Kisah Penghancuran Kepercayaan Asli Mentawai

Kirekat atau tanda telapak kaki orang yang sudah meninggal di pohon durian. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

DALAM kegelapan hutan sagu, sebatang pohon durian yang amat besar berdiri menjulang. Kami berhenti di depannya, berdiri di belakan Pak Malaikat Sarokdog, 60 tahun, yang membawa kami ke tengah hutan sagu di pedalaman Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai.

Pak Malaikat yang berdiri di depan batang durian itu lalu berbicara pelan seperti sedang menyapa. Tangannya menyibak daun-daun bunga yang tumbuh di sekeliling batang durian yang ternyata memiliki akar yang besar-besar menapak dengan kokoh ke bumi.

Saya terpana saat melihat gambar sepasang telapak kaki yang terukir di pohon durian itu. Guratnya begitu halus mengikuti alur garis telapak kaki manusia. Itulah kirekat. Kirekat adalah tanda kenangan terhadap orang yang meninggal. Kirekat berupa ukiran cetakan telapak kaki dari orang yang telah meninggal di batang pohon durian di tengah hutan.

Pak Malaikat memperlihatkan kirekat keluarganya yang sudah meninggal. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Kirekat dibuat dengan cara garis-garisnya digambar langsung dari telapak kaki atau telapak tangan orang yang baru meninggal ke pelepah batang sagu. Pelepah sagu ini diiris sesuai gambar dan menjadi cetakan untuk ditoreh di batang durian.

Pohon durian yang digunakan untuk mengukir kirekat harus dari pohon durian yang paling baik. Pohonnya besar, buahnya banyak, dan rasa buahnya enak. Pohon durian yang sudah jadi Kirekat tidak boleh ditebang dan tidak boleh dijadikan “alak toga” atau mas kawin untuk perempuan.

Di pohon durian yang menjadi kirekat yang ada di depan kami itu, selain ukiran telapak kaki juga dibuat penanda untuk postur tubuh dengan menandai pohon dengan lubang kecil untuk posisi lutut, pinggang, bahu, dan kepala.

Di tengah hutan sagu, Pak Malaikat meminta restu kepada roh keluarganya untuk melihat kirekatnya di batang durian. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Itu adalah kirekat kerabat Pak Malaikat yang meninggal dunia setahun lalu. Bila rindu, keluarganya akan datang ke tempat itu.

Wajah Pak Malaikat tampak sendu saat berbicara kembali ke arah pohon dengan suara lirih dalam bahasa Mentawai. Dalam perjalanan pulang saya tanyakan arti ucapannya.

“Saya katakan kepadanya, kami datang padamu bukan ingin mengganggu, tetapi karena rindu padamu,” katanya.

Ia bercerita, pohon durian itu adalah pohon durian kesayangannya, karena buahnya sangat lebat dan rasanya enak. Pohon itu warisan dari ayahnya yang sudah meninggal.

Itulah satu-satunya simbol budaya Mentawai dan kepercayaan Arat Sabulungan yang tersisa di Rogdok yang saya temui.

Pohon durian terbaik tempat kirekat diukir.(Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Tidak ada lagi uma atau rumah besar Mentawai yang ditinggali banyak keluarga. Bahkan juga tidak ada sikerei ahli pengobatan dan dukun penghubung dengan roh.

AGAMA ASLI MENTAWAI

Arat Sabulungan adalah agama tradisional di Mentawai yang percaya kepada roh-roh. Upacara-upacara besar kerap dilakukan di uma-uma. Namun pemerintah melarang kepercayaan Arat Sabulungan pada 1954 dan memaksa orang Mentawai memeluk salah satu agama yang diakui pemerintah saat itu.

Di masa-masa itu hingga pertengahan 1970-an menjadi masa kelabu bagi masyarakat Mentawai karena terjadi penghancuran secara besar-besaran terhadap kepercayaan Arat Sabulungan.

Perkampungan tradisional di Siberut, Mentawai. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Setiap uma diperiksa dan barang-barang untuk ritual dibakar. Peralatan Sikerei juga disita, dibakar, dan banyak Sikerei yang ditangkap.

