Kisah Ketua DPRD Sumbar Muhidi: Berenang di Sungai Berbuaya Demi Membantu Ekonomi Orang Tua

Muhidi

Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM menyampaikan kisah hidupnya saat sesi wawancara tugas penulisan feature profil siswa SMK se-Kota Padang pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang yang diadakan Dinas Pendidikan Sumatera Barat di Hotel Edotel Bundo Kanduang, SMKN 9 Padang pada 22 Mei 2026. (Foto: Dok Syof)

Oleh: Finza Putri Rahayu (Kelas XI, Jurusan Analis Kimia, SMK SMAK Padang)

KESUKSESAN sejati tidak selalu lahir dari peta kehidupan yang serba berkecukupan. Hal fundamental itulah yang tergambar utuh dari potret perjalanan hidup Drs. H. Muhidi, MM, politikus yang kini dipercaya mengemban amanah besar sebagai ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat periode 2024-2029.

Di balik kewibawaannya memimpin lembaga legislatif Ranah Minang, tersimpan jalinan kisah masa kecil yang penuh peluh, pertaruhan nyawa di sungai yang penuh marabahaya, hingga sebuah peristiwa tersengat listrik di laboratorium kampus yang menjadi titik balik spiritual terbesar sepanjang hidupnya.

Lahir sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara, tujuh laki-laki dan tiga perempuan, di daerah Mukomuko, Provinsi Bengkulu, Muhidi kecil dibesarkan di tengah himpitan ekonomi menengah ke bawah. Sang ayah adalah tukang kayu dan pengelola sawah. Sedangkan ibunya menyambung napas keluarga dengan berjualan di pasar.

Uniknya, di balik ketokohannya hari ini, di lembar dokumen resmi negara yang ia miliki, mulai dari ijazah dan KTP, hingga data birokrasi, mencatat tanggal kelahirannya 1 November 1963. Padahal, fakta yang sebenarnya, beliau lahir satu tahun sebelumnya, 1962.

Ini terjadi karena waktu itu tidak ada akta kelahiran seperti sekarang. Namun ada tradisi di keluarganya. Setiap kelahiran anak, ayahnya selalu menorehkan nama dan tanggal kelahiran di tonggak rumah kayunya. Hanya saja, ketika masuk sekolah, Muhidi tidak menemukan tonggak yang tertoreh nama dan tanggal kelahirannya. Akhirnya, ketika mendaftar sekolah, orang tuanya mengira-ngira tahun kelahirannya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika rumah masa kecilnya direnovasi, tonggak lain yang memuat catatan asli kelahirannya akhirnya ditemukan.

“Anehnya, tanggal dan bulannya sama dengan yang dicatat di rapor, cuma tahunnya yang beda, di tonggak itu tertera kelahiran saya 1962,” kata Pak Muhidi bercerita kepada 50 siswa peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang yang diadakan Dinas Pendidikan Sumatra Barat pada 22 Mei 2026.

Lampiran Gambar
Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang yang diadakan Dinas Pendidikan Sumatera Barat di Hotel Edotel Bundo Kanduang, SMKN 9 Padang, 22 Mei 2026. (Foto: Finza Putri Rahayu)

Keterbatasan ekonomi keluarga telah membentuk karakter Pak Muhidi menjadi pribadi yang tangguh sejak kecil. Tatkala anak-anak seusianya menghabiskan waktu dengan bermain, selepas pulang sekolah Pak Muhidi harus turun ke sawah membantu ayahnya mencangkul. Menginjak Kelas 5 SD, ia mulai bekerja mencari lokan (kerang sungai) dengan menyelam di sungai dekat rumahnya.

Ketika SMP di SMPN Muko-Muko, ia kembali membantu sang ayah menjadi tukang bangunan yang membuat rumah semipermanen di desa tetangga. Sepulang sekolah di SMPN Mukomuko ia berangkat ke tempat ayahnya bekerja. Hanya saja lokasinya di seberang Sungai Selagan yang lebar dan tak jauh dari muara.

