Kopi Kerinci Mulai Terancam Perubahan Iklim

Edi Santoso dan Basuki di kebun kopi mereka di Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

CERI merah kopi arabika yang ranum bergantung di setiap cabang dahan kopi di kebun kopi di Desa Tangkil, Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Berjarak sekitar satu kilometer, Gunung Kerinci tampak  menjulang dan biru berkilau oleh cahaya matahari. Pada pagi yang cerah itu enam perempuan pemetik kopi sedang asyik bekerja.

Tangan mereka dengan cekatan dan hati-hati memetik ceri merah dari tangkainya. Ada buah yang merah cerah dan merah kehitaman, ditampung dalam ember plastik hitam. Sekejap saja dalam satu rumpun itu hanya tersisa buah hijau.

Lalu pemetiknya berpindah lagi ke tanaman kopi lainnya. Kebun kopi seluas 1,3 hektare dengan 2.500 batang kopi itu tampak subur dan terawat. Di sebelahnya masih ada kebun kopi yang baru ditanam dan juga ada pohon kopi muda yang belum berbuah.

Direktur AgroTropic Nusantara Emma Fatma di tempat penjemuran kopinya. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Di selanya ditanam terong belanda yang juga sedang berbuah merah.  Selain untuk tanaman sumber pendapatan lain selain kopi, juga untuk pemecah angin. Kebun kopi itu juga dinaungi pohon meranti afrika yang baru empat tahun terakhir ditanam sebagai pohon pelindung. Tajuknya dipangkas dan daunnya juga jarang.

Selain memanen kopi dari tangkainya, pemetik kopi juga harus melirik ke bawah, kopi juga ada yang dipanen di tanah, walaupun tidak banyak. Berasal dari kotoran luwak liar yang datang memakan ceri merah kopi dan meninggalkan onggokan biji kopi yang masih terbungkus gabah.

Biji kopi yang dimakan luwak itu juga diambil untuk diolah menjadi kopi luwak. Kebun kopi ini dikelola Edi Santoso, 42 tahun, yang mengelola 6 hektare perkebunan kopi milik keluarga besarnya sejak 9 tahun lalu.

Dulu dia berladang sayuran seperti kebanyakan petani di Kayu Aro karena dataran tinggi di lereng Gunung Kerinci ini subur. Tetapi ia beralih ke kopi arabika setelah ada pabrik kopi arabika didirikan di Kayu Aro sejak 2009. Ia mengatakan berkebun kopi arabika membuat pendapatannya lebih stabil.

Pekerja sedang memetik kopi di kebun kopi Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Semula di lahannya ia pernah menanam jeruk di satu hektare lahan. Namun karena pemasaran tidak jelas, akhirnya ratusan pohon jeruk yang sedang dipanen itu ditebang dan diganti kentang.  

“Tetapi di kentang ini kita sangat diatur, umur dua minggu harus disemprot pestisida, dan seterusnya seminggu dua kali, kalau tidak, langsung gagal panen,” kata Edi.

Memang, jika harga kentang sedang bagus 1 hektare lahan bisa menghasilkan Rp125 juta dengan modal hanya Rp50 juta untuk bibit, pupuk, dan pestisida.

“Tetapi kalau gagal, apalagi kentang murah, itu bisa tidak balik modal,” ujarnya.

Akhirnya Edi beralih menanam kopi arabika setelah menanam sayuran seperti kol, cabe, dan kentang tidak menguntungkan lagi karena tanah mulai tidak subur serta banyak hama dan penyakit.

“Dari kopi arabika ini kepastian pendapatan ada tiap bulan, beda dengan menanam sayuran, seperti berjudi, apalagi hama dan penyakitnya banyak, kalau kopi hanya perlu pupuk kandang, nggak perlu pestisida,” katanya.

Dari 2.500 batang tanaman kopi, setiap tahun rata-rata hasil buah merah 18-19 ton. Tiap batang kopi rata-rata setahun menghasilkan 8-12 kilogram buah merah.

Kayu Aro adalah dataran tinggi Kerinci dengan ketinggian 1.200-1.600 meter dari permukaan laut. Suhu 15 derajat celsius hingga 18 derajat celsius menjadi tempat yang ideal untuk kopi arabika. Sejak sepuluh tahun lalu kopi arabika mulai ditanam. Sebelumnya, Kabupaten Kerinci lebih dikenal sebagai daerah pengahasil kopi robusta yang ditanam di kawasan Kabupaten Kerinci yang lebih rendah. 

