Luwuk 18 Jam

luwuk
Tulisan LOVE kemilau dari dengan latar Kota Luwuk dan teluknya di malam. (Foto: Syafrizaldi Aal)

WAKTU nan berlari. Delapan belas jam di Luwuk tentu tak akan menuntaskan hasrat tualang.  Tapi sejarah alam Luwuk nan romantis menyisakan harapan untuk kembali.

Malam baru saja jatuh di pangkuan kota Luwuk, Sulawesi Tengah. Sebuah kota teluk yang menghadirkan pemandangan laut dan pegunungan sekaligus.

Di teluk, kapal-kapal niaga datang dan pergi silih-berganti.  Suara ombak terdengar lembut menghempas pantai. Di perbukitan lampu-lampu mulai benderang, berkelip tersapu angin yang melambaikan pepohonan.

Mestinya suasana sore masih bisa saya nikmati jika saja tidak tertinggal penerbangan dari Makassar pagi itu, 15 Desember 2019. Tapi, untungnya penerbangan ke Luwuk masih menyisakan pesawat siang.

Sahabat saya, Anis tampak tak sabar.  Dia sudah menjanjikan pemandangan malam dari puncak perbukitan. Berkendaraan sepeda motor, saya dibonceng Anis menuju Keles.

Keles berarti pinggir jurang.  Dari bibir jurang itu pemandangan terhampar luas pada teluk Luwuk nan benderang.

“Kalau listrik padam pemandangan dari Keles biasa saja, untungnya listrik masih menyala,” kata Anis.

Jalanan kota yang agak sempit memaksa kami harus menikung berkali-kali. Jalan di kota banyak yang satu arah, membuat pengemudi kendaraan harus melewati jalan yang melingkar.

Pemerintah menetapkan hal itu lantaran kini Luwuk mulai berbenah, menjadi salah satu andalan wisata Sulawesi Tengah.

Kami sampai di Keles setelah hampir setengah jam berkendara.  Di bibir jurang itu, beberapa warung berjejer rapi.  Anis mengajak saya mengunjungi Kafe Kasih Sayang.

Kafe Kasih Sayang dengan pemandangan Kota Luwuk yang gemerlap di malam hari. (Foto: Syafrizaldi Aal)

“Di Kasih Sayang saja ya? Biar lebih romantis,” katanya tersenyum.

Sebuah bangunan menjorok ke tengah jurang.  Saya tak bisa mengelakkan pandangan mata pada tulisan LOVE yang berhias lampu.  Huruf O, disulap pengelola menyerupai gambar hati.  Ukurannya besar, sepuluh orang muat berdiri di huruf O itu. Tapi pengelola hanya mengizinkan dua sampai tiga orang saja.

Dua orang pengunjung tampak sedang berswafoto di bangunan itu.  Saya memerhatikannya dari bangunan utama beratap rumbia.  Menuju huruf O, pengunjung bisa melewati dua buah jembatan kayu yang juga berhias lampu.

“Lihat, kota Luwuk,” bisik Anis.

Dia menujuk ke kejauhan.  Hamparan kota yang gemerlap.  Lampu dari kapal-kapal yang hilir-mudik menambah keriangan Anis.  Pun saya yang kini mulai menggigil lantaran dingin.

Pemandangan itu mengingatkan saya pada pengembaraan Andres de Urdanette, pelaut Spanyol pertama yang berkunjung ke Banggai tahun 1532.  Dia mungkin pernah menginjakkan kaki di Keles untuk memandang ke teluk Luwuk.

Dari Keles, saya mencari lokasi di mana kami sebelumnya melahap dua ekor ikan bakar. Anis tersenyum sembari menujuk ke arah timur, tepat di belakang dermaga.  Pun di dermaga itu, bisa jadi Cornelis de Houtman pernah sandar pada 1596.

Pelaut Belanda itu mengemban misi penjelajahan yang lantas melahirkan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, kongsi dagang Belanda di Hindia Timur pada 1602.  Ini yang lantas menjadi cikal kolonialisme di Nusantara.

Saya sesungguhnya masih ingin berlama-lama di Keles. Tapi embun mengusir kami untuk segera kembali ke penginapan.  Saya meringkuk dalam selimut usai berjanji dengan Anis untuk menyambangi keindahan air terjun Piala esok hari.