“Terkadang ketika berangkat ada sampan orang yang bisa ditumpangi, terkadang tidak ada sampan, akhirnya saya berenang ke seberang. Padahal di sungai itu banyak buaya, untung saya tidak diterkam buaya. Tapi pernah juga hampir sampai di seberang tampak buaya, lalu saya berbalik lagi,” kata Pak Muhidi bercerita dengan santai sambil tersenyum.

Waktu itu, kata Pak Muhidi, tidak ada rasa takut sama sekali di benaknya. Baginya yang terpenting adalah rasa tanggung jawab, amanah, dan rasa bangga jika bisa membantu ekonomi keluarga.

Belakangan, baru ia sadari betapa nekadnya ia waktu itu, setelah membaca berita menghebohkan ada orang diterkam buaya persis di lokasi ia sering menyeberang dulu. Disebutkan pula di sana merupakan habitat liar bagi kawanan buaya muara yang sangat ganas.

Di usia kepala enam sekarang, Pak Muhidi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan merinding sendiri setelah menyadari betapa dekatnya ia dengan maut di masa muda, tanpa pernah merasa takut. Termasuk tidak takut dengan harimau yang waktu itu di Mukomuko merupakan habitat Harimau sumatra. Hanya orang tuanya sering berpesan, jika bertemu harimau jangan pernah membelakanginya, tapi menatap menghadapnya.

Lampiran Gambar
Siswa pilihan, peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang, berebut kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dalam sesi wawancara dengan Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM yang dipandu Yusrizal KW untuk tugas penulisan feature profil di Hotel Edotel Bundo Kanduang, SMKN 9 Padang, 22 Mei 2026. (Foto: Dok Syof)

Bercita-cita Menjadi Tentara

Layaknya anak laki-laki pada masanya, Pak Muhidi tumbuh besar dengan cita-cita gagah untuk menjadi seorang tentara. Terlebih pada akhir 1970-an itu konflik Timor Timur sedang bergejolak. Banyak pemuda Indonesia tergerak untuk mempertahankan Timor Timur sebagai provinsi termuda waktu itu, provinsi ke-27 yang bergabung pada 1976.

Begitu tamat SMP, Pak Muhidi ingin melamar menjadi tentara melalui jalur tamtama. Namun arah hidupnya berubah total ketika ia meminta izin ayahnya. Malam itu, Muhidi menyatakan kemantapannya ingin maju perang. Namun Sang Ayah memberikan nasihat yang mendalam dan menurutnya sangat visioner.

Ayahnya mengatakan melihat sifat atau pembawaan Muhidi yang mengayomi dan memiliki bakat kepemimpinan yang kuat.

"Saya mendukung kalau kamu masuk tentara, tapi minimal masuknya setelah tamat SMA atau tamat kuliah dulu. Saya lihat kamu ada bakat memimpin ke depannya. Kalau seandainya kamu bisa menata dirimu dengan serius ke depan, bagusnya lanjutkan sekolahmu dulu," kata Sang Ayah.

Nasihat keramat itulah yang membuat Muhidi tidak bisa tidur sepanjang malam. Paginya, ia memilih patuh kepada ayahnya. Ia menyetujui untuk pergi merantau ke Kota Padang untuk melanjutkan pendidikan ke SMA, karena di kampungnya fasilitas pendidikan kurang memadai. Dan ia masuk SMA Muhammadiyah 3 Padang.

Namun untuk bisa sekolah dan hidup sendirian di Padang tidak gampang bagi Muhidi, karena kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas. Meski begitu, fase merantau di Kota Padang justru menguji ketahanan mentalnya pada level tertinggi. Tanpa rasa malu sedikit pun, ia menghabiskan dua tahun masa SMA-nya dengan bekerja di pabrik karet yang lokasinya sangat jauh.

