Kenapa Ikan Larangan Bisa ‘Bodoh’, Ini Rahasianya

Diperlukan sebuah tangguk untuk memperlihatkan di sungai yang keruh itu memang banyak ikannya di Sungai Buluh. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

BANYAK orang heran ketika melihat ada sejumah sungai di Sumatera Barat yang ikannya hidup seperti di kolam. Ikan tumbuh besar di suatu lokasi sungai, terlihat seperti ‘bodoh’ alias jinak, padahal tidak ada penghambat sama sekali.

Bahkan, meski tidak dijaga, juga tidak ada seorang pun yang berani mengambil ikan-ikan tersebut. Orang-orang baru bisa menangkap dan menyantap setelah secara resmi dibuka oleh pemuka masyarakat.

Bandingkan dengan sungai biasa, tidak akan pernah ada ikan seperti ini. Dipancing pun tidak gampang. Kalau terlihat, begitu terkejut mereka pasti lari. Jika ingin memasukkan bibit ikan di sungai, coba saja, pasti juga melarikan diri.

Tapi ini beda. Kok bisa? Ya, ternyata ini salah satu kearifan tradisional di sana untuk memproteksi ikan sungai agar tidak punah. Proteksi tersebut terkenal dengan nama “ikan larangan”, “ikan baniaik” (ikan berniat) atau “ikan beruduh” (ikan didoakan).

Saya akan membawa Anda ke salah satu lokasiyang saya kunjungi baru-baru ini di Sungai Salisiakan yang terletak di Korong Salisiakan, Nagari Sungai Buluh, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Ikan-ikan jinak seperti di kolam, padahal sungai ini bebas hingga bermuara ke sungai yang lebih besar. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/JurnalisTravel.com)

Sayang ketika ke sana, air sungai sedang keruh, karena sisa longsoran musim hujan di hulu. Namun ketika diberi makanan, ikan-ikan yang lebih besar dari telapak tangan muncul berebutan seperti di kolam ikan.

“Tidak akan ada orang yang berani mengambil ikan di wilayah larangan di sungai ini selama bertahun-tahun hingga larangannya dibuka, mereka takut kena penyakit yang tidak bisa disembuhkan,” kata Sjahruddin, wali nagari Sungai Buluh menjelaskan.

Ia berkisah, pada 1950-an sungai tersebut “diuduh” (diminta doa larangan) kepada Syeh Tuangku Saliah Kiramatullah, seorang ulama terkenal keramat di Sumatera Barat yang tinggal di Sungai Sariak, 40 km dari sana. Larangan berlaku hingga 1980, beberapa tahun setelah ulama tersebut meninggal.

Pada 2005 dilakukan “uduh” kedua kepada Tuangku Ketek, putra ulama yang juga penggantinya.

Lokasi ikan larangan menjadi objek yang menarik, seorang pengunjunng mengabdikan dengan kamera ponsel. Sayang air sedang keruh. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

“Kami tokoh masyarakat dan ulama sepakat kembali membuat larangan karena selama tidak dilarang, ikan-ikan di sungai ini nyaris habis karena setiap hari ditangkap di seluruh lokasi,” katanya.

Para tokoh masyarakat berangkat ke Tuangku Ketek bermodal sebongkah kemenyan sebesar ibu jari. Setelah kemenyan didoakan sang ulama, diambil sedikit untuk dibakar di atas sabut kelapa di lokasi batas larangan. Lalu dihanyutkan di sungai tersebut. Itulah tanda resmi semua orang tidak boleh mengambil ikan di sana.

“Semua orang pasti takut mencuri ikan, karena pada saat ‘diuduh’ oleh Syeh Tuangku Saliah Kiramatullah dulu, ada orang yang mencuri lalu badannya panas-panas dan ada juga yang mencuri, lalu perutnya membesar,” cerita Sjahruddin.

Lalu, ketika diminta obatnya kepada sang ulama, ia mengatakan obatnya hanya kain kafan dan dua batu nisan. Setelah itusi sakit pun meninggal beberapa hari kemudian.

“Cerita itu turun-temurun telah membuat orang ketakutan,” ujarnya.

Ikan larangan di sebuah sungai yang di atasnya melintas sebuah jembatan jalan raya di Kabupaten Pasaman Barat. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Ada pembagian zonasi sungai sepanjang 25 km tersebut. Zona inti hanya sepanjang 500 meter terletak di tengah kampung. Kemudian di atasnya terdapat zona penyangga 1 km. Setelah itu zona bebas 15 km hinga ke hulu di Bukit Barisan. Di bagian bawah sepanjang 8,5 km juga menjadi zona penyangga hingga bertemu sungai besar Batang Anai.

Ikan zona inti dilarang selama “diuduh”. Sedangkan zona penyangga dibuka sekali dalam 2 tahun hingga 2,5 tahun. Sedangkan zona bebas tidak dilarang sama sekali. Itu untuk lokasi warga mengambil ikan untuk konsumsi.

“Kami membuka zona penyangga menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan membakar kemenyan tersebut, lalu membagi lokasi beberapa petak untuk ditenderkan kepada siapa saja sesuai taksiran kapasitas ikannya seharga Rp2 juta hingga Rp5 juta,” katanya pertengahan 2016.

Sekali panen Korong Salisiakan mendapatkan untung hingga Rp35 juta. Uang tersebut digunakan untuk bermacam biaya kegiatan masyarakat dan mesjid. Sudah tiga kali panen sejak 2005 dengan hasil lebih Rp60 juta.

Sistem proteksi tradisional ini berhasil melestarikan ikan asli sungai tersebut. Setidaknya ada 9 jenis ikan khas lokal yang hidup di sana, seperti gariang, kulari, mungkuih, udang (beberapa jenis), basi-basi, ikan panjang, simumbue, silakok, dan sangek.

Menurutnya, pada 2006 pernah dimasukkan 3 ribu ekor bibit nila ke sungai tersebut, namun tak berhasil hidup. Mungkin karena tidak cocok di sungai mengalir.

“Meski sungai ini bebas tanpa dikasi penyekat, kami tidak merasa ikan di sungai ini berkurang, walaupun pada musim hujan sungai meluap dan deras ke muara, dan yang paling kami senangi dari sistem ini adalah perlindungan terhadap habitat ikan-ikan khas sungai kami,” katanya. (Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi jurnalistravel@gmail.com. Terima kasih atas bantuan Anda jika membagikan tautan.(REDAKSI)