Merawat Kebhinnekaan Lewat Medsos

Suasana acara. (Foto: Dok. Kementerian Kominfo)

DIREKTORAT Pengelolaan Media, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat menggelar Workshop Literasi Media Sohib Berkelas di Hotel Mercure Padang Sabtu, 17 November 2018.

Workshop bertema “Merawat Kebhinnekatunggalikaan Dengan Bijak Bermedia Sosial” tersebut diikuti 250 mahasiswa UIN Imam Bonjol.

Menurut panitia, dikutip dari siaran pers yang dikirimkan kepada JurnalisTravel.com, latar belakang diadakannya workshop karena pertumbuhan pengguna media sosial yang pesat tidak diikuti pengetahuan dan kesadaran bermedia sosial dengan bijak, sehingga marak penyebaran konten negatif seperti ‘hoax’ (kabar bohong), ujaran kebencian, dan radikalisme.

Acara dibagi dua sesi dengan narasumber Asisten Kantor Staf Presiden Andoko Darta, Staf Ahli Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Bob R. Randilawe, Lektor Kepala Fakultas ADAB dan Humaniora UIN Imam Bonjol Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo, dan Redaktur IndonesiaBaik.id M. Ishaq Dwi Putra.

Andoko Darta pada sesi pertama membahas ”Produksi Komunikasi dengan Teknik Bercerita”. Ia memaparkan bagaimana membuat konten dengan teknik bercerita, seperti memuat unsur yang menyentuh hati dan unsur humor.

Bob Randilawe menyampaikan materi “Merawat Nasionalisme, Toleransi, dan Ke-Bhinnekatunggalikaan dengan cara Bijak Bermedsos”.

“Media sosial bagaikan pisau bermata dua, dapat mendorong reformasi, namun juga dapat mematikan reformasi dengan empat hal, yaitu hoax (kabar bohong), ujaran kebencian (hate-speech), hasutan (agitasi), dan radikalisme,” ujarnya.

Bersikap bijak dalam bermedsos, katanya, menuntut sikap kedewasaan dan rasa kebangsaan yang tinggi, serta pemahaman terhadap fungsi positif dan dampak negatif bermedsos.

Yulizal Yunus mengangkat judul ”Nilai Adat Budaya Minangkabau dan Bijak Bermedsos: Haq Kontrol Hoax”. Menurutnya masyarakat Minang pada khususnya dapat memerangi “hoax” dengan kearifan lokal Minang agar tercapai visi orang Minang, yaitu “nagari aman santoso”.

Ishaq Dwi Putra mengisi sesi kedua dengan mengajarkan teknis membuat konten positif dengan menggunakan ponsel pintar.

Ia melatih peserta membuat konten menggunakan aplikasi Quik, aplikasi penyuntingan video gratis yang tersedia di Playstore (Android) maupun Appstore (iOs/iPhone). (jt)

Para narasumber workshop “Merawat Kebhinnekatunggalikaan Dengan Bijak Bermedia Sosial”. (Foto: Dok. Kementerian Kominfo)