Aksara pada Batik Incung Kerinci

Erni Yusnita dengan batik Incung karyannya. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

SELEMBAR kain batik dibentangkan di hadapan saya. Kain halus dengan dasar warna hitam itu di dalamnya terhampar lukisan motif bunga kopi berwarna cerah, lengkap dengan kelopak daun dan tangkainya.

Sesaat tiba-tiba saya merasa sedang bertamasya ke kebun kopi di Kerinci, menikmati pemandangan hamparan pohon kopi yang sedang berbunga, merekah dibawah sinar matahari pagi.

Beberapa kain batik kerinci lainnya dalam warna-warna yang cerah seperti ungu, biru muda, hijau muda, merah dengan motif yang berbeda-beda juga memberi nuansa yang sama. Mengamatinya seperti sedang bertamasya melihat  budaya dan keindahan alam Kerinci.

Ada selembar kain batik berwarna ungu dengan taburan motif daun sirih dan buntalan embun. Sirih punya arti penting pada budaya Kerinci. Sirih disuguhkan untuk tamu sebagai tanda penghormatan.

Batik Incung Kerinci. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Pada kain lainnya, ada batik dengan motif jangki, anyaman rotan yang biasa disandang petani saat ke ladang. Ada motif lapek rawang, tikar dari anyaman tumbuhan bigea (sejenis tanaman air yang berongga, tegak sepanjang satu meter) untuk tempat duduk yang dihias dengan motif indah.

Ada juga selembar kain batik dengan motif rumah larik. Ini rumah adat Kerinci. Rumah panggung yang panjang berdert seperti gerbong kereta api, disekat untuk tiap-tiap keluarga. Ditopang tiang-tiang kayu yang kokoh.

Wisata budaya Kerinci melalui selembar kain di hadapan saya terus berlanjut ke lembaran kain berikutnya. Selembar kain hitam dengan batik motif karamentang berwarna oranye. Karamentang adalah bendera penanda kenduri sko, kenduri pusaka di Kerinci.  Ini kenduri adat yang paling sakral, saat benda-benda pusaka diturunkan dari loteng rumah untuk dimandikan.

Dan yang paling menarik, pada tiap kain batik itu terdapat tulisan aksara Incung. Ini aksara Kerinci kuno yang digunakan pada masa sebelum Islam.

Aksara Incung ditemukan pada naskah kuno Kerinci yang ditulis pada tanduk kerbau, bambu, kulit kayu, dan daun lontar yang dijadikan benda pusaka yang dijaga masyarakat Kerinci turun-temurun selama berabad-abad.

Batik Incung dengan warna yang cerah banyak digunakan untuk pakaian. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Tulisan Incung yang miring dan patah-patah itu menjadi motif yang menarik dalam tiap lembaran batik Incung Kerinci.

“Tulisan Incung dalam batik itu ada artinya sesuai dengan motif, misalnya pada motif batik bunga kopi, ada tulisan incung bunga kopi, begitu juga pada motif yang lainnya, dijelaskan dengan tulisan Incung,” kata Erni Yusnita, pemilik rumah produksi Incung (Batik Handmade) di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi.

Erni menjelaskan tentang semua detil kain batiknya kepada saya. Tiap bulan rumah batiknya memproduksi sekitar 100 sampai 200 kain batik cap dengan ciri khas menggunakan motif aksara Incung. Ia menciptakan sendiri motif-notif yang melambangkan budaya Kerinci tersebut.

Saya bertemu Erni di rumahnya di Larik Pante, Kota Sungai Penuh, pada Lebaran Idul Fitri 2018 hari kedua. Erni adalah kakak Nora, sahabat saya di SMA. Secara tidak sengaja, saat bertemu Nora, saya menanyakan tentang kain batik Incung Kerinci, karena Nora selalu terlihat memakainya. Nora menceritakan kakaknya adalah pembuat batik Incung Kerinci. Saya langsung datang ke rumahnya.