Pemerintah juga membentuk pemukiman baru untuk mengontrol masyarakat dan menjauhkan mereka dari uma yang berada di pedalaman. Rumah ibadah didirikan di pemukiman baru.
Agama baru berdatangan, Protestan, Islam, Bahai, dan Katolik.

Tetapi meski sudah memiliki agama baru, Arat Sabulungan tetap hidup dalam hati masyarakat di pedalaman Siberut. Punen atau pesta adat  tetap dilangsungkan. Sikerei masih dipanggil dari kampung lama mereka yang jauh untuk upacara dan pengobatan.

Kemungkinan, karena itulah perbedaan agama tidak menjadi masalah yang besar di Mentawai.

Hendrikus berdiri dekat peralatan untuk punen atau  acara adat. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Ada keluarga yang anggotanya bisa memeluk agama yang berbeda. Pak Malaikat sendiri sekeluarga memeluk Katolik.

Tetangganya di Rogdok, Robertus, juga Katolik, tetapi seorang adiknya berpindah ke Islam saat meneruskan sekolah ke Padang.

“Perbedaan agama tidak ada masalah, saat diadakan punen atau pesta adat di keluarga besar kami, untuk adik kami yang sudah muslim, kami sediakan ayam, yang lain menyantap babi,” kata Robertus.

Di Muntei, Siberut Selatan, agama lama Mentawai, Arat Sabulungan, juga masih tetap hidup di tengah warga yang kini sudah punya agama baru. Ditandai dengan bunga-bunga kembang sepatu merah dan puring yang masih banyak ditanam di halaman rumah.

Kembang sepatu merah dan daun puring itu selalu dipakai Sikerei untuk menghiasi tubuhnya saat melakukan punen atau ritual adat. Kedua tanaman yang mudah ditemui di halaman uma dan rumah warga di pedalaman Siberut mengisyarakatkan tak ada lagi larangan kepada semua acara ritual Arat Sabulungan.

KENANGAN PENGHANCURAN

Saya berkunjung ke rumah seorang Sikebukat Uma atau kepala suku di Muntei. Namanya Hendrikus Sakukuret. Dengan ingatan yang masih tajam dia menceritakan kisah masa lalu.

Hendrikus di beranda uma-nya dekat tengkorak babi tergantung. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Waktu itu 1960-an, Hendrikus masih remaja. Kepercayaan Arat Sabulungan sedang dihancurkan secara besar-besaran oleh pemerintah. Setiap uma diperiksa, barang-barang untuk ritual seperti Buluat, tempat meletakkan persembahan untuk roh dibakar. Peralatan Sikerei juga disita dan dibakar. Polisi bersama pendeta melakukan razia.

“Semua peralatannya dibakar, buluat, gajeuma, peralatan sikerei juga dibakar, seperti manik-manik kerei, lonceng, hiasan kepala, mereka para Sikerei juga ditahan selama tiga hari baru dilepas,“ kenangnya.

Akhirnya warga menjalankan ritual punen secara diam-diam karena mereka tidak bisa melepaskan begitu saja budaya dan kepercayaan yang sangat melekat. Upacara pun dilakukan tengah malam.

Di uma Hendrikus yang luas kini masih terdapat semua peralatan untuk punen yang lengkap. Di pintu masuk uma dihiasi puluhan tengkorak hasil buruan, seperti monyet, babi, dan burung. Di tengah uma ada perapian dari tungku tempat memanaskan gajeuma atau gendang.

Di ruangan bagian belakang ada ruangan untuk meletakkan Buluat atau tempat persembahan yang hanya boleh digunakan oleh Sikebukat Uma, pemimpin suku. Bulua terdiri dari wadah tabung bambu, peralatan gong dan gajeuma dan bunga-bunga yang telah kering bekas punen sebelumnya.

Arat Sabulungan adalah agama tradisional di Mentawai. “Arat” artinya kepercayaan, “sa” artinya orang dan “bulungan” artinya roh. Jadi Arat Sabulungan berarti orang-orang yang percaya kepada roh-roh.

