Catatan Perjalanan ‘Rimba Terakhir’, Mendengar Musik dari Hutan Siberut

Sikerei di Rogdok, Walter Samalelet dan Sondro Aman Jairo membuat alat musik dan mencobanya. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

PERJALANAN ke Pulau Siberut bersama sejumlah musisi dan seniman dalam rangkaian kegiatan kampanye “Rimba Terakhir” yang digelar WALHI dan YCM Mentawai pada 18-22 September berlangsung seru. JurnalisTravel juga bergabung dalam perjalanan ini.

Kampanye “Rimba Terakhir” di Pulau Siberut bagian dari rangkaian kegiatan yang sama di tujuh  tempat di Indonesia yang mewakili hutan yang terancam. Ketujuh tempat di antaranya hutan Dayak Tomunt di Lamandau, Kalimantan Tengah, dataran tinggi Tokalekaju di Sulawesi, dan hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai.

BACA JUGA: Walhi Gandeng Komunitas Seni Kampanye ‘Rimba Terakhir’

Rombongan ke Siberut dimulai dari Padang dengan menumpang kapal cepat “Mentawai Fast” selama 3 jam  ke Dermaga Pokai di Siberut Utara. Rombongan terpaksa beristirahat di Pokai selama satu jam mengikuti jadwal kapal, sebelum meneruskan ke Dermaga Maileppet di Siberut Selatan.

Dari Maileppet perjalanan dilanjutkan dengan mobil angkutan desa ke Dusun Rorogot. Dari sana terpaksa berjalan kaki selama dua jam ke Dusun Rogdok di Desa Madobag, Kecamata Siberut Selatan. Sedangkan barang-barang dibawa dengan boat lewat Sungai Sarereiket.

Di hutan Siberut yang masih terjaga karena dirawat tangan-tangan yang memanfaatkannya secara tradisional. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Rombongan berjumlah 18 orang sampai di Rogdok sekitar pukul 7 malam dan menginap di rumah warga.

Setelah mandi dan makan malam, warga Rogdok sudah berkerumun ke rumah Gerpasius Tasiriotoi, tempat sebagian besar rombongan menginap. Mereka ingin tahu dengan tamu yang datang.

Akhirnya malam itu dihabiskan dengan obrolan panjang bersama warga, termasuk dengan dua sikerei (dukun atau tabib), yaitu Walter Samalelet dan Sondro Aman Jairo.  Kedua kerei berjanji akan tampil membawakan “muturuk”, tarian yang diiringi nyanyi sikerei yang terkenal.

Esoknya tim melakukan perjalanan ke pusat Desa Madobag dengan berjalan kaki menyusuri jalan yang belum beraspal selama satu jam dari Rogdok. Madobag perkampungan yang lebih besar dengan banyak rumah bantuan pemerintah.

Tim “Rimba Terakhir” mengunjungi rumah adat tradisional Mentawai atau “uma”  milik Aman Gebak Kunen Sabagalet, seorag sikerei di Madobag. Umanya sangat besar dan lengkap. Puluhan tengkorak babi dan monyet hasil buruan untuk punen (pesta) adat tergantung di pintu masuk dan pintu ruang dalam.

Aman Gebak sangat ramah dan terbuka. Ia menyanyikan beberapa lagu sikerei dalam bahasa Mentawai kuno yang terkesan magis. Pengetahuannya tentang budaya Mentawai juga luas saat menceritakannya pada kami. Tubuhnya dihiasi tato dengan motif yang indah. Begitu juga istrinya, Bai Gebak Kunen Samapopou.

Selesai di Madobag, rombongan kembali ke Rogdok. Di perjalanan, rombongan tidak menyiakan kesempatan menikmati Air terjun Kulukubuk yang terletak sekitar 100 meter dari jalan. Jalur menuju ke sana jalan setapak yang licin dan melewati anak sungai.

Kulukubuk air terjun yang sangat alami. Airnya bening, mengucur dari ketinggian sekitar 15 meter.

