Berkejaran dengan Waktu Menyelamatkan Tato Mentawai

Bajak Letcu (tengah), Robert Coi (kiri), dan Naldo (kanan), pemuda Mentawai yang mulai menato tubuh dan mempopulerkannya. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

BUNYI ‘tak, tak, tak’ terdengar berirama dari alat kayu ‘lilipat patiti’, perkakas tato tradisional Mentawai. Bentuknya melengkung dan diujungnya terdapat jarum yang sedang digunakan untuk merajah kulit. Jarum dicelup ke dalam cairan hitam arang dan jelaga.

Di dalam ruangan rumah panggung tanpa dinding yang menjadi tempat membuat tato Mentawai di Jalan Kilometer 2 Tuapeijat, Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai, Bajak Letcu sang penato memukul-mukul gagang kayu. Itu alat menato dengan sepotong kayu kecil dengan cepat hingga jarum diujung gagang kayu itu menembus kulit dan mengikuti garis pola yang sudah digambar di atas betis kiri seorang pemuda yang sedang ditato.

Lelaki lainnya, Robert Coy sedang memegang bagian kaki yang sedang ditato. Motif tato yang sedang dirajah itu adalah motif tato Mentawai dari Pulau Sipora. Salah satu motif tato yang langka karena sudah hampir tidak ada lagi generasi yang memakai tato di Pulau Sipora. Padahal Sipora satu dari empat pulau besar di Kepulauan Mentawai.

“Ini motif tato di kaki nenek saya, motifnya indah, ada gambar hati, kata nenek ini nama motif kembang pujaan, saya ingin memakainya,” kata Naldo, pemuda yang sedang ditato.

Neneknya adalah generasi terakhir yang memiliki tato di Sipora.

Sepanjang proses menato, sesekali Naldo meringis menahan sakit. Jejak jarum di garis yang mengikuti pola tato mulai memerah. Dalam dua jam, sebuah tato dengan motif berlekuk bergambar hati melekat di betis kiri Naldo, warnanya merah dan sedikit membengkak.

Tato yang baru selesai itu segera diolesi antiseptik dan ditutup dengan diolesi vaselin oleh Bajak Letcu. Walaupun peralatannya tradisional, tetapi cara menatonya sangat aman, jarum untuk menato juga hanya sekali pakai.

“Saya ingin ‘safety’ saja, karena banyak juga orang dari luar (negeri) yang ditato, jadi satu orang satu jarum,” kata Bajak Letcu.

Ini berbeda dengan alat tato tradisional Mentawai di pedalaman Pulau Siberut. Jarum yang digunakan terbuat dari tembaga, peniti, atau duri pohon jeruk. Jarumnya digunakan dalam jangka waktu yang lama, satu jarum untuk semua orang yang ditato.

Kini tato Naldo mulai bertambah, di kaki dan punggung. Tapi di dadanya belum ada tato.

“Saya ingin memulainya pelan-pelan, menikmati prosesnya,” kata Naldo.

Bajak Letcu, Robert, dan Naldo adalah anak-anak muda Mentawai yang mulai mempopulerkan kembali tato Mentawai di Mentawai. Sejak setahun lalu mereka membuka sanggar Tato Mentawai di Tuapeijat, tempat semua orang bisa membuat tato.

Tato dalam bahasa Mentawai adalah ‘titi’. Dulu di Mentawai menato tubuh dimulai saat anak-anak beranjak remaja, baik perempuan maupun laki-laki. Diperkirakan terdapat 160 motif tato yang ada di Siberut. Masing-masing berbeda satu sama lain.

Namun menato tubuh jauh berkurang di Mentawai saat pemerintah (Orde Lama dan dilanjutkan Orde Baru) melarang kepercayaan Arat Sabulungan yang menjadi jantung kebudayaan Mentawai pada 1955.

Bajak Letcu sedang menato bagian betis Naldo di sanggar tatonya di Tuapeijat, Mentawai. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Semua aktivitas yang dianggap berhubungan dengan Arat Sabulungan termasuk mentato tubuh dilarang. Bahkan banyak sipatiti, si pembuat tato, yang ditangkap. Anak-anak yang memiliki tato tradisi di Mentawai juga dilarang sekolah.

Kini setelah pelarangan tidak dilakukan lagi, generasi muda di Mentawai mulai ingin melestarikan tato, seperti Bajak Letcu dan kawan-kawannya.

“Kami tidak ingin tato Mentawai punah, karena itu saat ini sedang bekejaran dengan waktu mendata dan menyimpan bentuk tato Mentawai dari para orang tua yang punya tato,” kata Bajak Letcu.

Menuju Kampung Tua Mentawai

Akhir tahun lalu Bajak Letcu dan Robert melakukan perjalanan dengan perahu mesin dan disambung berjalan kaki selama tiga hari menuju Desa Simatalu di  Pulau Siberut bagian barat.

Simatalu adalah kampung paling tua di Mentawai yang diyakini sebagai daerah asal-usul nenek moyang orang Mentawai. Mereka ingin melihat tato Mentawai yang masih ada, bagaimana bentuknya, dan apa motifnya.

Ternyata di Simatalu masih banyak penduduk yang menggunakan tato tradisi, hampir tiap keluarga masih ada yang ditato. Ini berbeda sekali dengan daerah lainnya di Mentawai yang tatonya sudah hampir punah karena tidak ada lagi orang yang mau ditato.

“Saya dan Robert membawa peralatan tato, mereka juga heran kami bisa menato dengan peralatan tradisional dan mereka ramai-ramai minta ditato,” kata Bajak Letcu.