Dinas Perkebunan Kabupaten Kerinci mencatat luas lahan tanaman kopi robusta di daerah tersebut sekitar 6.000 hektare, sedangkan luas kopi arabika di Kayu Aro 1.500 hektare. Setiap hari terdapat 40 ton ceri merah kopi arabika yang dipanen di Kayu Aro.

Dalam perjalanan ke dataran tinggi Kerinci, gairah kopi arabika  terlihat di kiri-kanan jalan. Mulai memasuki jalan yang terjal dari arah perbatasan Provinsi Sumatera Barat menuju Kerinci, kebun kopi arabika terlihat menggantikan tanaman lainnya, seperti pohon kulit kayu manis (Cinnamon) yang dulu menadi tanaman komoditas unggulan dari Kerinci.

Kebun kopi arabika yang baru ditanam juga mulai melewati batas Taman Nasional Kerinci Seblat di perbatasan. Tahun lalu terlihat masih berupa hutan, kini telah dirambah peladang untuk kebun kopi. Tentu saja dibuka secara illegal. Tingginya permintaan kopi arabika membuat masyarakat juga semakin agresif mencari lahan baru untuk tempat menanam kopi arabika.

Petani sayuran di Kayu Aro juga mulai banyak beralih menanam kopi arabika. Mereka paling tidak mengganti sebagian kebun sayur mereka untuk lahan kopi. Bahkan di halaman rumah juga ditanami kopi arabika, karena harga ceri merah kopi dianggap menarik, berkisar Rp8 ribu-Rp10 per kilogram. Kopi arabika ini dipanen setiap dua minggu.  Buah kopi robusta jauh lebih murah, hanya Rp3 ribu per kilogram.

Tetapi dampak perubahan iklim mulai dirasakan petani kopi arabika di Kayu Aro. Kemarau yang panjang tidak hanya menyerang tanaman kopi, tetapi juga komoditas pertanian seperti sayuran, kentang, kol, dan tomat. Perkebunan teh PTP Nusantara VI yang terhampar luas di lereng Gunung Kerinci juga terlihat mulai menguning, pucuk daunnya tidak tumbuh karena kemarau yang panjang.

Kebun kopi Edi Santoso juga mulai terkena dampaknya. Ia mengeluhkan kemarau panjang tahun ini yang akan mengancam panen kopinya tahun depan.

“Produksi  buah turun 30 persen selama September, ini cuaca paling ekstrem yang saya rasakan dalam 10 tahun terakhir, tahun ini kemaraunya lebih panjang,” katanya 30 Oktober 2019.

Pada tahun lalu menurutnya cuaca lebih stabil, curah hujannya bagus, kemaraunya juga  imbang, pada musim kemarau dalam seminggu tetap ada satu atau dua kali hujan. Musim kemarau tahun ini dimulai Mei tetapi jarang hujan. Bahkan pada Agustus hampir tidak ada hujan.

“Pada awal September tiba-tiba turun hujan es yang sangat deras menjelang subuh, esnya sebesar buah kopi, daun kopi banyak yang robek terkena hujan es, bunga kopi yang sedang mekar juga 90 persen gagal jadi putik karena serbuk sarinya lengket,” katanya.

Hama pada tanaman kopinya juga mulai muncul, seperti penggerek batang, penggerek buah, dan karat daun. Yang paling banyak adalah hama penggerek batang. Sebanyak 10 batang kopinya sudah terserang hama ini dan mati kekeringan.

Di kebunnya, sebatang kopi terlihat sedang berbuah lebat, tapi daunnya mulai menguning. Edi memastikan tanaman kopi itu sudah terkena hama penggerek batang. Ia menujukkan buktinya. Kulit batang kopi yang berjarak sejengkal dari tanah ia bersihkan dengan tangan dan kulit luar yang kering ia kupas. Ternyata di dalamnya terlihat lajur batang yang melingkar memutus kulit yang dibuat oleh hama penggerek batang.