Tetapi karena sedang lebaran, tidak ada yang sedang membuat batik. Saya tetap surprise bisa melihat semua kain batik Incung yang dibuat Erni. Selama ini saya belum pernah melihat batik Incung Kerinci, batik yang menurut saya unik dan mengagumkan. Baru kali ini saya melihat batik dengan motif yang melambangkan budaya Kerinci, juga dihiasi dengan aksara.

Simbol-Simbol Budaya Kerinci

Erni mengenal batik Incung ketika mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Sungai Penuh pada 2012. Instrukturnya dari Balai Besar Kerajinann Batik Indonesia Yogyakarta.

Erni dan 49 peserta lainnya dari Kota Sungai Penuh diajarkan membatik dengan pewarnaan alam yang menggunakan indigo, jalawe, kulit manggis, kulit jengkol, dan mahoni.

“Saat itu kami semua masih buta dengan batik dan diajarkan selama 15 hari sampai bisa,” ujarnya.

Setelah pelatihan para peserta disuruh membentuk beberapa kelompok dan diberi modal peralatan batik oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Hasil kain batiknya dijual kepada pemerintah kota.

“Saat itu karena baru uji coba dan baru belajar hasilnya sedikit, untuk membuat selembar batik motif Incung dengan pewarnaan alam membutuhkan waktu hingga 20 hari,” kata Erni.

Pemerintah saat itu berniat membangkitkan kembali batik Kerinci dengan motif aksara Incung yang mati suri sejak 1990-an.

Dari batik yang dihasilkan ternyata pewarnaan alami kurang diminati masyarakat Kerinci yang lebih suka warna-warna yang cerah.

“Akhirnya kami diajari lagi cara membatik dengan pewarnaan sintetis oleh pemerintah,” ujarnya.

Usai pelatihan kedua, Erni mulai mengembangkan usaha batiknya. Ia juga membuat beragam motif yang digali dari budaya Kerinci, karena pembeli lebih menyukai motif batik yang berbeda-beda.

“Tipikal pembeli di sini kain batiknya tidak ingin sama motif dan warnanya dengan yang sudah dipakai orang lain, jadi saya harus rajin membuat motif baru,” kata Erni.

Ia juga mempelajari aksara incung Kerinci dari buku dan membuat motifnya untuk batik.

“Huruf incungnya hanya saya percantik, tanpa mengubah maknanya, karena ini akan digunakan untuk motif batik,” kata Erni.

Erni juga membuat motif batik dari simbol-simbol budaya Kerinci seperti keris, carano tempat sirih, rumah larik, jangki, dan bendera Karamentang. Motif tumbuh-tumbuhan juga banyak dibuatnya seperti bunga teratai, bunga kopi, kantung semar, keluk paku, dan pucuk rebung.

Beberapa contoh Batik Incung karya Rumah Produksi “Incung” Sungai Penuh. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Saya punya 50 lebih motif yang saya bikin sendiri dan dicetak dengan biaya sendiri di Yogya,” ujarnya.

Selembar kain batik tersebut dijual dengan harga beragam, tergantung rumit dan lama pengerjaannya.

Kain batik satu set dengan selendang lebar untuk tengkuluk (selendang penutup kepala khas Kerinci) dijual mulai Rp300 ribu hingga Rp1 juta.

Untuk selembar kain berukuran 2 meter x 115 cm harganya Rp150 ribu hingga Rp300 ribu untuk batik pewarna sintetis. Sedangkan untuk batik pewarnaan alam harga per lembar berkisar Rp300 ribu hingga Rp700 ribu.

Kain batik Kerinci saat ini, menurut Erni, sedang banyak digemari masyarakat Kerinci dan orang luar Kerinci.

“Tetapi batik pewarnaan alam lebih banyak dibeli turis asing, kalau orang kita lebih suka yang warnanya cerah,” katanya.

Keindahan batik incung ia promosikan di media sosial, melalui akun Facebook-nya Erni Yusnita dan Instagram Yusnitae. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)