Cinta di Balik Rambut Panjang Lelaki Papua

Hengky Yaimo (kanan) dan Agus Pabika (kiri) bersama saya di sebuah hotel Kota Jayapura, pertengahan Februari 2018. (Foto: JurnalisTravel.com)

HENGKY Yeimo di kiri saya dan Agus Pabika di kanan saya adalah lelaki dari daerah pegunungan Provinsi Papua. Keduannya memiliki rambut gimbal. KBBI mengartikan “gimbal” sebagai “lebat dan tidak teratur (karena tidak disisir)”.

Keduanya yang saya jumpai di Kota Jayapura tentu saja memiliki rambut keriting. Tetapi selain membiarkan rambutnya panjang, Hengky juga membiarkan cambang dan janggutnya tumbuh subur. Sedangkan Agus memiliki rambut panjang yang dijalin kecil-kecil bagaikan belalai gurita.

Saya semula mengira Hengky dan Agus sengaja memanjangkan rambut karena tren atau kesenangan belaka. Ternyata saya keliru. Rambut kedua jurnalis Koran Jubi di Jayapura, Provinsi Papua tersebut panjang ternyata berkaitan dengan adat. Berkaitan dengan kisah cinta yang mendalam dan ketaatan kepada tradisi yang dijalankan sejak zaman nenek moyang mereka.

“Saya berhenti memotong rambut, mencukur cambang dan janggut setelah mengetahui istri saya hamil,” kata Hengky tersenyum.

Itu adalah adat Suku Mee di Wilayah Adat Meepago. Suku Mee memiliki teritori di tiga kabupaten di Provinsi Papua, yaitu Kabupaten Deyai, Kabupaten Dogiyai, dan Kabupaten Paniai. Ketiga kabupaten berada di daerah pegunungan sebelah barat dan di sebelah timurnya adalah Timika.

Berbeda dengan sejumlah pemuda yang mulai meninggalkan tradisi ketika kuliah dan menetap di ibukota provinsi seperti di Jayapura, Hengky memilih tetap menjalankan tradisi. Meski tak jarang orang heran dan menanyakan kenapa ia tidak cukuran.

“Bagi kami Suku Mee, begitu tahu istri hamil selama sembilan bulan sampai ia melahirkan, suami tidak boleh cukur kumis, cukur cambang dan janggut, potong rambut, tidak boleh mengasah parang, tidak boleh bunuh binatang atau berburu yang menyebabkan binatang berdarah, dan tidak boleh berzina,” ujarnya.

Karena selama istri hamil seorang suami tidak boleh berburu, maka keluarganya hidup dengan memakan keladi.

Hengky mengetahui istrinya hamil setelah memastikan kepada bidan pada Mei 2017. Saat tulisan ini diterbitkan ia sedang menunggu hari-hari kelahiran putra pertamanya yang berdasarkan USG berjenis kelamin laki-laki.

Selain tidak memotong rambut, laki-laki juga tidak boleh berhubungan badan dengan istrinya selama hamil. Setelah istri diketahui hamil, laki-laki akan berpisah tinggal dengan istri. Istri tetap di rumah, sedangkan laki-laki akan tinggal di Emaowa, rumah adat untuk laki-laki. Setelah mengetahui istrinya hamil, Hengky mengantarkan istrinya ke kampung dan ia tinggal di Jayapura.

“Ketika istri diketahui melahirkan, saya tidak akan boleh mendekat untuk pegang dia, kalau anak sudah keluar barulah saya boleh mendekat,” katanya.

Setelah anak lahir barulah diadakan pesta syukuran “bakar batu babi”. Babi dipotong dan dimasak di kuali. Barulah sang suami yang sudah brewok akan cukuran.

Sejumlah pantangan tersebut juga dikaitkan dengan dampaknya terhadap calon bayi. Jika suami-istri berhubungan badan saat hamil dipercayai akan berdampak kepada lemahnya tubuh anak. Sedangkan jika suami memotong rambut, janggut, dan cambang saat istri hamil dipercayai bisa membuat anak lemah dan cengeng. Ia nanti tumbuh tidak kuat.

Istri juga memiliki sejumlah pantangan ketika hamil yang dipercayai bisa berdampak kepada perkembangan anak. Ia tidak boleh menganyam rambut yang bisa berdampak jika melahirkan bayinya terlilit tali pusar. Ia juga tidak boleh duduk di jalan di rumah yang biasa dilalui orang yang bisa membuat ibu jari kaki anaknya bengkok.

Ia juga tidak boleh marah-marah selama hamil yang nanti bisa menurunkan sifat pemarah kepada anaknya.

“Ada kejadian anak lahir matanya juling, kakinya besar sebelah dan kecil sebelah, bahkan ada yang meninggal, itu dipercayai karena ibu-bapaknya melanggar pantangan,” katanya.

Hengky sendiri lahir di tengah Suku Dani ketika ayahnya, Paulus Yeimo, menjadi guru di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak Jaya. Namun bapaknya tidak mengikuti adat Mee dengan tetap bercukur ketika ibunya hamil.

“Mungkin karena ia guru dan ia mengatakan tidak ada pengaruh, tapi selalu ketika saya dan adik-adik dilahirkan, Patua (Bapak) tidak ada,” katanya.

Sepanjang apa janggut seorang suami yang tidak dipotong selama sembilan bulan? Hengky mengatakan bisa hingga sejengkal, meski janggut Hengky tidak sampai sejengkal. Ya, itu tergantung kecepatan tumbuh masing-masing janggut dan karena keriting terlihat tidak begitu panjang.