Puas menikmati air terjun dan mandi-mandi rombongan kembali ke Rogdok untuk bermalam. Esoknya, hari ketiga, rombongan dibawa dua sikerei, Walter Samalelet dan Sondro Aman  Jairo ke kebunnya yang terletak di pinggir kampung.

Rogdok dikelilingi bukit dengan hutan yang masih terjaga. Pepohonan banyak dan asri. Hutannya tempat para Sikerei mengambil tanaman obat. Sikereai adalah tenaga andal untuk mengobati secara tradisional aneka penyakit warga.

Sikerei menari diiringi alat musik, ditonton warga yang haus hiburan. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Kami melewati sungai Rogdok yang airnya jernih kehijauan, lewat kebun dan menyeberang anak sungai hingga sampai ke kebun milik kedua sikerei. Di kebun itu banyak pohon campuran, durian, nangka, pinang, pisang, dan di sepanjang sungai didominasi tumbuhan sagu yang menjadi makanan pokok.

Di depan rumpun bambu yang berukuran kecil, Kerei Sondro menebang seruas buluh yang tidak terlalu tua. Lalu memotongnya sekira setengah meter. Ia membuat dua suling dari bambu tanpa melubanginnya.

“Ini pipiau, suling untuk perempuan,” katanya.

Saat ditiup suaranya terdengar lirih.

Sementara Kerei Walter menebang bambu yang besar, kemudian bersama Kerei Sondro membuat beberapa ruas bambu itu menjadi mirip kentongan. Itulah alat musik khas Mentawai bernama “loloklok”.

Kerei Walter kemudian duduk memainkannya di kaki. Suara perkusi bambu itu terdengar nyaring. Loloklok salah satu alat musik yang mengiringi “muturuk” atau tari Sikerei.

Di kebun itu para musisi dari tim “Rimba Terakhir” mencoba alat musik buah Rimba Siberut tersebut bergantian dan bersama-sama memainkannya.

Malamnya di beranda penginapan, kedua sikerei tampil membawakan muturuk dan nyanyiannya, diiringi musik dari bambu dan gendang “gajeuma”. Warga Rogdok, terutama anak-anak yang haus hiburan berjubel menonton.

Dua kerei itu tampil atraktif membawakan tarian Uliat Manyang (Tarian Burung). Kostumnya dari tumbuhan, seperti kepak dan ekor burung.Gerakannya juga menirukan gerakan burung. Sambil menari mereka juga menyanyi.

Karena penonton amat banyak, akhirnya musisi dan seniman Tim Rimba Terakhir Siberut tampil satu persatu dan juga berkolaborasi.

Daud Sababalat, musisi dari Mentawai membawakan lagu-lagu Mentawai diiringi petikan gitar Dima Miranda, tiupan suling Downey Angkiry, dan harmonika Freddy F. Lengkong dari tim Tausiyah Bunyi dari Jakarta. Kemudian  tabuhan gajeuma oleh M. Yunus Hidayat alias Joe Datuk, musisi dari Komunitas Gubuk Kopi dan Edo Hia dari Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Proklamator Universitas Bung Hatta.

Dima Miranda juga menyanyikan lagu ciptaannya. Bayu The Roots, musisi dari Bukittinggi juga menyanyikan lagu gubahannya.

Musisi dari tim “Rimba Terakhir” berkolaborasi memainkan musik dan bernyanyi. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Pertunjukan spontan itu dilakukan hingga malam hari. Keesoka harinya, malam terakhir di Rogdok diisi dengan acara pemutaran video yang diambil di sekitar Rogdok dan Madobak selama tiga hari terakhir. Video yang ditampilkan lewat infokus ke dinding ini juga ramai ditonton warga.

Seniman Mural Andre Vernando dari Komunitas Belanak Padang menyapukan cat dengan kuasnya menjadi mural yang indah dengan tulisan “Rimba Terakhir” di  dinding rumah Gerpasius Tasiriotoi, tempat pertunjukan.

