Terancamnya Primata Endemik di Mentawai

Pemburu tradisional di Siberut, Mentawai (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com).

POHON meranti yang tinggi menjulang di lereng bukit di Malancan, Siberut Utara itu adalah pohon yang paling tinggi dari pohon-pohon campuran yang tumbuh subur di sekitarnya. Seekor Joja, primata endemik Mentawai berwarna hitam dengan garis putih melingkar di wajahnya terlihat melompat dari dahan sebatang pohon, kemudian bergelayut ke cabang pohon lainnya.

Tak jauh dari sana seekor burung berbulu keemasan berukuran sebesar telapak tangan terbang ke dahan yang lebih tinggi. Di tepi sebuah anak sungai yang mengalir di bawahnya ada seekor anak babi hutan bersembunyi di balik jembatan kayu. Tutupan hutan yang masih rapat itu masih menyimpan harta keragaman hayati flora dan fauna Siberut.

Pulau Siberut merupakan pulau terbesar di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kepulauan Mentawai memiliki sejarah geologi yang unik. Selama Zaman Pleistocene (Zaman Es), sekitar 1 juta hingga 10 ribu tahun lalu, ketika permukaan laut di kawasan Asia Tenggara lebih rendah 200 meter dari sekarang, Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Pulau Kalimantan masih menyatu dengan Benua Asia. Tetapi Kepulauan Metawai tetap terpisah, karena laut yang memisahkan jauh lebih dalam.

Pembukaan lahan di Pulau Siberut, Mentawai. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Karena terpisah dari daratan Sumatera sejak 500 ribu tahun lalu menyebabkan sejumlah flora-fauna Kepulauan Mentawai menjadi berbeda dari Pulau Sumatera dan pulau lainnya di dunia.

Kekayaan flora-fauna di Kepulauan Mentawai tetap terpelihara dari perubahan-perubahan evolusi, sehingga kaya dengan keragaman hayatinya. Di antara kekayaan itu adalah terdapatnya empat primata endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.

Keempat pimata endemik itu di Mentawai dikenal dengan nama Bilou (Hylobates klossii), Joja (Presbytis potenziani), Bokoi (Macaca pagensis) dan Simakobu (Simias concolor).

Keempat primata ini tersebar di empat pulau-pulau besar di Kepulauan Mentawai seperti Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan.

Namun keberadaan keempat pimata ini terus terancam akibat banyak tekanan di habitat mereka. Sejak 2008 International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan Simakobu (Simias concolor) dan Bokoi pagai (Macaca pagensis) berstatus Critically Endangered. Bilou (Hylobates klossii) dan Joja (Presbytis potenziani) berstatus Endengered. Sedangkan Bokoi siberut (Macaca siberu) berstatus Vulnerable.

Peneliti primata Mentawai dari Jurusan Biologi Universitas Gajah Mada Susilo Hadi mengatakan, ancaman serius yang dihadapi primata Mentawai ini karena perburuan oleh masyarakat. Sejak dulu primata ini sudah biasa diburu masyarakat tradisional di Mentawai, selain untuk keperluan pesta adat atau punen, juga untuk dikonsumsi sehari-hari.

Susilo Hadi meneliti primata Mentawai di Hutan Paleonan, Dusun Politcoman, Siberut Utara pada 2005-2009 untuk meraih gelar doktor dari Universitas Goettingen, Jerman. Selama 2005-2009 ia intens meneliti primata Mentawai. Enam risetnya adalah “Karakteristik Habitat Empat Primata Endemik Mentawai”, “Karakteristik Fisik Simakobu (Simias concolor)”, ‘Pemanfaatan Habitat dan Perbedaan Relung Antara Presbytis potenziani (joja) dan Simias concolor (Simakobu)”, “Populasi dan Struktur Komunitas Primata Mentawai”, “Dinamika Kelompok Joja (Presbytis potenziani)”, dan “Kebudayaan Mentawai dan Konservasi Primata”.

Seekor bilou, salah satu primata endemik di Mentawai. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

“Saya bertahun-tahun di hutan, dalam konteks jumlah primata ini masih banyak, tetapi melihat aktivitas yang mengancam jelas terancam, sepertinya meningkatnya perburuan akibat pembukaan lahan yang memudahkan pemburu masuk ke dalam hutan,” kata Susillo Hadi.

Menurutnya ada dua tipe perburuan primata di Siberut, perburuan bersama kelompok besar untuk acara punen (pesta adat) atau pesta akhir tahun dan ada pemburu individual yang berburu setiap akhir pekan untuk kebutuhan lauk sehari-hari.

“Saya  pernah mengikuti perburuan besar-besaran di Politcoman untuk pesta natalan, mereka mendapat 32 ekor primata, artinya kita asumsikan, mau natalan atau saat punen yang lain ya bisa lumayan hasilnya,” ujarnya.

“Apalagi masyarakat yang dulu berburu dengan panah beracun sekarang dengan senapan angin dengan peluru yang diolesi beracun, hanya orang-orang tua yang masih bisa berburu dengan panah, jadi ancaman yang paling besar untuk primata ini memang perburuan,” katanya.

Pembukaan lahan untuk pemukiman baru dan perladangan HPH di Siberut juga menjadi ancaman primata karena semakin mempermudahkan perburuan. Selain itu juga menghilangkan habitat dan pohon tempat hidup primata.

“Yang paling terancam itu adalah Simakobu dan Bilou, karena Simakobu gampag diburu sedangkan Bilou itu kalau tegakan hutan dibuka akan menghambat dia untuk traveling ke pohon lain, karena dia tidak pernah turun ke tanah, tidak seperti tiga primata lainnya,” kata Susilo.

Untuk perlindungan keempat primata endemik di Kepulauan Mentawai ini dia menganjurkan pembuatan zonasi untuk kantong-kantong primata yang tidak boleh diganggu.

Pengelolaan pulau-pulau kecil seperti Mentawai, menurutnya juga harus berhati-hati karena semakin kecil pulaunya seperti di Sipora, Pagai, dan Siberut akan semakin rentan.

“Idealnya tentu saja tidak ada HPH di Mentawai, harusnya dikembangkan eko turism, seperti tempat melihat primata endemik di hutan-hutan dekat pantai timur Siberut yang mudah dijangkau, Pulau Siberut itu sudah cantik, tinggal dikemas untuk wisatawan,” ujarnya. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)