Penghargaan Buat Khamdan, Guru yang Berprestasi di Sekolah 3T

guru 3t

KHAMDAN Muhaimin seorang guru di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Pria 33 tahun ini mengajar di SMPN 5 Sambi Rampas, Desa Rana Mese, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Atas dedikasinya mengajar di daerah 3T, Khamdan mendapat penghargaan dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Guru SMP Inspiratif Tingkat Nasional pada Peringatan Hari Guru Nasional 2020. Ia menerima penghargaan pada Selasa, 24 November 2020.

Seleksi guru inspiratif dilakukan dengan persaingan yang ketat. Setelah lolos tingkat provinsi, seleksi tingkat nasional diikuti 841 guru perwakilan 34 provinsi dan 5 Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN). Seleksi dilakukan secara daring pada 1-20 November 2020.

Ada delapan kategori, yaitu Guru SD Inovatif, Guru SMP Inovatif, Kepala Sekolah SD Inovatif, Kepala Sekolah SMP Inovatif, Guru SD Inspiratif, Guru SMP Inspiratif, Kepala Sekolah SD Inspiratif, dan Kepala Sekolah SMP Inspiratif.

Pada seleksi pertama tiap kategori dipilih 20 besar, kemudian seleksi berikutnya lima terbaik.

“Saya tidak menyangka akan masuk lima besar menyisihkan ratusan guru hebat di tanah air,” kata Khamdan melalui WhatsApp, Selasa, 24 November 2020 malam.

Penjurian, katanya, sangat ketat. Mulai dari penilaian administrasi, naskah, dan presentasi karya. Inovasi dan inspirasi di bidang pendidikan dan kegiatan sosial kemasyarakat menjadi nilai utama dalam penjurian.

“Kelima nominasi masing-masing kategori kemudian diundang ke Jakarta pada 27-30 November 2020, termasuk saya, untuk mendapatkan penghargaan sebagai Guru Inspiratif Nasional 2020,” katanya.

Khamdan berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya, seperti kepala sekolahnya, rekan sesama guru, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur.

guru 3t
Khamdun Muhaimin di pinggir jalan, tempat jaringan internet bisa menjangkau gawai. (Foto: Instimewa)

“Saya berharap ke depan kegiatan ini diselenggarakan kembali untuk menggugah semangat guru-guru di Indonesia dalam berinovasi dan menginspirasi dunia pendidikan menuju pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.

Mengajar di daerah 3T tentu saja tidak seperti sekolah di kota. Sekolahnya tanpa aliran listrik, air bersih sulit, dan jaringan internet sangat susah. Bahkan sinyal jaringan seluler biasa timbul tenggelam. Namun ia tetap memilih mengabdi dengan tulus demi masa depan anak-anak di pedalaman Nusa Tenggara Timur.

“Sebagian guru sudah pindah ke kota, tapi saya sendiri yang bertahan, karena saya memikirkan masa depan anak-anak di pedalaman Nusa Tenggara Timur, apapun kesulitan yang dihadapi itulah panggilan tulus sebagai guru 3T,” katanya.

Khamdan menjelaskan, sejak 2015 ia ditempatkan di sekolah tersebut untuk mengajar.

“Saya tahu daerah 3T di Nusa Tenggara Timur membutuhkan banyak guru untuk mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri ini, saya berharap perjuangan dan pengabdian saya ini sebagai guru 3T menginspirasi guru-guru lain di Kabupaten Manggarai Timur untuk berinovasi dan memberikan inspirasi bagi sesama guru yang mengabdi di pelosok NTT,” ujarnya.

Khamdan mendapat penghargaan terkait inovasi di bidang pendidikan dan sosial kemasyaratan. Di bidang pendidikan ia fokus melakukan digitalisasi sekolah. Sedangkan di bidang sosial kemasyarakatan ia melakukan bakti sosial bersama masyarakat, orang tua murid, dan komite di sekolah membuat empat bak penampung air.