PERJALANAN SEPERTI ‘NGAJI’

Pengalaman selama lima hari di Siberut memberi kesan yang dalam kepada  musisi Dima Miranda.

“Perjalanan ini buat saya pribadi seperti ‘ngaji’, bersinggungan  langsung dengan ayat-ayat tentang alam semesta beserta isinya yang semua saling berhubungan dan bukan tanpa alasan,” katanya kepada JurnalisTravel.

Hubungan erat tersebut, katanya, baginya sangat terjaga di antara alam Siberut dan penduduknya.

“Sehingga melahirkan tembang-tembang tradisi berupa pemujaan, wujud syukur yang sempat kami dengar dari lantunan para sikerei dan musisi tradisi setempat, begitu pula dengan alat musik lainnya,” ujarnya.

Dalam hal ini, lanjut Dima, ia bersama tim Tausiyah Bunyi, Dima Miranda, Downey Angkiry, dan dibantu Freddy F. Lengkong mencoba merespon dengan budaya baru lewat perangkat bunyi yang lebih praktis.

“Sehingga kita semua bisa lebih mudah untuk saling mengabarkan kemudian semoga  saling menginspirasi,” katanya.

Musisi Downey Angkiry juga sangat terinsiprasi dari lagu-lagu Sikerei. Ia akan membuat “theme song”, lagu untuk Mentawai bersama musisi, seniman, dan tim Tausyiah Bunyi.

“Akan ada beberapa komposisi musik dan lagu yang akan saya persembahkan untuk Pulau Siberut, Mentawai, di dalam komposisi lagu tersebut akan ada instrumental asli musik Mentawai dan nyanyian sikerei,” ujarnya.

Bayu The Roots, musisi dari Bukittinggi juga mendapat banyak inspirasi selama di Siberut.

“Mereka menginspirasi saya berbagai hal, tidak hanya dari musik, tapi juga norma, tata kehidupan, dari cerita mereka kalau mau berburu ada syarat dan pantangannya, kalau melanggar kena hukuman,” katanya.

Tim “Rimba Terakhir” Siberut di depan uma bersama masyarakat Rogdok, Desa Madobag. (Foto: Dok. Tim Rimba Terakhir Mentawai)

Lagu para Sikerei, lanjut Bayu, memanggil roh spiritual dan konten bahasa yang mengandung makna meminta izin kepada leluhur, kepada alam.

“Itu luar biasa, cara kuno, tapi mereka jauh lebih bisa menghargai karya Tuhan,” katanya.

Selama di Rogdok Bayu membuat draf beberapa lagu dan aransemennya.

”Suara sikerei dan beat perkusi mereka itu mau saya kolaborasi,” ujarnya.

Musisi Freddy F. lengkong juga akan membuat lagu dan musik yang terinspirasi dari Siberut untuk kompilasi album “Rimba Terakhir”.

“Perjalanan ke Siberut untuk melihat, merapatkan hati, dan membuat lagu, serta musik dari apa yang kita rasakan di Mentawai, dan saya senang karena melihat warga tetap memelihara hutannya dan kebersamaan tetap terjaga,” ujarnya.

Daud Sababalat, musisi muda dari Mentawai mengatakan bahwa perjalanan tersebut membuat kecintaannya kepada musik Mentawai semakin kuat.

“Saya semakin termotivasi dan terinspirasi menggeluti musik Mentawai, saya juga semakin banyak tahu tentang budaya musik Mentawai setelah bisa bersentuhan langsung dengan Sikerei, semakin banyak bahan untuk membuat karya baru yang  akan lebih kaya,” ujarnya.

Divisi Kampanye Kreatif Eksekutif Nasional Walhi Ferdinand Rachim menyebutkan, musik dan lagu yang dihasilkan para musisi nantinya akan ditampilkan di Padang. Selain itu juga akan menjadi album kompilasi yang dihasilkan dalam kegiatan di tujuh provinsi untuk kampanye “Rimba Terakhir” di Indonesia. (Febrianti/JurnalisTravel)