Ada banyak roh, karena semua benda bernyawa seperti kayu untuk rumah dan sampan juga memiliki roh, karena dulunya mereka berasal dari pohon yang ditebang. Ada roh yang mengatur alam semesta, roh hutan, roh laut, roh langit, roh nenek moyang, dan roh pada diri masing-masing manusia.

Di atas semua roh itu ada Ulau Manua yang diyakini sebagai penjaga alam semesta. Ulau Manua mirip dengan Tuhan pada agama samawi.

Untuk menjaga agar roh-roh tidak marah, mereka melakukan sesuatu dengan hati-hati dan selalu minta izin kepada roh melalui punen. Dan tokoh sentral dalam punen ritual Arat Sabulungan adalah Sikebbukat Uma. Sikebbukat Uma adalah orang yang paling dituakan dan dipilih menjadi pimpinan karena memiliki kearifan, memiliki pengetahuan, dan pemahaman yang sangat baik terhadap adat-istiadat.

MEMILIH SATU AGAMA

Pada 1954 adalah masa paling berat bagi orang Mentawai yang menganut Arat Sabulungan karena mereka dipaksa pemerintah memilih salah satu agama resmi. Waktu itu di tiap-tiap ibu kota kecamatan di Mentawai digelar rapat tiga agama: Protestan, Islam, dan Arat Sabulungan.

Keputusan pelarangan secara resmi dari pemerintah terhadap kepercayaan Arat Sabulungan dan orang Mentawai diminta untuk memilih agama yang ada di Mentawai saat itu dalam tempo tiga bulan: Kristen, Protestan, atau Islam. Jika dalam tempo tiga bulan belum memilih, semua alat keagamaan akan dibakar polisi dan mereka akan dihukum.

Arat Sabulungan kemudian dilarang dengan melibatkan polisi untuk menghentikan semua aktivitasnya. Di antara yang dihentikan adalah memanjangkan rambut bagi laki-laki, melakukan semua ritual yang melibatkan sikerei (dukun), menato tubuh, dan meruncing gigi.

Pemerintah pun melakukan program trasmigrasi lokal untuk menjauhkan orang Mentawai dari budaya lama. Akibatnya, Arat Sabulungan yang menjadi jantung kebudaya Mentawai pun menghilang.

Uma Hendrikus di Pulau Siberut, Mentawai. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Di empat pulau besar di Kepulauan Mentawai, Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan, hanya di Siberut Arat Sabulungan dan aktivitas Sikerei tersisa. Di tiga pulau lain sudah lenyap. Di tiga pulau ini sudah lama tak ada sikerei dan kegiatan adat lainnya. Bahkan orang yang bertato hanya tinggal satu atau dua orang.

Arat Sabulungan bisa bertahan di sebagian Pulau Siberut, selain karena pusat kebudayaan Mentawai dan dipercayai sebagai daerah asal kebudayaanMentawai, juga karena pulau terbesar ini banyak memiliki suku yang tinggal di pedalaman yang sulit dijangkau dari luar. Selain itu agama belakangan masuk dibanding di pulau Pagai dan Sipora.

Hendrikus Sakukuret adalah nama baptis. Nama aslinya Jogjog Kerei Sakukuret. Ia  memilih Katolik karena agama itu lebih menerima budaya Mentawai dibandingkan Islam dan Protestan. Walaupun telah memeluk agama baru, namun Arat Sabulungan tetap dijalankan. Di umanya ia memasang salib kayu sederhana tak jauh dari barisan tengkorak kepala babi yang tergantung.

Dalam perjalanan kapal pulang ke Padang saya bertemu seorang penyiar agama di Mentawai. Ia mengaku sudah mengislamkan lebih tujuh ribu orang di Mentawai sejak pertengahan 1960-an. Tetapi dia juga terlihat sudah berdamai dengan kepercayaan dan budaya Mentawai.

“Arat Sabulungan itu punya Tuhan yang sama dengan kita, hanya caranya yang berbeda,” katanya tersenyum ketika saya Tanya tentang kepercayaan asli Mentawai itu. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi redaksi@jurnalistravel.com. Terima kasih untuk anda bantu bagikan dengan tautan.(REDAKSI)