Sebenarnya, istri Hengky sudah menyuruh Hengky untuk mengabaikan adat, karena kelihatan kurang rapi. Tapi Hengky memilih menjalankan adat demi penyelamatan tradisi.

“Saya menghayati anugerah dari Tuhan, ini sebagai simbol terhadap semua kerinduan dan keinginan saya untuk punya anak,” ujarnya.

Semua prosesi yang diikutinya selama sembilan bulan menyiratkan cinta kepada keluarga. Agar seorang suami dan calon ayah selalu ingat kepada beban istrinya yang hamil dan kepada anak yang akan lahir.

RAMBUT DUKA SUKU HUBALA

Jika Hengky Yeimo memanjangkan rambut karena menunggu kelahiran, sebaliknya Agus Pabika memanjangkan rambut karena duka atas kematian orang yang dicintainya.

Ini adalah tradisi Suku Hubala. Suku ini tinggal di dekat Suku Dani di Lembah Baliem, Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Hengky Yaimo (kiri) dan Agus Pabika (kanan) bersama saya di sebuah hotel Kota Jayapura, pertengahan Februari 2018. (Foto: JurnalisTravel.com)

Agus sudah lima tahun tidak memotong rambutnya. Itu terjadi sejak nenek yang dicintainya meninggal dunia.

“Nenek meninggal ketika saya Kelas 2 SMA, waktu itu rambut saya pendek, saya berduka dan memilih memanjangkan rambut sebagai tanda duka, sebab saya mengharga jerih payah nenek yang membantu saya sekolah dan membantu jaga saya, saya memanjangkan rambut karena rasa keprihatinan saya,” kata Agus.

Di SMA Agus pernah “baku-marah” dengan kepala sekolah karena mempertahankan rambut panjangnya. Sedangkan orang tuanya tidak mempersalahkan karena ia memanjangkan rambut atas alasan tradisi.

“Orang tua mengizinkan saya memilih memanjangkan rambut karena sebagai balas budi kepada nenek, bukan dalam bentuk harta, tetapi dengan memelihara rambut,” ujarnya.

Saat memilih duka dengan memanjangkan rambut, Agus tidak terpikir akan kuliah di Jayapura. Karena itu setelah kuliah ia harus terus memanjangkan rambutnya. Karena tradisi, tidak gampang untuk memotong rambut Agus. Memotong rambut berarti “memotong atau menghentikan duka”. Itu membutuhkan seekor babi untuk ritual potong rambut.

“Jika keluarga iba karena saya terlalu lama berduka, maka yang paling berhak adalah Ayah atau Om (adik ayah) yang harus menghentikan dengan upacara potong babi,” katanya.

Jika Agus sendiri yang ingin menghentikan duka dengan memotong rambutnya, maka ia harus membayar untuk upacara potong babi. Jika ia memotong rambutnya diam-diam, maka dipercayai ia bisa sakit. Selain itu jika diketahui keluarga, ia bisa didenda.

“Om biasanya lihat kondisi kesanggupan keluarga untuk menghentikan kesedihan saya, Bapak katakan jangan potong dulu, lihat kondisi juga untuk acara potong rambut,” ujarnya.

Karena rambutnya tidak dipotong, Agus memilih menjalinnya kecil-kecil. Ia senang dengan model rambut kepang kecil-kecil seperti itu karena lebih berseni. Sehingga ungkapan duka lewat rambut tidak membuat ia terlihat gimbal tak beraturan.

“Orang Papua mengikuti gimbal nggak ada hubungannya dengan Afrika yang lebih banyak dikenal, karena kalau dilihat dari foto-foto lama sudah ada juga model-model rambut macam Baloteli dan lain-lain,” katanya.

Agus memperlihatkan sejumlah foto era Kolonial Belanda dengan gambar orang-orang Papua dengan berbagai gaya rambut yang unik. Tentu saja itu terjadi sebelum nenek moyang orang Papua kenal dengan orang Afrika.

Dahulu, cerita Agus, orang Papua memotong rambut dengan bambu (sembilu). Kemudian rambut dijalin dengan “tanah kabok”. Orang lain yang menjalinkan rambut di pinggir sungai.

“Pilihan panjang rambut atau tidak, di Papua sejak dulu sudah ada,” ujarnya.

Hanya saja dengan rambut panjang yang dijalin tentu saja cukup menyulitkan untuk keramas. Cara satu-satunya hanyalah dengan merendam, mengoleskan sampo, dan membilasnya.

Memanjangkan rambut hanyalah satu dari bebrapa pilihan untuk menunjukkan rasa duka ditinggalkan orang yang dicintai di Suku Hubala. Ada pilihan yang lebih ekstrem, yaitu memotong jari atau memotong kuping.

“Itu cara mengharga arwah keluarga, jika ibu atau bapak, atau suami, atau adik meninggal, sebagai rasa duka maka dipotong satu jarinya dekat engsel tengah dengan kapak batu,” kata Agus.

Karena itu di Suku Hubala masih ditemukan orang yang tidak memiliki beberapa jarinya karena dipersembahkan sebagai tanda duka beberapa keluarga yang dicintainya. Bahkan ada yang tinggal hanya jempol saja.

Selain itu juga ada yang memotong sedikit ujung telinganya. Tapi tradisi memotong bagian tubuh seperti ini sudah jarang ditemukan.

Apakah semua pemuda Papua yang sekarang ditemukan memiliki rambut yang panjang terkait dengan adat seperti yang dilakukan Hengky dan Agus?

“Tentu saja tidak, ada juga yang hanya karena tren,” kata Hengky.  (Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)