Berkunjung ke Rumah Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

Koto Gadang. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

SALAH satu kampung yang amat layak dikunjungi di Sumatera Barat adalah Nagari Koto Gadang di Kabupaten Agam yang berada di sebelah barat Kota Bukittinggi. Kampung permai  di seberang Ngarai Sianok dengan panorama yang indah dari Gunung Merapi dan Gunung Singgalng. Udaranya juga sejuk.

Tidak hanya kampung yang indah, juga tempat lahir sejumlah tokoh di Indonesia seperti perdana menteri Sutan Syahrir, Agus Salim, dan juga Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

Memasuki Koto Gadang seperti berkunjung ke kawasan perumahan yang masih bernuansa era kolonial. Di sepanjang  jalan masuk ada barisan pohon cemara tua. Sementara rumah-rumah lama yang dibangun berderet rapi dengan gaya arsitektur awal abad ke-20 yang masih terpelihara dengan baik.

Di persimpangan jalan masuk ke Nagari Koto Gadang  di depan Balai Adat berupa Rumah Bagonjong, ada tanda penunjuk arah dengan nama Jalan Sutan Syahrir, Jalan Roehana Koedoes dan Jalan Agus Salim. Di sinilah jalan-jalan bernama pahlawan benar-benar tempat pahlawan itu berasal.

Papan penunjuk jalan ini juga sebagai penanda di jalan arah rumah kelahiran sang tokoh. Rumah Roehana Koeddoes tidak jauh dari persimpang, hanya berjalan kaki di jalan kecil yang beraspal. Rumahnya  masih seperti dulu, rumah tua bercat kuning dengan pintu dan jendela coklat tua. Tapi rumahnya dikunci, tidak ada yang menghuni.

Roehana Koeddoes.

“Sejak ada rencana pemerintah akan memugar rumah Roehana Koedoes, rumah itu dikosongkan,” kata Bayu, warga Koto Gadang yang tinggal tidak jauh dari rumah Roehana Koeddoes.

Saya sebelumnya sudah dua kali ke rumah Roehana Koedoes beberapa tahun lalu. Saat itu rumahnya ditinggali kerabat Roehana Koeddoes, Adi Zulhadi dan istrinya Yusni Salmawati. Adi Zulhadi adalah cucu Ratna, adik Roehana Koedoes.

Yusni saat itu memperlihatkan kain-kain hasil sulaman tangan Roehana Koedoes dan lonceng yang dulu digunakan Roehana untuk penanda jam masuk, istirahat, dan keluar bagi murid-muridnya di sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang.

KOTO GADANG ZAMAN KOLONIAL

Di dalam rumah Roehana Koedoes saat itu saya lihat di rungan tamu ada beberapa foto Sutan Syahrir yang tergantung di dinding, salah satunya foto Sutan Syahrir di depan rumah Roehana saat menjadi perdana menteri dan berkunjung ke Koto Gadang. Roehana Koeddoes adalah kakak Sutan Syahrir satu ayah tetapi lain ibu.

Roehana Koeddoes anak pertama Muhamad Rasyad Maharajo Sutan dengan Kiam istri pertamanya. Muhamad Rasyad memiliki enam istri, Siti Rabiah ibu Syahrir adalah istri kelima.

Rumah Roehana Koeddoes.(Foto: Febriant/ JurnalisTravel.com)

Sejarawan Mestika Zed mengatakan, pada abad ke-19 orang Koto Gadang lebih duluan beradaptasi dengan ide-ide modernisasi yang dibawa Belanda, terutama yang berakar dari pendidikan. Itu memungkinkan karena pada abad ke-19 Belanda memperkenalkan perkebunan tanaman kopi dan tanaman kopi cocok untuk dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang dan Merapi.

Belanda memerlukan gudang kopi untuk mengumpulkan kopi rakyat yang akan dikirim ke Padang. Untuk itu Belanda memerlukan tenaga pegawai yang mengerti dan memiliki pengetahua dasar berhitung dan membaca. Karena itu, orang-orang Koto Gadang dididik di sekolah-sekolah yang didirikan di gudang-gudang kopi. Tujuannya untuk membantu membereskan birokrasi Belanda sehingga punya tenaga kerja sebagai juru tulis.