Ia mengatakan, di Simatalu sebenarnya masih ada dua orang sipatiti (pembuat tato) tetapi banyak orang yang merasa berat biayanya membuat sebuah tato karena minimal harus mengorbankan dua ekor babi untuk upah penato.

“Kalau dulu dengan membayar dua ekor babi untuk sekali menato mungkin ringan, karena ternak babi saat itu masih banyak, tetapi saat ini karena orang-orang sudah berkebun, menanam padi, ternak babi jadi terlantar dan tinggal sedikit, upah untuk membuat tato pun jadi terasa mahal ” katanya.

Ia menggratiskan pembuatan tato Mentawai untuk warga di Simatalu yang minta ditato. Ia mengatakan penerimaan warga sanggat luar biasa. Anak-anak sampai tidak sekolah karena ikut menonton pembuatan tato.

Bajak Letcu (kanan) dengan para sikerei dari Simatalu di Tuapeijat, Mentawai. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Kami bahkan dipanggil tuan, tolong tato kami tuan, dalam bahasa Mentawai, tuannya dalam bahasa Indonesia,” kata Bajak Letcu yang berasal dari Siberut Utara.

Kendala yang mereka hadapi dalam mengumpulkan data tentang tato Mentawai adalah biaya yang sangat besar untuk transportasi lewat laut yang sekali jalan bisa menghabiskan dana belasan juta untuk sewa perahu mesin.

“Kami sering juga berjalan kaki ke pedalaman Siberut, kadang sampai tiga hari, diserang nyamuk dan pacet, itu untuk menghemat ongkos boat,” ujarnya.

Kini mereka sudah mulai mengumpulkan banyak koleksi tato Mentawai yang unik dan belum pernah dilihat sebelumnya. Motif tato itu juga mulai digunakan untuk orang-orang yang minta ditato.

“Saya sudah menato puluhan orang, tidak ingat lagi jumlah persisnya, tetapi dalam enam bulan terakhir ini banyak kesadaran orang-orang Mentawai kembali menggunakan tato Mentawai,” kata Bajak Letcu.

Orang-orang yang ia tato ada bahkan ada pegawai negeri sipil, mahasiswa, pelajar, dan wisatawan asing.

Tertarik Tato Sejak SMP

“Saya sudah sejak SMP tertarik melihat tato Mentawai, saat melihat Om saya yang punya tato Mentawai lengkap, sedangkan orang tua saya sudah tidak lagi memakai tato,” kata Bajak Letcu.

Bajak Letcu mulai menggunakan tato Mentawai setahun lalu. Ia meminta Durga ketika berada di Butui membuat tato Mentawai di tubuhnya. Durga adalah seniman tato Indonesia yang sedang mempelajari tato di Butui, sebuah dusun tradisioal Mentawai yang jauh di pedalaman Siberut Selatan tapi sering didatangi turis asing.

“Saya katakan kepada Aman Durga, saya cinta budaya saya, saya merasa tersinggung dengan postingan orang luar Mentawai yang bangga memakai tato Mentawai, lalu Aman Durga menato saya di dada dan punggung,” katanya.

Setelah itu ia mulai mempelajari cara membuat tato Mentawai kepada para sipatiti pembuat tato Mentawai yang ada di beberapa wilayah di Siberut.Ternyata banyak kawan-kawannya di Mentawai yang tertarik dan juga ingin ditato.

“Saya mentato mereka, kami saling belajar membuat tato, kami ingin melestarikan budaya Mentawai, karena ini sangat berharga, di Indonesia tato tradisional itu hanya ada di Mentawai dan Kalimantan,” katanya.

Teu Ngaingai Manai, 55 tahun, sekerei dari Simatalu yang bertemu JurnalisTravel.com di Tuapeijat ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai mengatakan dulu orang-orang yang bertato di Simatalu sering ditangkap polisi dan dihukum membersihkan jalan di Muara Sikabaluan. Akibatnya peristiwa itu banyak orang Mentawai yang tidak mau lagi ditato.

“Tapi karena saya seorang sikerei, saya harus tetap ditato, kampung saya jauh ke dalam dari pantai, jadi tidak ada yang menangkap saya,” katanya.

Bajak Letcu sedang menato. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Ia mengatakan saat ini sipatiti (penato) di Simatalu tinggal sedikit. Padahal dulu selain sipatiti laki-laki, juga ada sipatiti perempuan.                                                                           

“Kalau badan perempuan bagian atas seperti dada, dulu harus ditato oleh sipatiti perempuan, tidak boleh dilakukan sipatiti laki-laki, kecuali untuk kaki atau tangan,” katanya.

Teu Ngaingai senang menyaksikan anak-anak muda di Tuapeijat, Pulau Sipora kembali  memakai tato Mentawai. 

“Kami para sikerei akan membawa anak-anak muda di Simatalu kembali memakai tato seperti dulu, kami juga masih bisa membuat tato,” katanya.

Menanggapi semangat anak-anak muda di Mentawai kembali menggunakan tato, Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet menyambut dengan baik.

“Silakan membuat tato Mentawai karena itu kekayaan budaya Mentawai, saya sangat senang banyak anak muda Mentawai yang mulai kembali menggali budaya tato Mentawai dan memakainya,” katanya.

Yudas mengatakan tidak akan melarang siswa, mahasiswa, atau pegawai pemerintah ditato.

“Suatu kali mungkin kami akan membuat perda tentang tato Mentawai,” katanya. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)