Ngelimoi di Rantau Malam

 

rantau malam
Sahabat perjalanan, Ivonne memperhatikan patung kayu yang terdapat di Desa Rantau Malam. Di wilayah hulu sungai Serawai itu, rumah-rumah tampak sepi di siang hari karena kebanyakan warga sedang berada di kebun. (Foto: Syafrizaldi Aal)

BUKIT RAYA menjulang 2.278 meter dari permukaan laut. Dengan ketinggian tersebut, Bukit Raya diklaim sebagai puncak tertinggi di Pulau Kalimantan di wilayah Indonesia. Banyak pendaki berkeinginan besar menapaki puncaknya.

Orang Dayak Uud Danum menyebutnya Moko Rajak, Raja Para Gunung.  Siapa sangka, puncak Bukit Raya dulunya sampai ke pintu langit.

Menjelang petang, gelap mendung menutup pintu rimba di Rantau Malam, desa terakhir yang masih ditemukan di hulu Sungai Serawai, Sintang, Kalimantan Barat. Saya tergopoh-gopoh menaiki steher, tangga kayu yang menghubungkan sungai dengan daratan.

Di ujung tangga, saya berhenti menghela napas. Sebagian rombongan kami yang baru saja tiba masih berada di dalam perahu, mereka mengemasi barang-barang.

Pada awal Agustus 2020, seminggu sebelum kedatangan itu, saya sudah mengikat janji bertemu Budiono. Sebagai orang asli Dayak Uud Danum, nama itu terdengar aneh. Dia terkekeh ketika hal itu saya tanyakan sehari setelah kedatangan saya.

“Maklum, kalau tidak ada bau Jawa, kami tersingkir dari peradaban,” katanya tersenyum.

Saya menyeruput kopi. Pria itu tampak ramah. Kami memandang ke arah gugusan bukit di selatan, Bukit Raya terselip di antaranya.

“Ya, Bukit Raya memang tak nampak dari sini, tapi dulu bukit itu menjulang sampai ke pintu langit,” ujarnya.

Menurut Budiono, puncak Bukit Raya patah. Kepingannya telah jatuh ke permukaan bumi Kalimantan. Sebelum patah, bukit itu merupakan jalan keluar masuk antara kehidupan di bumi dengan kehidupan di atas langit.

Saya tersenyum. Dalam kepercayaan Islam saya, itu semua hanyalah khayalan manusia. Satu-satunya jalan menuju langit adalah kematian, atau hanya mukjizat para nabi. Budiono tahu yang saya pikir. Dia tersenyum dan melanjutkan kisahnya.

“Sedemikian tingginya, Bukit Raya dijadikan sebagai sarana untuk turun naik para Jin,” katanya.

Legenda Moko Rajak dimulai ketika Baki Dohari merindukan daging manusia. Baki artinya tujuh, dohari berarti saudara. Baki Dohari sedianya tinggal di langit.  Tapi mereka selalu mencari celah untuk turun ke bumi.

“Akhirnya mereka menemukan jalan, Bukit Raya,” katanya.

rantau malam
Warga Desa Rantau Malam biasa bertemu malam hari, sekedar bicara lepas atapun berdiskusi. Ngelomoi biasanya dilakukan sampai larut usai acara resmi. (Foto: Syafrizaldi Aal)

Niat jahat Baki Dohari tercium oleh Atang Khakam, sejenis jin baik yang berbentuk burung elang. Atang Khakam berpikir, jika hal itu dibiarkan maka manusia akan habis dimakan Baki Dohari. Jin elang itu bertindak, dia terbang di sekitar puncak Bukit Raya dan mengibaskan sayap dengan keras.

Akibatnya, Bukit Raya hancur berkeping-keping. Serpihannya menyebar ke mana-mana. Salah satunya terpental hingga ke Sungai Kahayan.  Di sungai Kahayan, pecahan itu dikenal dengan Batu Sulik, sebuah batu yang melintang di tengah aliran sungai.

Batu Sulik menghalangi ikan-ikan yang mencari makan. Ikan-ikan tersebut tidak lagi bisa mencari makanan ke hulu maupun ke hilir karena terhalang batu. Ikan Bedido (Belida), salah satu jenis ikan, mengambil inisiatif.

Dia meminta setiap ikan menyumbangkan satu tulang.  Dengan tulang-tulang itu, Bedido berusaha mengangkat Batu Sulik. Batu itu kemudian terangkat dan tak lagi menghalangi ikan-ikan berenang dari hulu ke hilir, muapun sebaliknya.

Serpihan Bukit Raya lainnya terpental ke Sungai Serawai, dikenal dengan Kait Buran. Dikisahkan, Kait dan Buran adalah sepasang suami-isteri.

“Suatu ketika, Kait berburu agak jauh dari rumahnya, dia meninggalkan Buran yang sedang hamil tua,” kata Budiono.