Orang Koto Gadang intensif merespon itu karena melihatnya sebagai keuntungan besar sekali buat mereka. Tidak hanya gudang kopi, tetapi  juga bisa masuk ke lini birokrasi ke berbagai tingkat. Karena itu orang Koto Gadang yang responnya paling cepat terhadap modernisasi pendidikan di abad ke-20 yang kebetulan paralel dengan politik etis.

Tempat tidur yang biasa digunakan Roehana Koeddoes masih awet di rumah peninggalannya. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Di abad ke-19 di Koto Gadang sudah ada tiga posisi karier pegawai negeri yang dianggap luar biasa di Hindia Belanda saat itu, menjadi angku doto (mantri), menjadi angku guru dan menjadi angku jaksa.

Kakek Roehana Koedoes yang bernama Lemang Sutan Palindin dan ayah Roehana Koeddoes Muhamad Rasyad Maharajo Sutan adalah angku jaksa  dan masuk ke kalangan elit pegawai Belanda. Kakek Roehana Koedoes adalah generasi pertama di Koto Gadang yang memanfaatkan kesempatan pendidikan yang ditawarkan Belanda.

Jaksa saat itu adalah orang yang menyelesaikan perkara-perkara di masyarakat yang memang memerlukan pengawasan dari pemerintah dan seorang jaksa adalah orang yang tidak hanya paham hukum barat yang dibawa Belanda, juga hukum adat dari tradisi lokal.

Padang Panjang, tempat tugas ayahnya adalah sebuah perbatasan antara darek (darat) dan pedalaman yang amat besar pengaruhnya di awal abad ke-20 sebagai sebuah tempat lalu lintas ide-ide dan kemajuan.

“Padang Panjang adalah pusat pergerakan dan pendidikan Islam, pergerakan di sana jauh lebih subur dari pada di Padang, karena Padang adalah kota kolonial, sedangkan di Padang Panjang memberikan rongga untuk mereka berkreativitas dan berbuat, sekolah-sekolah Islam itu muncul pada periode itu,” kata Mestika Zed.

Latar belakang ini yang membentuk jiwa idealis Muhamad Rasyad, sehingga ingin selalu memajukan pendidikan anak-anaknya, seperti Syahrir dan terus menberi semangat pada aktivitas pergerakan yang dilakukan Rohana Koeddus.

Koto Gadang dengan pemandangan Gunung Singgalang. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Menurut Mestika Zed di sanalah keunikan Muhamad Rasyad, beda dengan kebanyakan karier birokrat yang lain, Muhamad Rasyad tetap menjalin hubungan dan kebanggaan kampungnya di Koto Gadang. Muhamad Rasyad punya pandangan jauh ke depan, bahwa orang Koto Gadang ini harus maju dan meraih kesempatan yang diberikan Belanda, bahkan untuk memajukan pendidikan Koto Gadang, Muhamad Rasyad juga ikut mendirikan yayasan untuk membiayai pendidikan anak-anak Koto Gadang hingga ke Eropa pada 1914.

Roehana Koedoes lahir di Koto Gadang, 20 Desember 1884. Ia tidak pernah bersekolah formal, namun umur 8 tahun pada 1892 sudah bisa membaca dan menulis dalam bahasa Arab, Arab Melayu, Latin, dan Belanda. Ayahnya banyak memberinya bacaan buku dan majalah, terutama terbitan luar negeri.

Saat berumur 8 tahun itulah Roehana sudah mengajar beberapa anak tetangga yang tertarik ingin bisa membaca sepertinya. Itu dilakukan di sela bermain. Ayahnya mendorong dengan membelikan alat-alat tulis. Itu terjadi di Simpang Tonang Talu, Kabupaten Pasaman. Ayahnya sesekali juga ikut mengajar anak-anak kampung itu. Ibunya seringkali mendampinginya mengajar.

Roehana Koeddoes membuka pendidikan untuk perempuan, pengajaran keterampilan usaha kerajinan sulaman border dan menggunakan kekuatan surat kabar untuk mempengaruhi publik. Ia mendirikan sekolah dan usaha “Kerajinan Amai Setia” (KAS) pada 11 Februari 1911. Bermula di rumahnya itu, menggunakan kamar-kamar sebagai ruang kelas saat remaja, hingga akhirnya mengajak kaum perempuan Koto Gadang membentuk KAS.

Jalan menuju rumah Roehana Koedoes. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Puncaknya mendapat izin membuat Lotere (pengumpulan dana publik melalui undian) dari Pemerintah Kolonial Belanda. Acara Lotere yang pertama diizinkan untuk pribumi ini berhasil mendapatkan dana besar untuk pembangunan gedung sekolah dan kerajinan pada 1915. Gedung itu masih berdiri sampai sekarang dan masih beraktivitas.

Selain sebagai pendidikan nonformal baca-tulisan, budi pekerti, dan wawasan keperempuan, KAS juga berkembang sebagai usaha kecil kerajinan sulaman bordir. Sebenarnya inilah pelopor Unit Usaha Kecil Menengah (UKM) pertama di Indonesia. KAS pernah membeli benang melalui pesanan ke toko Perancis Au Bon Marche, Maison Artiside dengan modal pinjaman ke bank pada 17 Juli 1912.

Roehana juga pernah diundang membawa hasil kerajinannya ke Tentoostelling, sebuah pameran internasional hasil kerajinan rakyat tahunan di Belanda. Undangan itu membuat heboh karena tidak pernah zaman itu seorang perempuan berpergian ke Jawa sekalipun, apalagi ke Belanda. Ia batal pergi, namun produk kerajinan KAS dikirim dan dipamerkan di sana.

Usaha Roehana juga menjadi berita utama surat kabar yang terbit di Belanda. Mereka menyebut Rohana sebagai seorang perintis pendidikan pertama di Sumatera dan layak mendapat penghargaan. Roehana juga dianggap sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia. Itu karena ialah berdirinya surat kabar perempuan pertama di Indonesia, Sunting Melayu (Soenting Melajoe) dengan edisi perdana 10 Juli 1912. Koran mingguan ini terbit rutin sekitar 9 tahun.

Koto Gadang. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Sunting Melayu diterbitkan koran terkemuka waktu itu, Utusan Melayu (Oetoesan Malajoe), atas usulan Rohana. Rohana menjadi pemimpin redaksi bersama Ratna Djoewita, putri pemimpin redaksi Utusan Melayu yang berdomisili di kantor Padang. Sedangkan Rohana tetap di Koto Gadang. Ia mengirimkan tulisan rutin, juga liputan kejadian di Bukittinggi.

Suting Melayu berhenti terbit setelah Roehana pindah ke Medan. Di Medan ia ikut menulis dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Empat tahun kemudian ia pindah ke Padang dan menjadi anggota redaksi harian yang diterbitkan Cina-Melayu Padang bernama “Radio”.

Melalui tulisannya, Roehana fokus memberikan pencerahan untuk kemajuan kaum perempuan melalui kisah-kisah maju kaum perempuan Eropa. Ia mendorong perempuan Minangkabau untuk menjadi kaum yang sejajar dengan laki-laki melalui pendidikan, wawasan dengan bacaan yang luas dan kemandirian ekonomi melalui keterampilan.

Tak hanya mendorong perempuan, ia juga mendorong laki-laki untuk menyokong pendidikan untuk anak-anak perempuan mereka agar sejajar dengan laki-laki. Dalam perjuangannya Roehana mendapat banyak tantangan. Tidak saja kegiatannya dituduh orang yang tidak seide sebagai membawa perempuan ke lembah kesesatan, juga sampai fitnah serius melaporkan korupsi dana lotere pembangunan yang setelah diperiksa Pengadilan (Landraad) tak terbukti.

Sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonedia juga pejuang emansipasi perempuan, Roehana Koeddoes belum dihargai pemerintah dengan layak. Hingga kini rumahnya belum dipugar. Di depan rumahnya bahkan belum ada plang “Rumah Roehana Koeddoes Jurnalis Perempuan Indonesia Pertama”.

Roehana Koedoes juga  tidak kunjung diangkat sebagai Pahlawan Nasional. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)