Penjahit Sampah dari Karang Putih

bank sampah
Seorang pekerja sedang menjahit plastik bekas sampah kemasan di “Bank Sampah Sakinah”. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

DI SEBUAH ruangan seorang perempuan sedang menjahit sampah plastik dari bekas kemasan makanan ringan. Ia menyambungnya satu demi satu dengan mesin jahit menjadi lembaran plastik berukuran lebar. Beberapa lembaran bekas sampah kemasan dari hasil jahitannya digantung di atas tirai jendela.

Sri Ningsih, 49 tahun, perempuan itu bekerja sebagai salah seorang penjahit sampah di “Bank Sampah Sakinah” di Kelurahan Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan, Padang.

Setiap hari Sri bertugas menyambung plastik bekas kemasan. Lembaran itu akan dibuat menjadi celemek, tas, map, dan kerajinan lainnya. Di sebelahnya menggunung tumpukan plastik kemasan yang siap dijahit.

Plastik kemasan aneka produk tersebut sudah bersih, kering, dan sudah dipotong seperti lembaran-lembaran plastik kecil. Terlihat mulai dari bekas kemasan minyak goreng, kemasan penyedap masakan, hingga bekas kemasan sampo.

Dari pekerjaan itu Sri mendapat upah. Jam kerja juga fleksibel, bahkan lebih banyak ia kerjakan di rumahnya tak jauh dari kantor Bank Sampah Sakinah.

Selain Sri Ningsih beberapa perempuan lainnya yang menjadi penggerak Bank Sampah Sakinah juga menjahit sampah plastik di rumah-rumah mereka. Karya mereka terpajang di dalam lemari kaca di ruangan itu.

Karya mereka yang paling banyak adalah celemek dari berbagai jenis bekas kemasan minyak goreng, susu instan, minuman instan, dan bumbu masakan instan.

Selain itu ada tas dari wadah teh gelas, taplak meja dari sedotan, map dari potongan sampah plastik sisa, vas bunga dari jalinan kertas, dan bunga dari botol minuman bersoda.

Bank Sampah Sakinah tempat para perempuan itu mengolah sampah terletak di Kelurahan Batu Gadang di lereng bukit karang putih, kawasan bahan baku Semen Padang. Kelurahan itu juga terlihat asri dan bersih dari sampah, karena hampir semua sampah kemasan yang sudah dibersihkan dijual ke “Sakinah”.

Kantor bank sampah itu menempati salah satu ruangan di bangunan tempat kegiatan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Karang Putih.

bank sampah
Asri Astia Ningsih, 54 tahun, memulai usaha bank sampahnya pada 2013. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Halamannya yang luas terlihat asri dengan naungan pohon dan tanaman yang tumbuh subur di dalam pot-pot yang berjejer rapi. Berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bawang, cabe rawit, kucai, kol, dan seledri ditanam dalam wadah plastik bekas pembungkus deterjen dan minyak goreng.

Semua tanaman tumbuh subur karena dipupuk dengan kompos yang juga diolah  dengan komposter di halaman belakang Bank Sampah Sakinah. Pupuk kompos tersebut juga bisa dibagikan gratis kepada warga sekitar yang membutuhkan.

Di depan pintu kantor bank sampah terdapat tulisan harga sampah plastik. Semua jenis plastik saset Rp6.000 per kilogram, wadah teh gelas dan sejenisnya Rp3.000 per kilogram, botol plastik bekas minuman dan kosmetik Rp1.000 per kilogram. Sedangkan plastik cincang halus Rp15.000 per kilogram, kertas bekas Rp800 per kilogram, dan kardus Rp1.500 per kilogram.

Di dinding terpampang catatan jumlah nasabah Bank Sampah Sakinah. Juga ada buku-buku tulis berisi pencatatan sampah yang disetor nasabah, penarikan tunai uang penjualan sampah, dan buku koperasi nasabah Bank Sampah.

Bank Sampah Sakinah didirikan Asri Astia Ningsih, 54 tahun, pada 2013. Ia sebelumnya aktif mengelola kegiatan masyarakat lewat PKBM Karang Putih yang ia dirikan pada 2007. Karena keaktifannya, Asri sering diikutkan pelatihan dan studi banding oleh Dinas Pendidikan Sumatra Barat hingga ke luar negeri.

“Yang paling membekas saat saya dibawa studi banding ke Thailand pada 2013, saat itu di bandara tidak sengaja permen yang saya makan jatuh, punggung saya langsung ditepuk orang, saya disuruh ambil permennya, saya terkesima, begitu pentingnya masalah sampah di sana,” kata Asri.

Matanya kembali terbuka saat diundang pelatihan ke Surabaya. Ceramah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di pelatihan itu tentang pengelolaan sampah di Kota Surabaya memompa semangatnya.

“Sampai di Padang saya langsung mengajak Pak Lurah membuat bank sampah, tapi saat itu tidak disambut antusias, karena Pak Lurah juga belum tahu apa itu bank sampah,” ujarnya.

bank sampah
Para perempuan pengelola Bank Sampah Sakinah di depan kantor mereka. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Namun Asri tetap bertekad mendirikan bank sampah. Ia menyosialisasikan kepada ibu-ibu wali murid Taman Kanan-Kanak dan PAUD (Pendidikan Usia Dini) Mutiara yang ia kelola. Asri meminta mereka membawa sampah plastik bekas bungkus saset seperti minuman, bumbu dapur, kemasan minyak, kemasan mie instan yang sudah dibersihkan dan ia akan membelinya seharga Rp6000 per kilogram. Jauh lebih mahal dari harga sampah kepada pemulung yang hanya membelinya Rp300 per kilogram.