Lampiran Gambar
Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM serius mendengarkan pertanyaan dari salah seorang peserta dalam sesi wawancara. (Foto: Dok Syof)

Sepulang sekolah yang berlokasi di Simpang Haru, ia berangkat kerja ke pabrik karet PT Teluk Luas yang waktu itu terletak di Jalan Mangunsarkoro, Jati (dekat Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat). Waktu itu belum ada transportasi umum di jalur itu sehingga ia terpaksa berjalan kaki selama satu jam.

Selesai bekerja pada pukul 11 malam, ia kembali ke rumah dekat sekolah di Simpang Haru, juga dengan berjalan kaki. Setibanya di rumah ia tidak bisa langsung tidur, karena kakinya yang pedih oleh bekas bahan karet mesti direndam dulu agar tidak luka.

Ketika kelas tiga SMA, Muhidi merasa tidak memungkinkan lagi bekerja di pabrik karet yang jadwal kerjanya hingga malam. Ia mesti mempersiapkan diri menghadapi Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) agar bisa lulus SMA. Karena itu, ia pindah kerja sebagai buruh angkat di toko bangunan. Salah satu pekerjaannya adalah mengangkat semen dari truk ke gudang.

Lulus SMA pada 1984, Muhidi mendaftar kuliah ke IKIP Padang (kini UNP atau Universitas Negeri Padang). Karena keterbatasan informasi zaman dulu, ia mendaftar di Jurusan Pendidikan Fisika.

"Saya dulu tidak berminat jadi guru, tapi karena informasinya terbatas, saya kira itu jurusan fisika murni, ternyata jadi pendidik," kenangnya.

Perbedaan antara realitas dan cita-cita awal ini sempat membuat batin Pak Muhidi bergejolak. Akibatnya, ia merasa sedikit error pada semester pertama. Sementara, untuk membiayai kuliah dan hidup di Padang, ia juga harus mandiri.

Beruntung, ia mendapat uluran tangan dari dosennya yang memberikan bantuan tempat kos gratis dan memasukkannya bekerja sebagai operator mesin fotokopi di koperasi kampus IKIP. Pekerjaan itu ia jalani dengan penuh semangat pada saat waktu kosong kuliah.

Untuk menyalurkan semangatnya menjadi tentara, Muhidi juga bergabung dengan resimen mahasiswa (menwa) di IKIP Padang. Pak Muhidi berhasil meraih gelar sarjana pendidikan pada 1990.

Lampiran Gambar
Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM menjawab pertanyaan siswa SMK pada sesi wawancara. (Foto: Dok Syof)

Mendapat Hidayah dari Setruman Listrik

Di balik petualangan fisiknya yang berliku, serta kompas moral dan spiritual yang mencerminkan kehidupannya sehari-hari sebagai politisi PKS (Partai Keadilan Sejahtera), kesadaran Pak Muhidi terkait spiritual dan agama justru dibentuk melalui sebuah insiden yang mendebarkan di laboratorium kampusnya ketika kuliah di IKIP Padang.

Sebagai pemuda yang sejak kecil tidak dididik di lingkungan sekolah agama resmi, ia mendapatkan hidayah besar saat melakukan praktikum kelistrikan. Sebelum memulai percobaan, ia mendengarkan sebuah bisikan sayup di batinnya yang berkata, "Muhidi, coba kamu praktik tanpa melihat buku petunjuknya." Ia menuruti bisikan tersebut dan seketika tubuhnya tersengat aliran listrik.

Di tengah keterkejutan dan rasa sakit akibat setruman, bisikan batinnya kembali datang menghantam kesadarannya. "Muhidi, coba kamu bayangkan, kamu praktik tidak membaca buku petunjuk saja tersentrum. Kamu muslim, kamu akademisi, kamu mengakui bahwa buku petunjuk itu adalah Al-Quran, tapi apakah sudah pernah kamu baca? Sudah kamu jadikan itu sebagai pedoman hidup kamu?"

