Pekik Siamang di Hutan Supayang

Kandang satwa di Kalaweit Supayang. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)
Kandang satwa di Kalaweit Supayang. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

PAGI yang dingin. Saya terbangun oleh pekik suara binatang yang terdengar seperti orkestra dari rimba. Serasa sedang bermimpi. Saya tidur dalam kamar berdinding papan. Buka jendela, matahari belum terang, suara-suara itu muncul dari balik pohon-pohon dari hutan gelap di belakang. Baru sadar saya ada di mana: di tengah hutan Supayang. Tempat rehabilitasi siamang dan owa.

Tempat ini dikelola Kalaweit Indonesia, sebuah lembaga konservasi untuk siamang dan owa di Nagarai Supayang, Kecamatan Payung Sakaki, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Saya bergegas mandi dan bergabung dengan staf Kalaweit sarapan pagi.

Saya ke gudang logistik karena ingin ikut penjaga memberi makan primata. Di gudang logistik, lima orang penjaga satwa berseragam oranye sedang mempersiapkan bermacam buah-buahan. Pepaya dan timun di antaranya, dipotong besar-besar tapi dibiarkan berkulit. Lalu memasukkannya ke dalam keranjang plastik bersama pisang.

Areal hutan konservasi satwa yang dikelola Kalaweit di Supayang. (Foto: Febrianti/Jurnalisravel.com)
Areal hutan konservasi satwa yang dikelola Kalaweit di Supayang. (Foto: Febrianti/ Jurnalisravel.com)

Kelihatannya segar sekali. Kalau tidak malu itu untuk makanan satwa, ingin sekali saya ambil satu piring untuk tambahan sarapan pagi.

Saya bergegas mengikuti staf Kalaweit yang membawa keranjang buah ke kandang owa dan siamang yang tersebar di tengah rapatnya pepohonan. Di balik pohon terdapat sebuah kandang yang tinggi terbuat dari baja ringan dan kawat seluas 6 x 6 meter. Di sana sudah menunggu siamang yang mulai lapar. Suaranya begitu gaduh, bahkan mengguncang-guncang kandangnya seolah ingin mengintimidasi.

Kedua siamang berbulu hitam menjauh dan melompat ke ban mobil bekas yang digantungkan sebagai ayunan di dalam kandang, saat petugas mendekat memasukkan sarapannya ke dalam panci yang tergantung di depan kandang. Masing-masing mendapat 10 pisang, sepotong besar pepaya, dan mentimun.

Berbagai jenis primata di pusat konservasi Kalaweit Supayang. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)
Berbagai jenis primata di pusat konservasi Kalaweit Supayang. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Begitu sarapan buah segar terhidang dengan cepat tangan mereka yang panjang menyambarnya dari balik jeruji dan kembali memanjat dan bergayut di tali karet ban di bagian paling tinggi sambil menikmati buah. Di kandang lainnya ada seekor siamang besar yang belum punya pasangan.

Terlihat masih jinak dan mendekat saat diberi makan dibalik jeruji kandangnya yang rapat. Tak disangka, saat saya melewatinya, tangannya yang panjang melalui jeruji yang longgar di lantai kandang menyambar ujung baju saya sehingga saya tak bisa bergerak. Harus bersusah payah saya melepaskan diri dari siamang yang usil itu.

Kandang-kandang primata sengaja dibangun terpisah dan masing-masing terlindung oleh pepohonan agar tidak berinteraksi dengan siamang atau owa lain.

Sekeranjang aneka buah-buahan siap dikirim ke kandang satwa. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)
Sekeranjang aneka buah-buahan siap dikirim ke kandang satwa. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Karena di alam mereka hidup dalam satu keluarga kecil, induk dan anak yang punya daerah teritori sekitar 20 hektare. Jadi di tempat rehabilitasi juga diusahakan terpisah, masing-masing pasangan dalam satu kandang. Siamang yang belum mendapat pasangan juga dipisah dalam satu kandang.

Di kandang lainnya, sepasang owa terlihat tak kalah agresifnya saat akan diberi makan. Perawakan owa lebih kecil dari siamang dengan alis yang agak putih. Kedua primata ini sama-sama berwarna hitam dan tidak berekor.