Jembatan dengan empat balok kayu harus ditelusuri untuk menikmati air terjun. (Foto: Syafrizaldi Aal)

Di Bandar Udara Syukuran Aminuddin Amir, Luwuk, saya menyimpan pakaian basah di dalam ransel. Kunjungan singkat ini tentunya sungguh memacu semangat untuk kembali suatu saat nanti.

Anis melepas kepergian saya dengan senyum. Senyum yang sama ketika dia dan Ancu memandang saya saat meniti jembatan kecil di air terjun Piala tadi pagi. Ancu sengaja memilih air terjun itu untuk kami kunjungi lantaran keterbatasan waktu.

Lokasi air terjun tak berapa jauh dari pusat kota. Kami berkendara hampir setengah jam di jalan yang mendaki terjal. Kendaraan kami parkir persis di pintu masuk yang kini sudah diberi pagar pengaman dari besi oleh pengelola Pembangkit Listrik Mikro-hidro (PLTM) Hanga-Hanga.

Di sini, saya justru mengingat Profesor Emil Salim, menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada era Presiden Soeharto.  Potensi luncuran air di Luwuk tentunya sangat penting bagi pembangkit listrik.

Pada 13 April 1987 Prof. Emil Salim meresmikan PLTM Hanga-Hanga berkapasitas 1.600 kilowatt dan PLTM Sawidago berkapasitas 120 Kilowatt di Luwuk.  Keduanya menjadi sumber energi yang hebat mumpuni. Kehebatan itu sudah saya saksikan malam tadi di Keles.

Jembatan yang saya titi terdiri dari empat buah balok kayu yang disusun sejajar.  Seutas tali menggantung menjadi pegangan. Saya harus berhati-hati jika tak mau tercebur ke dalam air deras yang menanti tiga meter di bawah titian.

Air terjun Piala terdiri dari setidaknya lima undakan utama.  Saya sudah berada di undakan kedua saat meniti. Suara gemuruh air terdengar tak henti saat saya sampai di ujung titian. Masing-masing undakan menyediakan kolam-kolam besar untuk mandi. Tapi pengunjung dilarang mandi di kolam-kolam yang berbahaya.

Luwuk
Pemandangan Air Terjun Piala yang memukau. (Foto: Syafrizaldi Aal)

“Masih ada satu tantangan lagi,” kata Anis.

Dia menuntun saya menyeberangi undakan kedua untuk sampai di kolam utama.  Dasar air tampak kehijauan dengan bebatuan kapur yang agak licin. Untungnya tersedia seutas tali yang membantu pengunjung menyeberang. Tali terikat pada pokok kayu, akarnya mencakar dalam.

Percikan air telah membuat saya basah kuyup. Anis dan Ancok tak tahan untuk berendam. Kanopi pepohonan menghalangi sinar matahari jatuh langsung ke permukaan air. Alam serindang itu memunculkan aroma magis yang kuat. Saya merinding, membayangkan seandainya hanyut terseret arus di batu-batu berundak.

Percakapan kami berteman bising suara angin dan air. Ancu menceritakan banyak air terjun di Luwuk. Selain air terjun Piala, ada air terjun Laumarang. Di sana, lanjutnya, terjunan airnya lebih kecil tapi cantik.

“Laumarang sesungguhnya masih satu aliran dengan Piala. Tapi posisinya lebih ke hulu. Ke sana harus jalan kaki hampir dua jam,” ujar Ancu.

Selain keindahan air terjun, Luwuk juga kaya dengan pemandangan laut.  Beberapa pulau berikut keramahan terumbu karang mestinya dapat saya kunjungi, tapi waktu yang singkat membuat saya hanya memprioritaskan destinasi yang gampang diakses.

“Belum lagi sampai di Bukit Teletubbies, di sana pemandangannya persis bukit-bukit dengan rerumputan di film anak Telettubies.  Lokasinya tak jauh dari Keles,” kata Anis.

Saya hanya tersenyum. Sebuah daun kering jatuh persis di ujung kamera saya. Mungkin itu pertanda agar dia bisa datang lagi, menikmati sejarah alam Luwuk nan menawan. (Syafrizaldi Jpang)