Peristiwa menyentuh itu merekonstruksi total pola hidupnya. "Dari kecil saya tidak dididik agama dan tidak bersekolah agama, tapi dari peristiwa yang membuat saya tersentuh akhirnya sejak hari itu, saya serius belajar agama. Saya dibimbing Allah dan bersemangat belajar agama, belajar ilmu-ilmu lain," ujarnya.

Sejak hari itu, ia berkomitmen untuk serius mempelajari agama. Ia bergabung dalam diskusi rutin setiap Sabtu di Masjid Al-Azhar IKIP Padang, belajar bersama tokoh-tokoh agama terkemuka, hingga terus memperdalam ilmu.

Pengalaman berharga itu selalu ia bagikan untuk memotivasi generasi muda, salah satunya saat menjadi narasumber pada kegiatan Bimtek Pemantapan Nilai Literasi Siswa SMK di Edotel Bundo Kanduang SMKN 9 Padang pada Jumat, 22 Mei 2026.

Setelah mengantongi ijazah keguruan di IKIP Padang, Pak Muhidi memulai karier profesional sebagai tenaga pendidik dengan mengajar fisika di Bimbel Adzkia, kemudian MTsN Gunung Pangilun Padang, SMA Adabiah Padang, dan SMA Pertiwi 3 Padang.

Lampiran Gambar
Sesi wawancara siswa SMK se-Kota Padang dengan Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM. (Foto: Dok Syof)

Keseriusannya menuntut ilmu berlanjut dengan menyelesaikan program S2 Manajemen di STIE KBP Padang. Gelar ini memberi jalan kepadanya untuk mengabdi di dunia pendidikan tinggi sebagai dosen di  STIA Adabiah Padang.

Sebagai pendidik Muhidi terkenal disiplin, sekaligus dekat dengan siswa. Selain itu, meski kemudian ia dikenal sebagai politikus dan menjadi wakil rakyat sejak 1999, jiwa pendidik selalu melekat sebagai identity (identitas) yang terus dibawa ke mana pun ia pergi.

Terkait ilmu fisika, bagi Pak Muhidi ilmu fisika bukan sekadar rumus kaku di atas papan tulis, melainkan falsafah hidup yang ia emban secara mendalam.

Hukum III Newton: Aksi-Reaksi

Dalam mengarungi kehidupan dan karier politiknya, ia secara konsisten mengadopsi dan menerapkan prinsip Hukum III Newton mengenai Aksi-Reaksi. Falsafah sains ini ia transformasikan menjadi sebuah prinsip sosial-politik yang nyata.

Ia meyakini dengan teguh bahwa setiap kebijakan, keputusan, dan alokasi anggaran yang dikeluarkan dari meja dewan sebagai aksi, harus mampu melahirkan dampak kesejahteraan, keadilan, dan perubahan konkret yang dirasakan langsung oleh konstituen di tengah masyarakat sebagai reaksi.

“Tidak akan ada perubahan di masyarakat jika pemimpinnya tidak berani memulai dengan aksi nyata,” ujarnya.

Keinginan kuat untuk membawa kontribusi perubahan yang lebih masif dan terstruktur melalui penerapan falsafah aksi-reaksi ini pulalah yang mendorongnya berpindah haluan dari mengajar ke panggung politik. Pada masa awal reformasi ia bergabung dengan Partai Keadilan (kini PKS).

"Kalau menjadi guru tentu manfaatnya terbatas, hanya bisa bermanfaat bagi orang yang bertemu dengan saya. Sedangkan kalau menjadi kepala daerah atau DPR, bisa bermanfaat bagi banyak orang walaupun tidak bertemu secara langsung, dan juga bisa membuat perubahan secara gradual dan terarah," katanya.

Lampiran Gambar
Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, MM menjawab pertanyaan dari siswa SMK sesi wawancara untuk tugas jurnalistik penulisan feature profil. (Foto: Dok Syof) 

Berangkat dari niat mulia serta didukung penuh dengan restu istri dan anak-anaknya, kiprah politiknya melesat tajam. Ia tercatat pernah menduduki posisi Wakil Ketua DPRD Kota Padang periode 1999-2004, sempat beristirahat, lalu kembali dipercaya menjadi Anggota DPRD Kota Padang periode 2019-2024.

