Pasar Gembreng Hanya Ada di Solo

Aneka produk di Pasar Gembreng, Solo, Jawa Tengah. (Foto: Eddy J. Soetopo/ JurnalisTravel.com)

BAGI pelancong dari luar Kota Solo, nama pasar tradisional yang satu ini memang terdengar aneh, pasar Gembreng. Tak banyak warga yang tahu pergantian sejumlah nama pasar di Kota Bengawan ini.

Coba saja tanyakan kepada masyarakat Kota Solo, di mana letak pasar Gembreng berada? Mereka hanya tahu pasar yang menggelar dagangan tak lazim, seperti ceret, kompor minyak, wajan, dandang besar hingga kubah masjid dulunya bernama Pasar Kabangan.

Tidak hanya rakyat biasa yang tidak mengetahui sejarah pasar Gembreng, tetapi juga pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Solo maupun anggota DPRD.

Perajin di salah satu toko di Pasar Gembreng, Solo. (Foto: Eddy J. Soetopo/ JurnalisTravel.com)

“Dulu itu namanya pasar Laweyan, terus ganti jadi pasar Kabangan, tapi kalau sekarang istilahnya Pasar Gembreng, malah baru dengar,” ujar mantan Ketua DPRD Kota Solo, YF Sukasno di ruang kerjanya, Jumat (4/5/2017).

“Itu pasti istilahnya pedagang yang nutuki –memukul drum bekas– biar mudah jadilah Sar Gembreng.”

Sesuai namanya, pasar Gembreng, terletak di daerah Solo Barat, di sebelah utara balai kampung Laweyan. Sebelum dikenal sebagai Sar Gembreng, pasar ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Menempati luas lahan sekitar 3.660 meter, pasar yang dibangun sejak pemerintahan Paku Buwono IX dulunya dikenal sebagai Pasar Laweyan.

Sejumlah produk dari seng di Pasar Gembreng. (Foto: Eddy J. Soetopo/ JurnalisTravel.com)

“Dulunya, pasar Kabangan juga jualan bumbu pawon –bahan keperluan dapur – tapi setelah ada pindahan pedagang blek bekas dari Pasar Kadipolo, namanya berubah jadi Sar Gembreng,” ujar Sukasno.

Seorang warga asal kampung Mutihan, Warsono, 67 tahun, menuturkan, pasar Gembreng dulunya berdekatan dengan tempat pemakaman umum Kampung Lor Pasar Laweyan. Pada 1963 njaratan itu sudah dipindah dan pasar Laweyan berganti nama menjadi Kabangan.

“Dulu sebelahnya ada tempat pemakaman, kemudian sudah dipindah, sejak itu pasar Laweyan ganti jeneng Kabangan, terus pedagang barang bekas buat dandang, ceret dari seng di Pasar Kadipolo pindah ke sini,” tuturnya.

Kedatangan para pedagang pindahan dari Pasar Kadipolo, ujar Warsono, pasar Kabangan berubah total. Sejak itulah pasar tradisional berubah sepi. Penjualan sembako dan sayur-sayuran anjlok. Pedagang kios daging dan kain, ikut tergusur penjual peralatan dari seng.

Salah satu toko di Pasar gembreng. (Foto: Eddy J. Soetopo/ JurnalisTravel.com)

“Semua tidak tahan dengan bunyi di bengkel setiap hari memukul drum bekas dibuat ceret dan dandang dari seng, suaranya keras setiap hari begitu,” ujar dia.

Penjual barang di “Kios Bu Wagiyem” berharap pembangunan mall di bekas pabrik es Saripetojo meningkatkan pembeliannya, ternyata tidak. Soalnya, ujar Wagiyem, mall juga menjual ceret dan keperluan rumah tangga lain yang lebih bagus.

“Jadinya kagak ngepek, kami ’kan hanya jualan dandang dan wajan ala kadarnya seperti ini, kalau dibanding-bandingin jelas kalah,” katanya menerawang. (Eddy J. Soetopo/ JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi jurnalistravel@gmail.com. Terima kasih atas bantuan Anda jika membagikan tautan.(REDAKSI)