Selama berburu, Kait menggunakan sumpit. Sumpit merupakan senjata asli berupa kayu panjang atau biasa juga terbuat dari bambu dengan lubang di bagian tengah.  Bagian tengah yang berlubang itu merupakan tempat anak panah kecil berujung runcing ditiupkan.

Cara kerjanya mirip dengan senapan angin. Kait meletakkan anak panah kecil di pangkal sumpit lalu meniupnya dengan keras.  Anak panah akan meluncur menuju sasaran.

“Di ujung sumpit, biasanya juga terdapat sejenis besi runcing yang diikatkan, fungsinya menjadi semacam tombak,” ujar Budiono.

Sudah sore ketika Kait tersadar, dia tak mungkin kembali. Malam akan segera menyergap.  Dia mencari pohon besar untuk bermalam. Di pokok pohon besar itu, Kait tertidur karena kelelahan.

Antara sadar dengan tidak, Kait mendengar banyak orang di sekitarnya. Lamat-lamat dia mendengar salah seorang bicara, “Ayo kita bantu Buran, dia akan melahirkan.”

“Kalian saja yang berangkat saya tidak mampu karena kaki saya tertancap duri. Saya tunggu di sini sampai kalian kembali,” kata Budiono menirukan suara lain dalam kisah Kait.

Maka suara-suara yang lain berangkatlah. Tak berapa lama, suara-suara itu muncul kembali. Mereka melapor kepada orang yang kakinya tertancap duri. Anak Kait sudah lahir, tapi anak itu akan mati karena buaya.

rantau malam
Bila cuaca bersahabat, ngelomoi biasanya ditemani pula dengan pemandangan langit yang rupawan. Milky way kerap tampak menyajikan suasana malam nan nikmat. (Foto: Syafrizaldi Aal)

Orang yang kakinya tertancap duri mahfum dengan berita kelahiran itu. Dia mengulang, anak lelaki Kait akan mati karena buaya. Kait sesungguhnya tidak menyadari, duri yang menancap di kaki orang tersebut adalah senjata yang dia bawa, sumpit berujung tombak.  Ujung tombak itulah yang menancap di kaki orang tersebut.

Suara-suara itu tiba-tiba hilang.  Antara sadar dengan tidak, Kait mencoba memaksa membuka mata.

Setiba di rumah, anak laki-laki Kait sudah lahir. Kait dan Buran memberikan mainan kalung kepada bayi itu. Kalung serupa jimat itu terbuat dari kulit kayu dengan hiasan tulang.

Singkat kisah, Kait dan keluarganya kemudian memilih pindah karena takut anak mereka dimakan buaya. Keluarga itu lantas mengembara di sepanjang sungai dan mencari tempat baru di hulu yang diyakini tidak ada buaya.

Di tempat baru, bayi mereka tumbuh menjadi anak yang kuat dan kini anak itu sudah mulai belajar melangkah. Tapi sekali-sekali dia jatuh karena belum terbiasa.

Kesibukan keseharian Kait dan Buran membuat mereka lupa pada mimpi Kait tentang kematian putra mereka. Ketika mereka masuk ke rumah, menemukan bayi itu telah mati. Gigi buaya yang menghias kalung jimat telah menancap di lehernya.

Menurut Budiono, pentalan Bukit Raya yang tersambar sayap Atang Khakam juga menyebar hingga sungai Lekawai, namanya Kait Marak.  Serpihan yang lain di sungai Serawai juga dikenal dengan nama Kait Tahto.  Ada pula Kait Atang dan Kait Rajun. Bukit Raya ditopang oleh penyangga-penyangga yang tersebar itu.

“Sementara Baki Dohari hanya bisa menyaksikan dari langit, air liur tujuh bersaudara jin ini kerap menetes, mereka tak bisa memakan manusia, air liur itu menetes hingga Moko Rajak, menjelma menjadi pacet,” kata Budiono.

Saya dan Budiono larut dalam obrolan panjang. Dongeng-dongeng diturunkan secara oral dari generasi ke generasi. Sebagian ada pula yang dilantunkan lewat sair atau senandung.

Secara umum, Orang Dayak mengenal seni nyanyian sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka membunuh kebosanan kala panen, berladang, pesta kawin, berburu, berperang, dan lainnya.  Ada pula nyanyian yang berkaitan dengan sistem kepercayaan dan pemujaan terhadap Tuhan, serta kematian.

Di Desa Rantau Malam, ada istilah “ngelimoi”, yakni kisah-kisah yang disampaikan secara oral.  Ngelimoi biasanya dilakukan di rumah-rumah secara tidak terencana. Ngelimoi mengisahkan dongeng atau mitos yang lantas berkembang menjadi cerita rakyat. Ngelimoi kami malam itu membunuh waktu hingga larut tak terasa. (Syafrizaldi Aal)