Kemudian melalui pendekatan humanis dan kinerjanya yang terus meningkat, ia diamanahkan menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat pada 28 Agustus 2024. Hingga kini ia resmi mengemban tanggung jawab yang lebih luas sebagai Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat periode 2024-2029.

Perubahan profesi ini tidak pernah membuatnya dipandang sebagai public figure politik yang kaku, yang hanya fokus pada sidang-sidang dan meja rapat. Sikap kepedulian dan berbaur dengan masyarakat yang sudah terpupuk sejak dini, kini mekar menghiasi hari-harinya di DPRD Sumatera Barat.

Sifat dasar sebagai 'Guru Sejati' itu masih kelihatan jelas hingga sekarang. Di sela-sela kesibukannya mengurus kebijakan, ia masih selalu menyempatkan diri datang langsung memenuhi undangan dari sekolah-sekolah untuk hadir murni sebagai motivator atau pembicara seminar pendidikan, tanpa embel-embel politik atau kampanye.

Anak-anak sekolah banyak yang sangat senang karena pembawaannya yang seru, kebapakan, humoris, royal, dan sama sekali tidak menjaga jarak dengan Generasi Z.

Pada acara Bimtek Literasi 22 Mei 2026, kedekatan emosional itu terasa nyata waktu sesi tanya jawab. Ada salah satu siswa yang melemparkan pertanyaan kritis tentang bagaimana caranya remaja bisa tetap menjaga rasa empati serta kepedulian sosial di tengah gempuran zaman digital yang cenderung membuat orang menjadi individualis dan cuek dengan lingkungan sekitar.

Jawaban yang diberikan Pak Muhidi terasa sangat berkesan dan mendalam.

"Anak-anakku sekalian, di era digital ini tantangan moral kalian memang jauh lebih berat. Tapi ingat, jangan sampai teknologi justru menghilangkan rasa kemanusiaan kita. Karakter dasar kita itu harus peka sama sesama. Idealnya, kita ini memang banyak masalah, tapi kita harus tetap punya rasa kepedulian terhadap masalah orang lain. Itulah nilai sosial yang nggak boleh hilang," ujarnya.

Bukan cuma sekadar bicara teori di depan mikrofon, Pak Muhidi langsung mempraktikkan pelajaran mental tentang tindakan nyata lewat sebuah aksi spontan yang sempat membuat seisi ruangan heboh.

Secara tiba-tiba, ia mengeluarkan selembar uang pecahan Rp20.000 dari sakunya dan bertanya dengan lantang siapa yang mau uang tersebut. Spontan, hampir seluruh siswa langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Pak Muhidi bertanya lagi siapa yang ingin uang tersebut. Para siswa kembali tunjuk tangan secepatnya dengan mengatakan “Saya, Pak!” Namun Pak Muhidi tidak kunjung menunjuk salah satu yang tercepat. Ia kembali menanyakan siapa yang ingin uang itu.

Akhirnya seorang siswa laki-laki berdiri dari kursinya dan bergerak maju ke arah Pak Muhidi hendak mengambil uang itu. Karena aksi itu sedikit terlambat, Pak Muhidi tersenyum lebar, lalu berkata, "Jika ingin mendapatkan sesuatu, jangan cuma diam saja. Harus ada usaha," katanya.

Lampiran Gambar
Finza Putri Rahayu, siswi Kelas XI, Jurusan Analis Kimia, SMK SMAK Padang saat acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang. (Foto: Dok Syof)

Pak Muhidi akhirnya tetap menyerahkan uang Rp20.000 itu kepada siswa laki-laki yang sudah maju tersebut sebagai bentuk apresiasi tinggi atas nyali, konsistensi, dan usahanya untuk bertindak menonjol di antara keraguan teman-temannya.