“Tapi mereka kelihatannya meledek saya, mungkin saya dikira aneh minta dibawakan sampah, lalu dari 60 wali murid, hanya lima orang yang mau membawa sampah,” kata Asri.

Gagal membujuk ibu-ibu wali murid, Asri memilih cara yang lebih tegas pada semester berikutnya. Ia membuat surat perjanjian dengan materai, mengharuskan mereka membayar SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) anak-anaknya dengan sampah. Jika tidak akan dikenai denda. Akhirnya 60 wali murid menyetor sampahnya setiap bulan kepada Bank Sampah Sakinah. Mereka menjadi nasabah pertama di Bank Sakinah. Asri saat itu hanya punya modal Rp200 ribu untuk membeli sampah.

Karena bisa menjahit, sampah plastik bekas kemasan sampo, minyak goreng, bumbu, dan minuman saset ia jadikan celemek untuk anak-anak TK-nya. Celemek itu ia tawarkan ke sekolah-sekolah TK lainnya di Kota Padang.

Akhirnya para koleganya para pengelola TK dan guru TK mulai memesan dan memberi panjar. Dari panjar itulah Asri membeli sampah. Dari Rp6 ribu per kilogram sampah plastik yang ia beli, setelah ia jahit dan menjadi celemek bisa untung Rp100 ribu.

Ia juga giat mempromosikan hasil kerajinannya kepada anggota pengajian majelis taklim sehingga banyak yang memesan.

Pesanan mulai meningkat setelah Pemerintah Kota Padang menggalakkan pendaurulangan sampah. Bank Sampah Sakinah pun kebanjiran order dari kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Barat. Mereka meminta dibuatkan tas atau tempat wadah alat tulis untuk seminar dari bahan daur ulang.

“Ada juga sekolah-sekolah di Padang, saat mau pameran mereka membeli produk kami, lalu saat sama-sama pameran saya terkejut kok hampir 90 persen produk Bank Sampah Sakinah semua, tapi itu tidak kreatif,” kata Asri menyesalkan.

Saat pesanan mulai banyak, Asri memberdayakan para perempuan di sekitar tempat tinggalnya untuk ikut menjahit. Ada 19 orang yang kini menjahit untuk prakarya dari sampah.

bank sampah
Deretan pot tanaman dari plastik bekas di Bank Sampah Sakinah. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Asri juga pernah membawa prakarya sampahnya mengikuti pameran kerajinan di Jakarta. Saat itu kerajinan yang ia pamerkan menarik perhatian banyak wisatawan asing.

“Ada bule yang membeli tas, harganya Rp50 ribu, uangnya 10 US dolar, saya balikin, tapi dia meolak, no… no… this is for you, katanya, ada juga yang memberi saya uang 50 dolar, mereka sepertinya sangat tertarik dengan souvenir dari sampah,” kata Asri.

Setiap bulan ia menampung 100 kilogram sampah bekas plastik kemasan. Itu belum termasuk sampah plastik bentuk lainnya seperti kemasan botol plastik yang dicacah untuk dijual ke Medan.

Sebagai bank sampah induk di Kota Padang, Bank Sampah Sakinah juga mengelola sampah warga di TPA di Kelurahan Batu Gadang. Sebanyak 400 warga diambil sampahnya oleh petugas Bank Sampah Sakinah setiap hari dan dibawa ke TPA untuk dipilah dan didaur ulang. Untuk sampah seperti ini tidak dijual, tetapi dipungut fee Rp20 ribu per bulan tiap rumah. Sedangkan untuk sampah dari sekolah tarifnya Rp700 ribu per bulan.

“Sampah dari sekolah ini luar biasa banyaknya, dari sekolah saja bisa sampai 100 kilogram setiap hari dan itu 90 persen plastik,” kata Asri.

Jumlah nasabah yang menyetorkan sampah untuk dijual secara mandiri dari warga Kelurahan Batu Gadang mencapai 301 orang dan nasabah dari daerah sekitarnya 403 orang. Penghasilan “Sakinah” dari mengelola sampah pun menggembirakan, pada 2019 saja lebih Rp100 juta.

Karena aktivitasnya, Bank Sampah Sakinah mendapat penghargaan Platinium dari BSNI (Badan Standardisasi Nasional) dalam Indonesian CSR Award pada November 2017.

“Saat ini baru 50 persen keluarga di kelurahan kami yang ikut menjadi nasabah Bank Sampah Sakinah,” kata Asri.

Namun, menurut Asri, dibandingkan dengan saat awal mendirikan bank sampah enam tahun lalu, sekarang sudah banyak kemajuan.

“Karena tidak lagi banyak sampah plastik yang dibuang di jalan atau di sungai,” ujarnya.

Tak hanya bebas dari sampah, kampung di lereng bukit itu juga terlihat lebih asri. Sebuah usaha yang patut dijadikan contoh siapa saja. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)