Tak Satu Rendang di Minang

Rendang Tanahdatar. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/JurnalisTravel)
Rendang Tanahdatar. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/JurnalisTravel)

BEBERAPA tahun lalu Indonesia “demam” rendang. Terlebih di Provinsi Sumatera Barat, daerah asal masakan rendang. Beberapa festival rendang digelar dan usahawan gencar berpromosi.

Ini terjadi setelah CNNGo.com yang memilih rendang urutan ke-11 dalam daftar “World’s 50 most delicious foods”pada posting 21 Juli 2011 dan No. 1 “Your pick: World’s 50 most delicious foods” pilihan 35 ribu pembaca pada posting 7 September 2011.

Redaksi CNNGo.com menilai rendang sebagai kesederhanaan pengolahan daging sapi yang direbus dengan santan selama beberapa jam dengan campuran sejumlah bumbu yang memunculkan aroma dan rasa gurih.

Rendang Agam dan Limapuluh Kota. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/Jurnalis Travel)
Rendang Agam dan Limapuluh Kota. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/Jurnalis Travel)

Rendang adalah masakan tradisonal suku bangsa Minangkabau di Sumatera Barat. Tak ada penelitian sejarah yang bisa dipegang kapan ditemukan, yang pasti jauh sebelum abad ke-15.

Saya katakan demikian, karena penduduk Negeri Sembilan, Malaysia yang berasal dari Minangkabau mencari daerah baru seizin Raja Pagaruyung pada abad ke-15, juga telah membawa rendang sehingga jadi makanan tradisional mereka juga.

Melihat adat-istiadat orang Minangkabau yang menempatkan memotong kerbau sebagai bagian ritual penting dalam sebuah pesta, saya pikir rendang hampir sama tuanya dengan budaya Minangkabau sendiri.

Rendang Padangpanjang. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/Jurnalis Travel)
Rendang Padangpanjang. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/Jurnalis Travel)

Rendang sebenarnya tak hanya satu bentuk. Umumnya orang luar Sumatera Barat mengenal hanya satu rendang yang mereka kenal dengan “Rendang Padang”. Tapi di Sumatera Barat rendang sebenarnya sungguh sangat beragam.

Dari bahan utama saja, ada rendang daging kerbau dan daging sapi. Banyak orang menilai rendang daging kerbau lebih enak karena seratnya lebih kasar. Bahkan ada juga rendang kayu. Ini masakan khas satu nagari (desa) di Payakumbuh yang betul-betul merendang kayu yang dipotong-potong kecil. Tapi ini tak boleh dimakan, karena hanya untuk hiasan makanan.

Rendang tradisional juga tak melulu berisi daging. Kebanyakan orang Minang mencampur daging dengan kentang kecil, sebesar kelereng, dan kacang merah. Rasa kentang dan kacang merah tak kalah enak dibanding daging.

Masing-masing daerah di Sumatra Barat juga memiliki rendang yang beda. Secara umum, rendang masih berbahan sama, potongan daging, santan kelapa, cabe giling, jahe, bawah merah, bawah putih, lengkuas, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, dan serai.

Rendang Kota Pariaman. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/Jurnalis Travel)
Rendang Kota Pariaman. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/Jurnalis Travel)

Tapi ada sejumlah bumbu yang berbeda dan dimasak dengan cara berbeda. Hasilnya, selain warna rendang, juga rasa yang berbeda.

Pertengahan Desember 2011 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Barat menggelar festival memasak rending (lomba ini kemudian hampir tiap tahundigelar di Padang). Empat belas kota dan kabupaten mengirim tim. Perbedaan rendang tiap daerah terlihat jelas, apalagi setelah dicicipi.

Secara umum rendang di Sumatera Barat bisa dibagi dua, rendang dari Wilayah Darek dan Wilayah Pesisir. Darek adalah daerah-daerah tua tempat asal Kerajaan Minangkabau, seperti Kabupaten Tanahdatar, Kabupaten Agam, Limapuluh Kota, Payakumbuh, Padangpanjang, dan Bukittinggi. Sedangkan Pesisir seperti Kota Pariaman, Kabupaten Padangpariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Pasaman,dan Pasaman Barat.

Rendang dari Darek berbumbu lebih sederhana, juga teknik memasaknya. Rasa rendang juga terasa manis tanpa banyak aroma rempah. Warna rendang Darek lebih gelap, bahkan ada yang hitam.