Rumah Pohon Unik Dekat Bandara Internasional Minangkabau

 

Rumah Pohon di Nagari Sungai Buluh. (Foto: Yon Freddy)

Oleh: Yon Freddy

Ada objek wisata baru nan seru di Sumatera Barat. Itulah Rumah Pohon. Meski berada di Kabupaten Padang Pariaman, lokasi objek wisata di Nagari Sungai Buluh ini dekat dari Kota Padang.

Dari rumah pohon kita bisa memandang ke arah Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Ketaping yang berjarak sekitar 5 km. Kita juga bisa melihat dari jauh hamparan Kota Padang.

Rumah Pohon ini berada di Hutan Nagari Sungai Buluh yang dikelola Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN). Mereka sedang bersiap membuat kawasan objek wisata baru dengan dukungan Dinas Kehutanan Sumbar, KLKH dan UNDP REDD+.

Kini pengunjung Rumah Pohon sudah 500 orang pada Minggu dan libur. Sedangkan hari biasa 50 orang per hari. Inilah kisah dua bulan lalu ketika Rumah Pohon ini baru tahap persiapan menyambut pengunjung…

**
Dewi tergesa-gesa menyobek bumbu mie instan gelas dan menuangkan air panas ke dalamnya. Setelah merapikan tutupnya kemudian diserahkan kepada si pemesan. Pengunjung lain ada yang minta air mineral, snack, kopi hitam, dan lain-lain.

“Lumayan Pak, hari ini pengunjung yang belanja cukup banyak,” kata Dewi.

Pejabat Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat Yonefis Yusman (kanan) dan aktivis UNDP REDD+ Rakhmat Hidayat sedang meninjau pengelolaan Rumah Pohon. (Foto: Yonefis Yusman)

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari Sungai Buluh Ali Azwar Dt. Rajo Batuah menjelaskan, sebenarnya rumah pohon yang terletak di Nagari Sungai Buluh, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat ini belum dibuka untuk umum, karena masih dalam tahap penyelesaian pekerjaan, seperti bagian atap dan lantai rumah pohon itu sendiri.

Tetapi masyarakat yang telah mengetahui keberadaan rumah pohon dari foto-foto yang di-upload ke media sosial berdatangan tanpa bisa dihalangi oleh pengelola.

“Kita juga sedang menyiapkan fasilitas-fasilitas seperti tempat-tempat sampah di sepanjang jalan ke rumah pohon, toilet portable, dan berbagai panduan dan aturan untuk pengujung,” imbuh Datuak.

Lewat tengah hari masyarakat yang datang semakin ramai. Terlihat dari parkiran yang penuh sesak. Petugas parkir terlihat sangat sibuk menata motor pengunjung agar terlihat rapi dan memberi ruang kepada motor-motor yang datang selanjutnya.

Untuk parkir motor tidak dikenakan biaya, hanya tiket masuk Rp5.000 per orang dan jasa pemandu Rp30.000 untuk satu orang pemandu. Satu pemandu biasanya untuk menemani 6 orang pengunjung.

“Brukk!!” seorang gadis jatuh terduduk. Wajahnya memerah menahan sakit bercampur malu. Bagian belakang celananya dipenuhi lumpur basah. Pemandu dan teman-teman si gadis segera membantu berdiri dan kemudian perjalanan pun dilanjutkan.

Akibat hujan terus-menerus jalan setapak tersebut menjadi licin dan berlumpur di beberapa titik. Dengan jarak kira-kira 1 km perjalanan ke rumah pohon ditempuh dalam waktu 30 menit. Tetapi kadang-kadang anak-anak muda yang datang tidak langsung ke tujuan, tetapi mereka selfie dulu pada spot-spot yang unik seperti di batu-batu besar, tebing, dan lain-lain.

Dt. Rajo Batuah optimis wisata rumah pohon ini bisa berkembang dan memberikan kontribusi secara finansial kepada masyarakat Nagari Sungai Buluh. Dalam perencanaan jasa lingkungan LPHN sudah dirancang jalan tembus dari rumah pohon menuju air terjun sarasah kuau, dan sudah direncanakan juga pembuatan 1 unit rumah pohon lagi.

“Animo masyarakat berwisata ke sini sangat tinggi, baik ke rumah pohon, air terjun Sarasah Kuau, juga ke pemandian Lubuk Kandih,” katanya. (*)

Tulisan ini juga bisa dibaca di RanahHutan.com