Masjid Tuha Lam’ura dalam Memori Warga

masjid aceh besar
Masjid Tuha Lam’ura memiliki empat tiang soko guru berbentuk persegi delapan. (Foto: Rina Rahma)

Oleh: Rina Rahma

MESKI tua, Hasyim Walad, warga Desa Ateuk Lamphang, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar masih bisa mengingat masa lalu dengan baik. Masa kecil yang dihabiskannya dengan bermain dan juga membantu orang tua. Setelah dewasa ia pernah menghabiskan masa mudanya dengan bekerja.

Kami biasa memanggilnya dengan sebutan Chik Asyem yang artinya “Kakek Hasyim”. Jika kami menyapa, ia masih bisa membalas dengan senyuman yang lembut merekah dari bibir tuanya.

Kulitnya yang mulai keriput dimakan usia dan terkadang tubuhnya lemah karena sering sakit-sakitan seakan ia lupakan ketika kami menanyakan sejarah Masjid Tuha Lam’ura. Ia bersemangat menceritakannya sepanjang ingatannya sejak kecil terkait kenangan dengan masjid tersebut.

Baginya masa lalunya sangat indah, bagaimana dia mengingat cara masyarakat bekerja sama untuk membangun sebuah tempat ibadah, yakni masjid yang dibangun dengan cara bergotong royong melibatkan semua kalangan.

masjid aceh besar
Memiliki dua tingkat atap, pertama berukuran paling besar dan paling atas berukuran lebih kecil. (Foto: Rina Rahma)

Menurutnya, masjid tersebut sudah dari dulu ada, namun tahun pembuatannya tidak diketahui.

“Sejak saya kecil masjid ini sudah ada, dulu dijadikan tempat Salat Jumat,” katanya.

Masjid Tuha Lam’ura, cerita Kasyim, dibangun dengan cara bergotong-royong. Selain tempat salat masjid ini juga dijadikan sebagai tempat untuk bermusyawarah oleh warga yang tinggal di sekitar masjid.

Masjid Tuha Lam’ura berbentuk unik. Bangunannya mirip arsitektur jawa yang identik dengan arsitektur Hindu-Buddha. Memiliki dua tingkat atap. Atap pertama berukuran paling besar dan atap paling atas berukuran lebih kecil.

Informasi dari masyarakat, masjid ini dibangun dengan swadaya dan gotong royong warga enam desa dalam Mukim Ateuk Monpanah yang diprakarsai oleh Tgk. Chik.

Enam desa tersebut adalah Desa Ateuk Monpanah, Desa Ateuk Slang Hasan, Desa Ateuk Lam Phang, Desa Ateuk Cut, Desa Ateuk Lamura, dan Desa Ateuk Lam Puut

Sayang kapan tahun pembangunannya tidak diketahui dan tidak ditemukan satu sumber pun yang mencatat dan mengingatnya. Namun masjid tersebut lebih dulu dibangun dari Masjid Tgk Fakinah di Blang Miro.

masjid aceh besar
Di sekeliling atap tumpang ke dua terdapat pagar dari kayu berprofil yang bentuknya sama dengan pagar yang terdapat pada mimbar. (Foto: Rina Rahma)

Sekarang Masjid Tuha Lam’ura sudah tidak difungsikan lagi untuk kegiatan Salat Jumat karena di desa tersebut telah dibangun masjid baru dengan nama Masjid Jamik Kemukiman Ateuk Monpanah.

Masjid Tuha Lam’ura memiliki empat tiang soko guru berbentuk persegi delapan. Keempat tiang menjadi penompang atap. Kemudian ditambah enam belas tiang pembantu yang dipasang di tiap-tiap segi ruang untuk membantu keseluruhan bangunan supaya seimbang dan kuat.

Di sekeliling atap tumpang ke dua terdapat pagar dari kayu berprofil yang bentuknya sama dengan pagar yang terdapat pada mimbar. Di bagian bawah puncak atap tumpang tepat di tengah terdapat hiasan “jantung pisang”.

Pintu masuk ruang utama terletak di sisi timur berupa teras berpagar dengan pintu gerbang besi. Kemudian dilanjutkan dengan tiga anak tangga naik dari luar dan tiga anak tangga turun ke ruang dalam.

Mimbar berupa lantai yang ditinggikan dengan tiga anak tangga, empat tiang tembok dan pagar kayu berprofil.

Di luar bangunan sebelah Timur Laut terdapat sumur yang bersebelahan dengan bak penampungan air untuk wudu. Bak itu diberi atap bertiang empat.

masjid aceh besar
Di luar bangunan sebelah Timur Laut terdapat sumur yang bersebelahan dengan bak penampungan air untuk wudu. (Foto: Rina Rahma)

Di sebelah Selatan dan Barat Daya bangunan terdapat kumpulan makam kuno yang sudah hampir tidak terlihat karena nisan-nisannya terbenam ke dalam tanah.

Salah satu nisan berbentuk pipih bersayap berukuran kecil. Di depan masjid terdapat kelompok makam dengan nisan berupa batu alam (batu kali). Sedangkan di belakang bangunan masjid (sisi Barat) terdapat sebuah areal makam berpagar, namun tidak ditemukan lagi nisan-nisannya.

Mesjid ini semula dibangun beratap rumbia dengan bentuk atap Iimas tumpang dua. Kemudian diganti dengan atap seng.

Di Provinsi Aceh banyak terdapat peninggalan sejarah berupa benda kuno seperti rumah, masjid, benteng, dan nisan. Sekarang bangunan-bangunan tersebut ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah. Namun masih ada juga beberapa bangunan yang belum dikelola pemerintah dan hanya dirawat oleh masyarakat setempat.

Dewasa ini sebagian ingatan masyarakat Ateuk tentang Masjid Tuha Lam’ura mulai mengabur seiring waktu. Sedangkan generasi muda ada yang tidak tahu di mana Masjid Tuha Lam’ura. Hal itu terbukti ketika seorang pemuda desa yang tinggal di dekat masjid tua tersebut ditanyai.

Seorang pemuda yang tinggal di Desa Ateuk Lamphang yang saya tanyai mengaku tidak tahu tentang masjid tersebut. Ia juga tidak tahu sejarah mesjid itu. Menurutnya Masjid Tuha Lam’ura hanyalah sebuah benda kuno yang tidak ada manfaatnya.

Sebenarnya masjid ini sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya dan dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh. Pada plangnya yang berdiri di depan masjid tertulis bangunan tersebut berada di Desa Ateuk Mon. (Rina Rahma)

(Tulisan feature ini hasil Pelatihan Jurnalisme Warga yang diadakan The Samdhana Institute dengan peserta pemuda komunitas adat se-Indonesia dengan trainer Syofiardi Bachyul Jb secara online pada 31 Agustus -21 September 2020. Rina Rahma adalah mahasiswa dan aktivis Yayasan Rumpun Bambu Indonesia di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh).