Tapak Tilas Molengraaff di Borneo

borneo
Perjalanan di sepanjang Sungai Serawai kerap melewati riam yang memaksa penumpang long boat turun mendorong perahu. (Foto: Syafrizaldi Aal)

DI BUKIT Kelam saya memandang jauh. Dari tepi jalan raya tampak bagai seonggok batu raksasa di antara datar persawahan di sekelilingnya. Batu besar itu seolah jatuh dari langit dan menyisakan setumpuk batu yang tampak di permukaan setinggi hampir 1.000 meter.

Saya menikmati kopi senja di salah satu kedai di selatan Bukit Kelam itu pada 20 Agustus 2020. Batu hitam itu tampak melintang dari Tenggara ke Barat Laut. Tak banyak waktu, karena sebentar lagi gelap akan menyergap. Saya membayangkan hampir dua abad lalu Carl A.L.M. Schwaner melintasi daerah yang sama.

Jejak Schwaner saya baca dari catatan Gustavus Adolf Frederik Molengraaff dalam Borneo-expeditie: Geologische verkenningstochten in centraal-Borneo 1893-94 yang terbit pada 1900.

Beruntung, karena saya sudah sempat mengelilingi Bukit Kelam di Sintang, Kalimantan Barat itu pada sore hari. Pemandangan batu besar tersebut menutup napak tilas sebagian rute Molengraaff di jantung Borneo.

Di Sintang, seminggu sebelum itu, saya tengah menyiapkan ekspedisi menembus pedalaman Sungai Serawai menuju desa terujung, Rantau Malam. Dari Sintang, saya menempuh perjalanan darat selama dua jam menuju Nanga Pinoh. Di Nanga Pinoh, perahu mesin berkapasitas enam orang membawa kami menuju pusat Kecamatan Serawai.

borneo
Kaum perempuan di Desa Rantau Malam menyambut tamu di tangga steher. Mereka tampak bahagia dengan gaun adat ringkas berwarna cerah. (Foto: Syafrizaldi Aal)

Sungai Melawi meliuk usai berpisah dengan Sungai Kapuas. Saya membunuh waktu selama lima jam perjalanan yang melelahkan. Sepanjang perjalanan, pemukiman warga tampak berkelompok-kelompok dan terpencar-pencar. Tepi sungai yang menguning kontras dengan rumah-rumah panggung dari kayu berwarna cokelat.  Di belakang pemukiman tegakan kayu tampak hijau kehitaman.

Ketika sore saya memutuskan untuk bermalam di pusat Kecamatan di Serawai.  Saya membayangkan Molengraaff melewati jalur itu dengan tongkang. Pasti melelahkan.

Bagi Molengraaff, kesulitan terbesar dalam proyeksi perjalanannya selama dua bulan adalah masalah perbekalan. Dia tahu di seluruh perjalanannya mungkin tidak akan memperoleh makanan dalam jumlah yang cukup. Beruntung, setelah mencapai Pegunungan Madi dari Sungai Boenut, dia sampai di Sungai Melawi pada titik yang masih bisa dilayari tongkang.

Ia menulis, “Di Sintang saya mempekerjakan 29 kuli –kebanyakan orang Dayak– dengan upah 0,80 gulden dan beberapa tembakau sehari, sementara saya juga harus menyediakan makanan, beras, dan garam untuk mereka.”

Ia melanjutkan, “Saya tidak mengalami kesulitan untuk melibatkan orang-orang ini, meskipun mereka tahu bahwa saya harus membawa beberapa dari mereka ke Bandjermassin dan bahwa mereka tidak akan kembali ke rumah selama lebih dari tiga bulan.”

Saya beruntung, karena kini perjalanan bisa jauh lebih singkat dengan perahu bermesin. Perbekalan pun bisa didapatkan di banyak tempat.

Dari pusat kecamatan di Serawai, saya berganti perahu panjang bermesin. Jenis perahu ini cocok untuk medan sungai yang banyak berbelok dan dangkal. Di pintu muara sungai Serawai, perahu kami harus bermanuver karena pertemuan arus dengan Sungai Melawi cukup merepotkan.

borneo
Agung Widodo memotong ayam dalam ritual adat melepas Hompongan.  Ritual yang sama juga sudah ada di zaman kedatangan Molengraaff lebih seabad silam. (Foto: Syafrizaldi Aal)

Molengraaff melanjutkan bahwa pada malam hari, 3 Oktober 1894, terjadi petir dan hujan deras hingga membuat sungai banjir. Pukul 8.40 pagi hari sebelumnya, rombongannya tiba di tepi bukit, lalu mendakinya.

Setelah siang pukul 13.30, rombongan ekspedisi Molengraaff tiba di atas bukit pada ketinggian 728 mdpl.  Dari sini, dia memandang jelas pada lembah Serawai.

Saya membayangkan Molengraaff menyaksikan perjalanan saya siang itu.  Perbukitan rendah di tepi Sungai Serawai memberikan ruang pandang yang cukup luas.

Pada 4 Oktober 1894, rombongan Molengraaff meneruskan pendakian. Menjelang siang, awan hitam sudah datang dan memaksa mereka berhenti di tebing yang cukup curam. Hujan datang lebih deras dari sebelumnya.

Pembantu Molengraaff adalah lelaki Dayak, namanya Njaroh (Nyaroh), tidak sanggup membayangkan kemurkaan alam. Dia takut, kemungkinan roh penunggu Bukit Raya sedang marah.

Njaroh mempersembahkan ayam yang mereka bawa untuk para roh penunggu Bukit Raya. Kendati Molengraaff mencoba menolak persembahan itu, tapi Njaroh tetap melakukan persembahan.

Molengraaff sadar, kalau tetap memaksakan kehendaknya, maka kemungkinan orang Dayak yang menjadi pendamping perjalanan akan kembali pulang. Pendakian itu terancam batal.

Sepanjang empat jam mengarungi Sungai Serawai, saya seolah berdialog dengan masa lampau. Deskripsi Molengraaff terpampang di hadapan saya. Soal persembahan ayam itu saya alami persis ketika Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Agung Nugroho, datang berkunjung beberapa hari setelah saya tiba di Desa Rantau Malam.

Dia disambut dengan upacara Membuka Hompongan, di mana Agung diminta menyembelih ayam untuk bekal makan bersama.

Molengraaff menulis, “Pegunungan perbatasan antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat memiliki ciri khas seperti konstruksi batuan. Bagian utama adalah dataran tinggi yang terdiri dari batuan pasir dan tanah liat berlapis-lapis. Dataran tinggi ini condong mengarah ke utara di mana bagian selatannya lebih curam.”

Ia melanjutkan, “Pegunungan ini saya namakan Pegunung Schwaner, setelah Schwaner mengklaim bahwa dirinya adalah orang Eropa pertama yang datang dari Katingan dan menjelajah wilayah itu pada 1 Januari 1848. Dia menjelajah dari (Tumbang) Senamang dan melintasi pegunungan ini sepanjang Sungai Serawai dan Melawi hingga mencapai Sungai Kapuas.”

Molengraaff melanjutkan catatannya bahwa setidaknya perjalanannya sejajar dengan rute yang telah ditempuh Schwaner melalui Kalimantan Selatan (menuju Kalimantan Barat) dan memungkinkan dirinya melakukan pengamatan yang sama.

Di wilayah sepanjang rute Schwaner ini, terdapat dua puncak bukit tertinggi, Bukit Raya dan Bukit Baka. Keduanya terpisah jarak, namun disatukan oleh peraturan.  Mulanya memang terpisah, tapi kebijakan baru menyatukan kedua puncak bukit ini telah diambil oleh pemerintah. Kini keduanya terikat hubungan ekologis menjadi sebuah taman nasional.

Saat ini kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya yang terletak di Propinsi Kalimantan Barat telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.4189/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 10 Juni 2014 dengan luas 111.802,20 Ha.

Sedangkan kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Provinsi Kalimantan Tengah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.3951/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 19 Mei 2014 dengan luas 122.822,10 Ha, sehingga luas total kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah 234.624,30 Ha.(Syafrizaldi Aal)