Buah kopi yang diserang hama penggerek buah. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Yang mengerek ini larvanya, nanti jadi kumbang kecil dan berpindah ke pohon lain, dia menyerap sari makanan dari akar ke batang sehingga tanamannya mati,” ujarnya. 

Dia juga menunjukkan buah kopi yang terkena penggerek buah, ada lubang hitam pada ceri kopi yang belum merah. Beberapa daun kopi terlihat terkena karat daun. Dia belum tahu cara penanganan untuk hama ini karena tidak ingin menggunakan pestisida untuk tanaman kopinya.

“Tahun sebelumnya hama ini sudah ada, tetapi dalam dua bulan ini yang paling banyak ,” katanya.

Ia berharap ada penelitian dari para ahli untuk menanggulangi hama di kebun kopinya.

Edi menanam lima varietas kopi, yaitu borbor, andung sari, sigarar utang, P88, dan S 795. Selain diminta oleh pabrik yang menampung kopinya, juga karena berbagai varietas tersebut punya kelebihan sendiri. Seperti sigarar utang buahnya banyak, tetapi tidak tahan penyakit, sementara borbor yang buahnya sedikit, lebih tahan penyakit.

“Saya perkirakan produksi buah bisa turun 20-30 persen, bahkan bisa lebih buruk lagi kalau hujan tidak juga turun, karena kopi butuh air, kopi akan bagus pertumbuhnannya kalau hujan, lebih cepat berbunga, dan buahnya padat,” katanya.

Pohon naungan, menurutnya, akan bagus saat musim kemarau, agar tanahnya tetap lembap.Tetapi pohon naungan juga menjadi masalah saat musim penghujan, karena lebih banyak pohon kopinya yang diberi pohon penaung yang terkena penyakit karena terlalu lembap.

“Jadi pohon naungan ini ada saatnya menguntungkan, tapi ketika hujan merugikan, karena penyakit seperti jamur pada tanaman kopi jadi mudah berkembang,” katanya.

Petani kopi arabika lainnya, Sucipto, 71 tahun, di Desa Kersik Tuo, Kayu Aro juga menghadapi masalah yang sama. Ia memiliki 400 batang kopi arabika yang ditanam bersebelahan dengan tanaman sayuran seperti tomat, cabe, kol, dan ubi.

Ia mengatakan, sejak kemarau selama emat bulan terakhir, masa panen kopinya lebih lama. Biasanya ia panen buah merah sekali dua minggu, tapi sekarang hanya sekali tiga minggu.

“Buah kopi itu sekarang masa masaknya lebih lama dan lagi musim  kemarau macam ini bunganya nggak keluar, seharusnya sudah banyak bunganya, nggak pernah berhenti berbunga, ini sejak kemarau jadi jarang berbunga,” katanya.

Buah kopinya juga lebih sedikit, biasanya panen 200-300 kg per dua minggu, tapi sekarang per tiga minggu hanya mendapatkan 30-40 kg buah merah kopi.

Cerri merah kopi arabika Kerinci. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Sekarang ini masa kemarau paling lama, dalam bulan September ini hanya ada tiga kali hujan,” ujarnya.

PT Agro Tropic Nusantara yang mengolah dan mengekspor kopi arabika kerinci juga sudah memperkirakan  penurun produksi kopi untuk tahun depan. Direktur PT Agro Tropic Nusantara Emma Fatma mengatakan akan ada penurunan hingga 30 persen akibat musim kemarau panjang tahun ini.

Pabrik Agrotropic Nusantara di Desa Sungai Lintang, Kayu Aro Barat  dalam sehari mengolah 8-9 ton ceri kopi arabika yang dipasok dari 600 lebih petani di Kayu Aro yang jadi mitra mereka.

Di pabrik ini 5 varietas kopi arabika, yaitu andung sari, sigarar utang, P88, borbor, dan S 705 ini dijadikan ‘greenbean,’ dengan proses ‘wet huling’, ‘honey proses’  dan ‘dry huling’. Kelima varietas ini  setelah menjadi bean lalu dicampur menjadi satu sebelum dijual. Inilah yang dijadikan keunggulan cita rasa kopi arabika kerinci oleh PTAgro Tropic.

