Sedapnya Kopi Kerinci di Kota Kopi

Rumah Kopi Korintji Heritage di Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Jambi. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

DEMAM kopi juga melanda kota kelahiran saya, Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Kota ini dulunya ibu kota Kabupaten Kerinci, sebelum menjadi kota sendiri pada 2008. Di tiap sudut kota kecil yang tenang ini kini tumbuh  kedai-kedai kopi keren yang menyajikan berbagai menu kopi. Mulai dari cappucino, latte coffee, white coffee, hingga espresso dan kopi tubruk. Sepertinya tidak mau kalah dengan coffee shop di kota-kota besar.

Gairah kopi sedang bersemi, bermekaran seperti bunga kopi di pohon kopi arabika di halaman rumah-rumah warga di Kayu Aro di lereng Gunung Kerinci yang saya lalui.

Kerinci yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil kopi robusta, beberapa tahun lalu mulai menyambut kehadiran kopi arabika yang sedang naik daun. Bibitnya ditanam oleh petani kopi. Hasilnya, kini kopi arabika Kerinci sudah mulai hadir di beberapa coffee shop di Jakarta, bahkan sudah ada yang dikirim ke Amerika.

Kota kecil saya yang dulunya sepi pada malam hari, kini terlihat lebih hidup karena kedai-kedai kopi yang buka hingga dini hari. Ditemani dua kawan pencinta kopi Kerinci, Ardiyan Destiawan dan Elfandri, kami keliling kota Sungai Penuh mengunjungi kedai kopi.

Pilihan pertama ke rumah kopi  yang paling terkenal, Korintji Heritage di Jalan Prof. Yakub Isman di Pondok Tinggi. Tempatnya berada di pendakian arah masuk Desa Pondok Tinggi. Suasana  dari  luar tampak tenang. Saya langsung dapat kejutan saat menapak ke halamannya.

Di bawah temaram lampu jalan, terlihat beberapa pohon kopi arabika berdahan rendah yang sedang berbunga dan berbuah ditanam dalam pot-pot yang besar. Bahkan ada buah merah yang siap petik. Luar biasa, pohon kopi arabika ini bahkan bisa tumbuh di tengah kota Sungai Penuh.

Manager Korintji Heritage Rusman Edy (kiri) dan barista Riyan. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Kami memasuki ruangan yang hangat oleh siraman cahaya lampu. Terdengar  musik country yang mengalun pelan. Bau harum kopi yang baru dipanggang dan digiling menguar di udara. Aromanya menenangkan.

Ada meja dan kursi-kursi kayu yang nyaman. Suasana terkesan hommy. Ada rak yang dipenuhi koleksi buku-buku lama, bisa dibaca pengunjung.

Di depan, seorang barista muda, sibuk membuat pesanan di belakang meja kerjanya yang penuh jejeran toples berisi biji-biji kopi spesialty Blue Korintji. Beberapa pengunjung yang datang terlihat duduk menikmati kopi.

Sambil memesan kopi, kami ngobrol dengan Manager Korintji Heritage  Rusman Eddy. Rumah kopi ini mulai dibuka pada 28 Mei 2016. Rumah kopi ini juga memproduksi kopi arabika dengan brand  Blue Korintji dari kopi yang ditanam petani kopi di Kerinci. Biji kopi kualitas premiumnya juga diekspor ke Amerika Serikat dan dipasok untuk gerai-gerai kopi di Jakarta, salah satunya untuk Anomali Coffee.

Membawa nama heritage, ternyata rumah kopi ini juga menyediakan minuman dari daun kopi, namanya daun kawa, salah satu minuman populer di Kerinci pada masa lalu. Kawa dalam bahasa Kerinci artinya kopi.

Dulu nenek saya juga sering membuatnya. Dari daun kopi muda kopi robusta yang dijemur di atas para-para perapian kayu selama berhari-hari hingga kering. Daun kopi yang kering itu diseduh dengan air panas.

Suasana di Kedai Kopi Koritji Heritage. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Kami di sini menyajikan daun kawa kalau ada pengunjung yang minta, ini warisan nenek moyang kita yang harus dilestarikan,” kata Rusman.

Ia menyajikan untuk kami minuman daun kawa yang dituang dari tabung bambu dengan cangkir dari batok kelapa. Persis perangkat minuman kawa milik nenek saya dulu. Aroma minuman itu sangat wangi dan lebih kental dari teh.

“Membuatnya daun kawanya juga masih sama seperti dulu, ini saya pesan dari petani kopi di Sungai Jernih, dibuat di ladangnya,” katanya.

Usai menyeruput daun kawa, kami berpindah duduk ke teras belakang Korintji Heritage. Ruang semi terbuka dengan pemandangan menghadap kota. Lampu-lampu dari kota Sungai Penuh di bawahnya berkelip seperti ribuan kunang-kunang.

Kami memesan kopi Blue Korinjti. Akhirnya kesampaian juga saya mencicipi kopi ini. Aroma khas kopi arabika langsung tercium dari dalam cangkir, beraroma rempah, juga fruty.

Secangkir kopi arabika Kerinci ini aroma rempahnya terasa lebih kuat dibanding kopi Solok. Bau rempahnya lebih dominan. Saat diseruput ada rasa coklat, fruty, flora seperti kopi arabika lainnya. Tetapi body-nya sedang dan asamnya juga sedang. Saya menyesap pelan-pelan kopi yang sedap itu.

Pemilik kedai kopi Teman Kopi di Sungai Penuh. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Usai ke Korintji Heritage, kami mencari kedai kopi lainnya, namanya “Teman Kopi”. Tempat berkumpulnya komunitas pencinta kopi di Sungai Penuh.

Kedai kopi itu masih buka menjelang tengah malam. Masih ada beberapa pengunjung  yang nongkrong. Interiornya menarik, kursi, meja, dan dinding di dominasi kayu. Di dalam di pajang kopi-kopi dalam kemasan hasil produksi kedai kopi ini, seperti Secangke, Hulubalang dan Nurlela. Juga kopi produksi anggota komunitas pencinta kopi yang lain, seperti kopi arabika dengan label Sko.

Kedai kopi ini baru berdiri Oktober 2017 oleh Riyan, Agung, Nanda, dan Iwan.

“Ini kami  buat untuk tempat kumpul para pegiat kopi, tempat berdiskusi unuk kawan-kawan sesama komunitas pencinta kopi di Sungai Penuh,” kata Agung.

Pada Oktober 2017 pencinta kopi di Sungai Penuh menggelar festival kopi yang dinamai Kenduri Kopi. Pada acara ini dideklarasikan akan membangun kota Sungai Penuh sebagai kota kopi.

“Di sini tempat kami berkumpul, berdiskusi, belajar, untuk semua pegiat kopi Kerinci, mulai dari petani, barista, pemilik kedai kopi, pemilik roastery hingga pengusaha kopi spesialty Kerinci, kami sama-sama belajar untuk menyiapkan Sungai Penuh sebagai sentra kopi,” kata Agung.

Suasana di Teman Kopi Sungai Penuh. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Menu kopi yang disajikan juga banyak. Saya memesan kopi latte dari campuran kopi arabika dan robusta Kerinci. Rasanya hangat dan sedap. Aroma rempahnya juga tercium saat kopi-kopi itu mulai dipanggang dan digiling.

Hingga tengah malam saya masih menyesap kopi sambil mendengar cerita mereka yang tak ada habisnya tentang kopi. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)