnya.

Rika baru lega jika di satu kampung ada yang membeli, meski hanya sebungkus. Berarti ada harapan, minimal orang itu akan membeli lagi dan akan mempromosikan ke tetangganya.

Ibu Rika, Eri, juga mengalami hal serupa. Ia membawa usaha barunya ini ke beberapa pasar di Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar, dan Piladang. Ia naik bus setiap hari pasar membawa rendang telur yang belum bermerek itu. Hasilnya mengecewakan karena banyak yang tidak melirik.

Bahkan suatu hari Eri pergi ke pasar Bangkinang, Provinsi Riau mencoba berjualan di sana. Menyedihkan, meski sudah datang menumpang bus lebih 110 km dari Payakumbuh tidak ada satupun yang terjual. Orang tidak tahu rendang telur. Bahkan heran dan bertanya di mana unsur telur di rendang tersebut.

Namun Rika dan Eri tidak patah arang. Bahkan terus mencoba hingga masyarakat mengenal dan usaha rendang telurnya mulai laris.

“Kami akhirnya bisa membeli satu sepeda motor lagi untuk ibu membawa rendang telur ke pasar,” kata Rika.

Rika sendiri terus masuk kampung keluar kampung menjajakan susu kedelai dan rendang telur, dari rumah ke rumah dan mengisi toko. Lama kelamaan omset rendang terus meningkat, mengalahkan susu kedelai. Sehari omset rendang telur Rp500 ribu, sedangkan susu kedelai Rp150 ribu.

Produk kemasan “Rendang Erika”. (Sumber Foto: Facebook “Rendang Erika”)

Melihat kenyataan itu dan prospek di bisnis rendang telur, akhirnya Rika dan Eri memilih fokus ke bisnis rendang dan meninggalkan susu kedelai. Mereka menambah produk dengan rendang suir, rendang paru, dan rendang ubi campur teri. Tapi yang paling laris tetap rendang telur.

Selama lima tahun Rika dan Eri tetap melakoni bisnis antar langsung ke konsumen dengan sepeda motor. Pada 2006 mereka memilih berhenti berkeliling sendiri dan memilih melayani pembeli di rumah. Itu karena bisnis mereka terus berkembang dan pembeli mulai banyak datang langsung ke outlet-nya di rumah.

Meski di awal usaha kemasannya tak bermerek, tapi plang kayu di rumah mereka sejak awal sudah terpasang merek usaha “Rendang Erika”.

Selain itu “Rendang Erika” juga menjadi pemasok rutin di toko makanan khas minang di Padang seperti Christine Hakim, Sherly, dan Rohana Kudus. Sedangkan untuk kota lain seperti Jakarta dibeli langsung pihak lain.

“Sekarang tidak ada orang yang tidak kenal rendang telur, bisnis rendang ini mulai menanjak sejak 2008 dan puncaknya 2011 sampai sekarang, rendang di sini sangat laris,” kata Rika senang.

Kini dalam sehari “Rendang Erika” memproduksi 200 kilogram rendang, 50 kilogram di antaranya rendang daging basah. Rendang yang dijual terdiri dari rendang telur, rendang daging basah, rendang suir, rendang paru, dan rendang ubi. Dijual dalam kemasan yang menarik.

Untuk harga, rendang telur Rp60 ribu per kilogram, rendang suir Rp250 ribu per kilogram, rendang paru Rp250 ribu per kilogram, rendang daging basah Rp250 ribu per kilogram.

Selain menjulal langsung, Rendang Erika juga melayani penjualan secara online. Bahkan sudah ‘fifty-fifty’.

“Pembelian secara online sekarang semakin banyak, karena pengirimannya lebih mudah melalui jasa pengiriman, untuk pembelian online sekarang rata-rata sebulan 1 ton rendang dan pembelian di toko juga sekitar 1 ton rendang,” kata Firdaus, 24 tahun, putra Rika yang ikut mengelola usaha “Rendang Erika”.

Yang ia maksud adalah rendang dengan aneka produk. Tidak hanya rendang telur, tetapi juga aneka produk rendang lainnya, seperti rendang suir, rendang paru, rendang ubi, rendang belut, dan bahkan rendang jengkol. Tentu saja sekarang yang favorit rendang daging (basah) dalam kemasan plastik.

Pekerja sedang memasak rendang telur. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Rendang Erika melayani penjualan online lebih banyak melalui halaman Facebook “Rendang Telur Erika”. Bahkan di halaman tersebut usaha ini sering melakukan promo untuk menarik pembeli, seperti “Diskon Ongkos Kirim 50 %”, “Hari Ini Free Ongkos Kirim”, dan “10 Orang Pertama Dapat Bonus”.

“Kami melayani pemesan online melalui perusahaan jasa pengiriman yang dipilih pemesan,” kata Firdaus.

Nah, jika Anda ingin menikmati aneka rendang khas Payakumbuh ini, plus memperkaya pengetahuan selera Anda terhadap aneka kuliner yang memakai nama “rendang”, tapi bahannya bukan dari daging, silakan pilih dua opsi.

Pertama, datang traveling langsung ke Kota Payakumbuh sambil melakukan wisata sejarah ke Rumah Kelahiran Tan Malaka dan juga bisa dilanjutkan menikmati objek wisata Lembah Harau yang terkenal.

Kedua, cukup memesan secara online dan menunggu antaran rendang mengetuk pintu rumah Anda. (Febrianti/JurnalisTravel.com)