Dari Jawa Tengah

Lulus dari Universitas PGRI Semarang, Jawa Tengah pada 2009, Khamdani mengajar di SMK Muhamadiah Tiga Weleri, Jawa Tengah hingga 2011. Ia mengikuti tes online dan lulus pada 2011 sebagai guru 3T dan ditempatkan di SMPN 4 Nangapenda, Kabupaten Ende.

Setahun mengajar, ia mengikuti pendidikan lanjutan PPG (Pendidikan Profesi Guru) di Semarang. Lulus PPG ia mengajar di SMKN Mandiraja, Jawa Tengah.

Kemudian ia kembali mengikuti tes online untuk guru 3T yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia lulus dan ditempatkan di SMPN 5 Sambirampas, daerah terpencil di Kabupaten Manggarai Timur, NTT pada 2015.

“Saat mengajar di Jawa Tengah banyak kemudahan, sedangkan di SMPN 5 Sambirampas, daerah baru untuk mengabdi dan mengajar memiliki banyak kekurangan fasilitas, kalau soal sumber daya manusia guru tidak ada perbedaan,” katanya.

Kondisi seperti itu bukan membuat Khamdani mengeluh, malah sebaliknya memacunya untuk melakukan berbagai inovasi ekstra keras.

“Saat saya tiba di sekolah itu tidak ada listrik, akses internet juga tidak ada, jalan juga belum diaspal, kesulitan mendapatkan air minum bersih, untuk itu saya harus keluar dari guru zona nyaman dan melakukan berbagai langkah inovasi sesuai dengan fasilitas, sarana, dan prasarana yang serba terbatas,” katanya.

Keterbatasan fasilitas tersebut memicu Khamdani melakukan hal-hal baru. Untuk mengatasi ketiadaan listrik, ia memakai generator. Di sekolah juga tersedia generator. Kesulitan sinyal diatasinya dengan mencari sinyal di sekitar wilayah itu, bahkan ke Pota, ibukota Kecamatan Sambirampas. Ia menghubungi keluarga dan rekan-rekannya.

Ia melakukan digitalisasi di sekolah dengan pengadaan 27 tablet, laptop, PC, dan proyektor yang dibantu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Saya melakukan digitalisasi dengan ujian offline, ujian midsemester dan semester secara offline, serta pemilihan ketua OSIS dengan sistem digital offline,” katanya.

Untuk mengatasi kesulitan air minum bersih di sekitar kampung atau lingkungan masyarakat, ia membuat dua sumber mata air dan membangun bak penampung air.

“Ada donatur yang baik hati dari Pulau Jawa, tugas saya mengawasi pelaksanaan pembangunan air minum bersih tersebut,” ujarnya.

Selain mengajar di sekolah, ia juga membagi waktu untuk mengatasi kesulitan orang tua siswa dan masyarakat.

“Saya laksanakan dengan tulus demi mengatasi kesulitan masyarakat dan di lembaga pendidikan,” katanya.

Rumah kontrakannya yang merupakan milik warga berlantai tanah, ia jadikan rumah belajar di luar jam sekolah dengan les matematika dan mata pelajaran lainnya dari guru di sekolah tersebut.

Di rumah belajar itu ia juga dibantu oleh istrinya yang mengajar di SMA Negeri 4 Sambirampas sebagai guru 3T juga. Bahkan istrinya juga mengajar siswanya di rumah mereka tersebut.

Menurut Khamdani guru 3T bergaji Rp2,9 sampai Rp3 juta per bulan, ditambah tunjangan guru terpencil. Gaji tersebut, katanya, sangat cukup, apalagi perhatian dan dukungan dari pemerintah sangat baik.

Dengan kondisi serba terbatas, ia mengaku tidak pernah mengeluh. Namun memicunya untuk berbuat sesuatu dengan inovasi yang ia peroleh selama kuliah dan mengajar di  Jawa Tengah.

“Saya sungguh merasakan keadaan ini, namun saya mengatasinya dengan cara saya dengan inovasi-inovasi sesuai perkembangan teknologi, serta membantu masyarakat setempat,” kata.

Khamdani dikontrak selama lima tahun sebagai guru 3T di Kabupaten Manggarai Timur. Ia senang karena warga di tempatnya mengajar sangat ramah dan penuh persaudaraan. (Markus Makur)