Bagi Pak Muhidi, memiliki mental yang berani berusaha, pantang menyerah, serta mempunyai rasa kepedulian sosial yang tinggi adalah modal paling utama yang harus dimiliki oleh anak muda jika ingin sukses di masa depan.

Ia mengaku miris melihat anak muda zaman sekarang yang kerap kebingungan mendeskripsikan potensi diri akibat rendahnya tingkat literasi. Ia berharap, setelah selesai dari ruangan Bimtek itu, para siswa bisa langsung mempraktikkan ilmunya untuk mengasah keahlian baru di dunia digital atau menulis agar bisa dikonversi menjadi peluang ekonomi mandiri, khususnya bagi mereka yang kondisi ekonominya kurang mampu.

Kini, hari-hari Muhidi diisi dengan menjalankan fungsi legislatif, pengawasan, dan pengayoman masyarakat yang berfokus pada penguatan sektor ekonomi daerah melalui pengembangan UMKM, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) generasi muda, keterbukaan informasi publik, pelayanan masyarakat, dan pelestarian nilai-nilai adat.

Pada 2026 ini, Pak Muhidi sedang gencar-gancarnya memperjuangkan anggaran untuk penguatan peran serta lembaga adat dan bundo kanduang melalui kebijakan DPRD Sumbar.

Sebagai sosok mantan guru yang sangat paham mengenai psikologi remaja, beliau ingin membentengi moral generasi muda di Sumatera Barat dari hal-hal negatif yang merusak masa depan, seperti bahaya narkoba, pergaulan bebas, atau aksi tawuran melalui pendekatan nilai agama, budaya, serta penguatan rasa kepedulian antar-sesama.

Menurut Muhidi, peningkatan literasi adalah fondasi utama untuk mencetak SDM berkualitas. “Sebab manusia yang berkualitas adalah manusia yang literat, yaitu mereka yang mampu memahami, mengolah, dan menganalisis informasi secara kritis agar bijak mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah sehari-hari,” katanya.

Dari seorang anak tukang kayu yang nekat menyeberangi sungai yang penuh buaya, Muhidi kini menjelma menjadi nakhoda yang siap membawa masyarakat Sumatera Barat menembus arus zaman menuju masa depan yang lebih baik, bermodalkan "buku petunjuk" hidup yang ia temukan lewat setruman listrik. (*)

)* Tulisan karya Finza Putri Rahayu, siswi Kelas XI, Jurusan Analis Kimia, SMK SMAK Padang ini merupakan tugas membuat feature profil tokoh pada sesi materi jurnalistik dengan instruktur Syofiardi Bachyul Jb pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang yang diadakan Dinas Pendidikan Sumatra Barat dalam lima gelombang pada April-Mei 2026 di Hotel Edotel Bundo Kanduang, SMKN 9 Padang. Karya ini (dengan editing oleh redaksi Jurnalistravel.com) adalah hasil penugasan pada gelombang terakhir atau pemantapan (50 peserta pilihan) yang berlangsung dua hari 20 dan 22 Mei 2026.

Dapatkan update terkini Jurnalistravel.com melalui Google News.

Baca Juga

Banjir
Banjir Lebih Sebulan Melanda Dataran Tinggi Kerinci
krisis air
Krisis Air di Empat Pulau Mentawai, Kenapa Bisa Terjadi?
Nelayan Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni
Nelayan Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni
KKI Warsi Latih 20 Pemuda Nagari Menjadi Jurnalis Warga
KKI Warsi Latih 20 Pemuda Nagari Menjadi Jurnalis Warga
Terancam Punah, Unand-Swara Owa Survei 6 Primata Endemik Mentawai
Terancam Punah, Unand-Swara Owa Survei 6 Primata Endemik Mentawai
sampah
Terkendala Lahan, Warga Buang Sampah di Pinggir Jalan Lintas Nasional