Bertandang ke Ujung Karst

kars
Juwitha menikmati kehangatan pasir di Kaniungan Besar. (Foto: Syafrizaldi Aal)

SAYA bertandang ke ujung Kawasan Karst Mangkaliat Sangkulirang di Kalimantan Timur. Wilayah ini meliputi areal dengan formasi karst mencapai sejuta hektare dengan hutan dataran rendah dan perbukitan di sekelilingnya. Kawasan ini diklaim sebagai kawasan karst terbesar di Asia Tenggara.

Bentang kawasan karst yang cukup luas memaksa saya hanya menyambangi Bidukbiduk. Ini adalah kunjungan ketiga. Perjalanan jauh tak menyurutkan langkah kaki mengeksplorasi sudut Bidukbiduk nan tersisa.

Sedianya, Bidukbiduk berada pada lekuk di ujung semenanjung Berau di Kalimantan Timur. Kecamatan Bidukbiduk nyaris sempurna sebagai tempat tujuan wisata alam. Terdapat enam kampung atau desa di wilayah ini, yakni Teluk Sumbang, Bidukbiduk, Pantai Harapan, Tanjung Perapat, Giringgiring, dan Teluk Sulaiman.

Bagi saya, wilayah seluas 3.002,9 kilometer persegi tersebut merupakan campuran kekayaan laut dengan daratan nan tak habis ditelisik.

Di bandara di Tanjung Redeb, 4 Juli 2020 saya menunggu kedatangan Juwitha. Dia mengejar pesawat siang dari Tarakan, Kalimantan Utara. Kami mengikat janji jauh-jauh hari agar bisa berbagi rental kendaraan menuju Bidukbiduk.

Dari pusat kabupaten di Kota Tanjung Redeb, Bidukbiduk dicapai melalui perjalanan darat sejauh 254 kilometer.  Sebagian telah diaspal, tapi sebagian besar adalah jalan tanah yang berlubang di sana-sini. Saya dan Juwitha terkantuk-kantuk dalam perjalanan hampir 6 jam itu.

karst
Juwitha melompat gembira di rimbunan pohon kelapa pada kunjungannya yang pertama di Teluk Sumbang. (Foto: Syafrizaldi Aal)

Saya terjaga di penginapan di Pantai Bidukbiduk ketika Juwitha sudah berada di bibir pantai.  Dia tengah menikmati matahari terbit.

“Kita akan ke Danau Penyu sebelum bermalam di Pulau Kaniungan Besar,” katanya.

Saya mengangguk. Udara pagi nan sendu menambah dingin air mandi saya sebelum subuh tadi. Tapi pemandangan terbit matahari tak rela saya sia-siakan.

Pemandu kami, Vera dan Mega, sudah menyiapkan paket perjalanan hari itu. Kami menyewa sebuah kapal yang biasa membawa pengunjung menyeberang dari Teluk Sulaiman. Biayanya sekitar Rp500 ribu sekali jalan pergi dan kembali.

Dari Teluk Sulaiman saya menyisir selat Sigending. Orang lokal biasanya menyebut Danau Sigending. Mesin kapal sengaja diperlambat ketika melintas. Beberapa ekor penyu muncul di permukaan. Mereka tampak girang dengan kedatangan kami.

Di ujung haluan, Juwitha tak lepas dari gawainya. Selain berswafoto, merekam penyu berenang adalah keriangan yang tak mungkin dihindarkan.

“Mereka terkurung di sini,” kata Vera menjelaskan tentang penyu.

Menurutnya, Selat Sigending menyempit ujung ke ujung. Celah sempit itu membuat penyu tak bisa bergerak bebas. Namun sedikit padang lamun menyelamatkan mereka, makanan tersedia cukup. Apalagi keadaan hutan bakau yang kini sama sekali tak ada gangguan.

“Dulu banyak yang menangkap ikan dengan bom di wilayah ini, tapi hampir sepuluh tahun belakangan kegiatan merusak itu sudah tidak ada lagi, masyarakat mulai sadar bom tak akan menyelamatkan kehidupan,” ujar Vera.

karst
Matahari tenggelam di pantai Bidukbiduk. (Foto: Syafrizaldi Aal)

Serombongan bekantan lari terbirit-birit ketika kami tiba di tengah danau. Saya meminta mesin kapal dipadamkan.

Hampir sejam kami menikmati sepi. Bahkan tak satupun bersuara dari sembilan orang yang berada di atas kapal itu. Suara bekantan kembali terdengar. Agaknya mereka kembali untuk menikmati buah bakau.

Suara kecipak air akibat kepala penyu yang timbul-tenggelam kami dengar dalam kesunyian itu. Menyesap suara alam Sigending adalah idaman yang belum saya rasakan pada dua kunjungan sebelumnya.

Saya membayangkan akan melihat buaya muara (Crocodilus porosus) atau setidaknya Berang-Berang Pantai (Lutra lutra). Namun seekor biawak (Varanus salvator) telah menganggu lamunan saya. Dia beranang melintas menyisir batas tepi hutan mangrove.

Pulau Kaniungan Besar kami dapati hampir tiga jam kemudian. Saya menyaksikan wajah-wajah penuh senyum ketika kami beranjak ke penginapan. Wisata telah mengubah wajah Bidukbiduk. Dia kini lebih banyak tersenyum dibanding kunjungan saya yang pertama pada 2016.

Senyum yang sama juga tampak pada wajah-wajah yang menanti kami di dermaga perahu menuju Labuan Cermin dan Labuan Kelambu keesokan harinya. Wilayah ini menampilkan pemandangan alam yang tak biasa.

Air tawar yang berasal dari celah perbukitan kapur, bercampur dengan air laut yang datang dari muara. Pertemuan kedua jenis air ini tepat berada di sebuah telaga yang bening. Lantai telaga tampak jelas dari permukaan. Ikan-ikan berenang dengan suka cita.

Goa-goa yang tersebar di perbukitan kapur diam tak berpenghuni. Beragam air terjun menyeling ceruk-ceruk tajam di Teluk Sumbang dan sekitarnya.

Senyum alam Bidukbiduk bertambah-tambah dengan beragam suku.

Bugis, Mandar, dan Bajau adalah suku-suku utama, selain sekelompok Dayak Basap di Teluk Sumbang. Asmiliasi budaya dan hubungan kawin-mawin membuat hubungan antar warga semakin melekat dan akur.

Pun beragam pangan lokal yang dibawa oleh masing-masing suku dari daerah asalnya. Hal ini menjadi kekuatan baru yang berpadu dengan kondisi alamnya.

Saya menikmati seminggu yang memukau di Bidukbiduk. Kenikmatan yang tak mungkin saya dapatkan tanpa kesempatan yang diberikan Allah Yang Maha Baik.  Alhamdulillah, senyum warga melekat dalam benak saya, pun Juwitha. Kami melewati hari-hari nan penuh penemuan baru.

World Tourism Cities Federation (WTCF) melaporkan pendapatan pariwisata dunia diperkirakan tumbuh sebesar 6,7 persen pada 2018. Jauh lebih tinggi daripada perkiraan tingkat pertumbuhan pendapatan global. Laporan itu juga menyebutkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara meningkat menjadi 11,9 miliar. Artinya naik 6,8 persen dari tahun ke tahun. Pendapatan pariwisata global diperkirakan mencapai 5,3 triliun dolar AS.

Tapi pagebluk Covid-19 mungkin memaksa angka-angka itu turun sejak awal 2020.  Senyum yang membayang di benak saya mungkin saja akan muram. Entahlah. (Syafrizaldi Aal)