Gerakan Pulang Kampung SAS untuk Ketahanan Pangan

adat
Penggambaran materi yang disampaikan Modesta Wisa melalui “graphic recording” karya Dita Goembira.

Oleh: Salmawati

SEKOLAH Adat Samabue (SAS) didirikan pada 24 November 2016 atau empat tahun silam. Sekolah tersebut digagas Modesta Wisa, lulusan Politeknik Kesehatan.

Wisa dan kawan-kawan mendirikan SAS sebagai cara untuk kembali mempelajari dan mengenal praktik-praktik pengetahuan lokal yang bersumber dari tetua adat dan kelompok perempuan.

“Bersumber dari pengetahuan-pengetahuan leluhur, di mana saat ini kami merasakan tidak lagi diwarisi pengetahuan peninggalan leluhur ketika di pendidikan formal,” kata Wisa pada webinar “Ketahanan Pangan Lokal untuk Mengatasi Krisis Sosial Ekonomi” yang diselenggarakan The Samdhana Institute, Senin, 23 November 2020.

Menurut Wisa, pemuda di sekolah memang diajarkan sejarah secara luas, yaitu sejarah Indonesia. Namun sama sekali tidak mengajarkan tentang sejarah asal mula kampung sendiri dan bagaimana sejarah yang terjadi di komunitas adat sendiri.

“Sekolah Adat Samabue merupakan cara untuk menghubungan pengetahuan-pengetahuan dari tetua adat kepada anak-anak muda,” kata Wisa yang membahas “Petani Milenial dari Sekolah Adat Samabue untuk Mendukung Ketahanan dan Kedaulatan Pangan”.

Yang dilakukan SAS, kata Wisa, adalah  melihat permasalahan apa pada waktu didirikan di Menjalin, Kabupaten Landak sebagai sekolah adat pertama di Kalimantan Barat, yakni saat itu mengalami krisis identitas.

petani
Modesta Wisa dengan tanaman cabennya. (Dok. Pribadi)

“Krisis identitas pada saat itu betul-betul mengalami krisis bahasa di mana ketika mereka ke kota tidak banyak lagi teman-teman yang berbahasa Dayak, lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia, kemudian ditambah lagi di sekolah-sekolah formal, adik-adik kami diajarkan Bahasa Indonesia, tidak lagi menggunakan bahasa ibu,” katanya.

Padahal, kata Wisa, bahasa merupakan identitas utama sebagai masyarakat adat. Untuk menyelamatkan itu di SAS ada kelas makanan tradisional yang mempelajari makanan tradisional yang diajarkan kelompok-kelompok perempuan.

Kemudian belajar tarian tradisional Dayak Kanayant, musik, permainan tradisional, dan pengetahuan obat-obat tradisional yang diajarkan orang-orang tua.

Di bidang pangan, kata Wisa, sayur-sayuran saat ini hampir hilang karena saat ini masyarakat adat, khususnya orang Dayak tidak banyak lagi yang berladang. Ada kriminalisasi yang kemudian terjadi pada mereka ketika berladang, termasuk menakut-nakuti mereka tidak boleh membakar lahan untuk berladang.

Selain itu juga maraknya penggundulan hutan, di mana banyak investor yang masuk di bidang pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, sehingga tidak banyak lagi masyarakat adat Dayak Kanayat yang berladang.

Proses berladang di Kalimantan Barat sekarang, kata Wisa, lebih mengarahkan bagaimana masyarakat adat bersawah dengan sistem irigasi dan pengetahuan dari luar Kalimantan yang disebut sistem dari Pulau Jawa.

“Dilakukan pencetakan sawah, kemudian masyarakat diberikan bantuan bibit-bibit unggul, lalu disalurkan pupuk dan obat-obatan,” katanya.

Kondisi seperti tersebut, kata Wisa, mengancam pengetahuan tradisional orang Dayak dalam bercocok-tanam. Karena itu SAS kemudian mengajak anak-anak muda untuk pulang kampung agar bisa terlibat bersama dalam kegiatan-kegiatan orang tua di ladang mereka. SAS menggagas sebuah kegiatan bernama “petani milenal”.

Tujuannya agar mereka kembali mengenal pertanian tradisional dan menyadari masih punya sawah lading. Juga masih punya ritual-ritual adat untuk meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hasil perladangan itu bisa berhasil. Ritual adat tersebut bagian dari adat istiadat agar pertanian itu tidak ada yang terserang hama.

Selain itu, kata Wisa, timbul masalah baru karena gotong royong juga mulai hilang dalam pertanian karena ada sistem upah.

“Jadi kegiatan kami di SAS bagaimana petani milenial bisa membangkitkan gotong royong yang sudah hampir tidak banyak dilakukan,” ujarnya.

Dalam melakukan kegiatan, Wisa dan kawan-kawan banyak belajar. Misalnya bagaimana menanam cabe agar dalam satu batang bisa menghasilkan 3 sampai 4 kg.

“Cuaca atau iklim di Kalimantan Barat memiliki curah hujan yang sangat tinggi dan hampir setiap hari terjadi hujan, kami pernah mengalami gagal panen jahe, diserang usus buah dan usus akar karena curah hujan yang memang sama sekali tidak bisa ditebak, ini adalah bagian dari proses sebuah hambatan dan tantangan,” katanya.

Kondisi seperti itu salah satu yang dihadapi petani milenial, karena bertani merupakan sesuatu yang baru mereka lakukan. Selain itu dalam proses pertanian juga mengkombinasikan pengetahuan lokal dengan modern. Misalnya menggunakan alat-alat bantu saat menanam cabe dengan dibantu mesin pembajak untuk menggemburkan tanah.

“Hal-hal yang menarik dari proses bertani itu adalah belajar bersama dalam artian punya solidaritas yang luar biasa dalam membangun tim, punya ruang-ruang belajar baru, cara mengukur tanah, membuat bedengan bersama, jadi membangun kebersamaan tim itu sangat luar biasa,” ujarnya.

Hal lain yang dipelajari petani milenial, kata Wisa, bagaimana di satu lahan ditanam dengan tanaman kombinasi, misalnya timun dengan jahe, karena jahe harus terlindungi.

Menurut Wisa, terbentuknya gerakan pulang kampung yang dilakukan komunitasnya merupakan virus positif yang dampaknya sangat baik bagi kalangan milenial. Sebab anak-anak muda bisa memanfaatkan lahan pekarangan mereka di kampung dengan sayuran dan tanaman obat tradisional, sehingga mereka bisa menghasilkan sesuatu.

Modesta Wisa satu dari empat narasumber dalam diskusi webinar yang digelar The Samdhana Insitute dalam serial CangKir KoPPI (Berbincang dan Berpikir Kreatif  Kelompok Perempuan dan Pemuda Inspiratif).

Tiga narasumber lainnya adalah Maria Loretta dari Larantuka, NTT, Dicky Senda dari Molo, Timur Tengah Selatan, NTT, dan Charles Toto dari Papua. Sedangkan moderator Paramita Iswari, kandidat doktor di Universitas Gadjah Mada.

Acara dibuka Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kemendagri Dr. Hari Nur Cahya Murni dan pengantar oleh Wakil Direktur Eksekutif The Samdhana Institute Dr. Martua Sirait. (Salmawati)

(Salmawati adalah peserta Pelatihan Jurnalisme Warga yang diadakan The Samdhana Institute dengan peserta pemuda komunitas adat se-Indonesia dengan trainer Syofiardi Bachyul Jb secara online pada 31 Agustus -21 September 2020. Salma seorang mahasiswi dan anggota Pengurus Harian Wilayah AMAN Sulawesi Selatan).