Setiap bulan perusahaan ini mengekspor dua kontainer kopi arabika ke Amerika, Jerman, dan Inggris seberat 36 ton dengan nilai ekspor Rp3,2 miliar.  Emma Fatma mengatakan, niat awal mengajak petani menanam kopi arabika untuk mengurangi perambahan di kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat. Hingga saat ini PT Agro Tropic Nusantara hanya membeli kopi dari petani yang menanamnya di luar kawasan TNKS.

“Yang kopinya ditanam di TNKS tidak akan kami beli,” ujarnya.

Untuk penurunan produksi kopi tahun depan, ia akan memberikan informasinya kepada pembeli.

“Ya, bagaimana lagi, kondisinya sekarang seperti ini, mereka juga semoga bisa menerima,” ujarnya.

Nanda Pratama dari Agrotropik Nusantara yang mendampingi petani kopi mengatakan sebagian besar petani kopi dampingannya  merasakan dampak musim kemarau.

“Ada yang kopinya mati kekeringan, terutama kopi yang tidak punya naungan, terkena penggerek batang, penggerek buah, buah hijau kisut karena kekurangan air, dan bunga kopi yang rontok, rata-rata kopi petani yang rusak dan mati 15 persen,” katanya.

Ia memperlihatkan  kebun kopi di Desa Sungai Renah, Kayu Aro. Kopi arabika yang ditanam di tepi jurang itu terlihat lebih merana. Tanahnya kering dan beberapa tanaman kopi mati kekeringan. Buah hijaunya terlihat kisut. Buah kopi yang merah juga ada yang terkena hama penggrek buah.

Dampak perubahan iklim memang sedang mengancam kopi di dunia, termasuk di Indonesia sebagai negara penghasil kopi keempat di dunia. Penelitian menunjukkan pada 2050 setengah dari kopi akan hilang. Bahkan pada 2080 kopi diperkirakan akan punah.

Profesor Rizaldi Boer, direktur Pusat Risiko Iklim dan Manajemen Peluang di Asia Tenggara dan Pasifik (CCROM-SEAP) dari Institut Pertanian Bogor mengatakan perubahan iklim sedang terjadi.

“Kita akan dihadapkan pada kondisi-kondisi yang ekstrem, kondisi tidak hujan berturut-turut itu akan semakin sering, begitu juga musim kemarau akan semakin lama, musim hujan semakin basah, musim kemarau semakin kering, perbedaannya semakin tajam, perubahan iklim ini akan berdampak kepada pertanian, salah satunya kopi,” ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi kopi di Afrika yang produksinya semakin menurun. Pola yang sama juga sedang terjadi di Toraja, Toba, dan Lampung.

“Suhu meningkat, kopi butuh suhu dingin, terutama arabika, jadi kalau suhunya naik petani makin naik ke atas ke dataran yang lebih tinggi, lahannya semakin berkurang, mau naik ke mana lagi, ancamannya kepada kawasan hutan lindung,” katanya.

Perubahan iklim, kata Rizaldi, juga membuat serangan hama kopi meningkat, terutama penggerek buah kopi seperti yang terjadi di Toba, Sumatra Utara.

Dari kajian timnya di Toba, serangan hama semakin meningkat, karena makluk hidup, hewan, dan tanaman butuh satuan panas untuk bisa menyelesaikan siklus hidupnya. Semakin dingin suhunya semakin lama butuh waktu. Tapi semakin panas suhu semakin cepat makhluk hidup tersebut menyelesaikan siklus hidup.

“Hama juga demikian, semakin panas suhunya semakin cepat dia menyelesaikan siklus hidup dan semakin pendek siklusnya, perkembangbiakannya semakin kencang untuk melipatgandakan populasi, serangannya semakin cepat kepada kopi,” katanya.

Implikasinya kepada kopi tidak hanya dari produktivitas, tetapi serangan hama juga semakin sulit di kendalikan.

“Jadi buat penikmat kopi, surga dunianya bisa hilang satu,” ujarnya.

Menurut Rizaldi  saat ini manusia harus berpacu dalam penelitian untuk menemukan varietas yang tahan hama. Isu perubahan iklim harus dimainkan dalam perencanaan riset. Kenaikan suhu global akan berdampak sangat besar terhadap iklim di Indonesia. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Liputan ini merupakan bagian dari program pelatihan dan beasiswa Kopi dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) dan didukung oleh Internews’ Earth Journalism Network.