Merasakan Bilik Raja di Raja Ampat

Batu-batu karang yang seakan tumbuh di tengah laut. (Foto: Syafrizaldi Aal/ JurnalisTravel.com)

PULAU ini disebut juga “bilik raja”, tempat pada zaman dulu para raja di Raja Ampat, Papua Barat melepaskan penat. Panoramanya hamparan laut dengan karang tajam yang seolah tumbuh, menjadi pengantar tidur.  Damai bilik raja dijaga karang tunggal bak menara.

Manyai Funuk namanya, sebuah pulau kecil, satu-satunya pulau yang menyediakan pasir landai untuk berlabuh. Sisanya, pulau-pulau sekitar seolah enggan didatangi karena hanya menyediakan karang tajam.

Pasir landai Manyai Funuk tak seberapa luas, paling hanya muat untuk berlabuh lima perahu. Bentuknya memanjang dari tengah pulau, kemudian menjorok sempit ke tengah hingga pada batas ujung yang menyediakan menara karang.

Tak banyak manusia datang ke tempat ini. Selain pertimbangan biaya dan jauh dari lokasi pemukiman, Manyai Funuk juga memiliki pemandangan batu-batu karang di laut.

BACA JUGA: RINDU BELUM TERBAYAR DI WAYAG RAJA AMPAT

Namun pulau ini adalah pulau yang istimewa, karena bagian dari dongeng panjang Kepulauan Rajaampat.

Dari Sorong, Manyai Funuk terletak cukup terpencil. Para pelancong harus terlebih dahulu mendatangi Waisai, ibukota Rajaampat yang persis berada di bibir pantai Pulau Waigeo.

Marten Dawa menyambut kedatangan saya di Manyai Funuk.

“Selamat dating, Pace,” katanya dalam logat Papua yang kental dan bersahabat.

Lukisan di dinding karang. (Foto: Syafrizaldi Aal/ JurnalisTravel.com)

Saya turun dari perahu, bulir pasir kasar menyambut kaki saya yang tak beralas. Saya melempar senyum kepada Marten, tapi sekejap kemudian mengerutkan kening karena pasir kasar itu seolah menusuk telapak kaki. Hampir dua jam meringkuk di perahu membuat tubuh saya harus menyesuaikan dengan keadaan pasir berkarang kasar itu.

BACA JUGA: MELOMPAT DI BUKIT TELETUBBIES PAPUA

Marten membantu menambatkan perahu, mengikat tali pada batang kelapa yang tumbuh agak condong ke laut. Tempat berlabuh saya adalah sebuah teluk mungil di Manyai Funuk. Gelombang laut reda karena pulau itu melindungi dirinya sendiri dari terpaan ombak.

Perahu yang dikendarai Onco Dawa menyusul tak lama kemudian.  Onco adalah anak tertua Marten. Kami baru saja kembali dari kompleks Telur Raja, satu-satunya tempat yang dipercaya sebagai asal para raja di kepulauan ini.

“Inilah bilik raja,” ucap Marten memperkenalkan pulaunya.

Marten adalah juru kunci kompleks keramat Telur Raja. Saya beruntung karena bisa mendatangi komplek itu bersama Onco. Jika tidak, maka tak seorang pun tanpa pendampingan salah satu di antara mereka yang bisa datang ke kompleks tersebut.

Dia menjelaskan, dulu para raja kompleks keramat Telur Raja biasa beristirahat di Manyai Funuk.  Baik saat mereka akan pergi, maupun ketika kembali.

So, Pace su jadi raja sudah,” katanya tersenyum.

Saya tergelak. Candaan Marten yang renyah membuat suasana menjadi sangat cair. Pria ini menceritakan asal-muasal legenda Raja Ampat.

Kampung-kampung berada jauh dari Manyai Funuk, tapi bilik raja merupakan satu kesatuan bentang laut yang tak terpisah dengan Wawiyai.

Kawasan Wawiyai sebuah bentang perairan laut nan sepi. Masyarakat mengandalkan hasil laut dan meramu hasil alam untuk bertahan hidup.  Marten dan Onco mengandalkan keramba apung membesarkan kerapu.

Sedangkan di pusat desa di Wawiyai, masyarakat hidup dalam rumah-rumah kayu yang menyatu dengan laut. Pemerintah pernah berencana membuat jalan ke wilayah itu dari Waisai, tapi tak kunjung terwujud.

BACA JUGA: CINTA DI BALIK RAMBUT PANJANG LELAKI PAPUA

Juga rencana transmigrasi yang terbengkalai. Mungkinkah rencana-rencana itu akan terwujud pada tahun-tahun mendatang? Entahlah.

Yang pasti, Manyai Funuk akan terus ada sebagai persinggahan yang unik. Dia terpisah jauh dari pemukiman dan memanjakan mata dengan pemandangan batu-batu nan tumbuh dari dalam laut. Bukit karang di Punggung Manyai Funuk seolah menjaga tempat berlindung dari terpaan angin. Sementara karang yang berada di pelataran pulau bagai mercu penjaga.

Saya menikmati sisa waktu hingga sore di Manyai Funuk. Marten mendongengkan kisah para raja mengisi waktu rehat saya.

Kisah Raja Berempat

Marten bercerita, Raja Ampat adalah gugusan pulau yang dikuasai empat orang raja. Keempatnya berasal dari telur temuan Buku Denik Kapatlot, seorang perempuan yang konon pernah hidup di wilayah perairan yang kini dikenal sebagai Kali Raja, tak jauh dari kompleks Telur Raja.

Suami Denik Kapatlot, Aliau Gawan, meminta istrinya merebus ketujuh telur itu. Tapi Kapatlot ingin telur itu menetas. Ahkirnya enam telur menetas menjadi manusia.

“Mereka jadi anak sudah, lima laki-laki dan seorang perempuan,” ujar Marten.

Pasangan ini, lanjutnya, memberi nama Pin Tekik untuk anak perempuan. Tapi seorang anak lelaki hilang, sayang dia belum diberi nama. Pasangan suami istri ini percaya anak yang hilang itu telah menjadi tumbal bagi saudara-saudaranya.

“Empat yang tersisa diberi nama Klanagi War, Kalanamiyan, Untusan, dan Kelimuri,” katanya.

Anak-anak dari pasangan ini sesungguhnya bukan anak-anak biasa. Mereka dapat berhubungan dengan dunia roh dan memiliki kekuatan supranatural.

Pernah terjadi konflik antara keluarga ini dengan orang-orang Fiawat, kelompok masyarakat yang tinggal tak jauh dari perairan Kali Raja.  Puluhan orang Fiawat kalah melawan Buku Denik Kapatlot dan suaminya dalam baku tarik tali.

“Mulanya orang Fiawat merasa akan menang, karena dia hanya dibantu suami, tapi mereka tidak sadar kalau para raja ukit membantu, tentu para raja tidak berujud fisik,” kata Marten.

Kepercayaan orang-orang Raja Ampat akan kekuatan di luar kemampuan manusia telah mengakar sedemikian rumit. Hal ini berpadu dengan nuansa alam nan memanjakan mata. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok suku yang menguasai pulau-pulau berjauhan.

Bilik Raja membisu saat ombak menyapa pantai. Dia juga kukuh saat Marten berucap salam ketika akan kembali pulang. (Syafrizaldi Aal/ JurnalisTravel.com)