Danau Unik Ini Airnya Bisa Menghilang, Kenapa?

Ketika air keluar terciptalah sebuah danau seluas 38 ha. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

INI danau yang unik dan aneh. Ada kalanya danau seluas 38 hektare ini penuh air. Namun tiba-tiba airnya menyusut dan hilang, sehingga danau tersebut menjadi hamparan rumput.

Karena sudah terbiasa melihat hal seperti ini, warga Kamang Mudiak di Kabupaten Agam, di Sumatera Barat, lokasi Danau Tarusan Kamang berada, tak lagi menganggapnya kejadian luar biasa. Tapi orang yang baru tahu, tentu saja merasakan keanehannya.

Air danau bisa kembali menggenangi padang rumput karena hutan di perbukitan sekeliling danau masih terjaga. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Ketika danau ini penuh air, anak-anak memanfaatkannya untuk mandi dan lelaki dewasa menangkap ikan dan udang. Ikan dan udang akan datang bersama air yang memenuhi danau. Anak-anak juga bermain rakit dan di pinggirnya kerbau pun menikmati untuk berkubang.

Namun setelah menjadi danau, ada kalanya lima bulan, tapi bisa juga setahun atau dua tahun, tiba air menyusut dan lenyap. Air masuk ke gua dan lorong di bawah bukit yang terdapat di salah satu sisi danau. Air pun menghilang.

Pemandangan yang unik di Danau Tarusan Kamang. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Seminggu setelah danau kering, tanah bekas danau itu pun ditumbuhi rumput dan berubah menjadi padang rumput yang hijau. Anak-anak pun memanfaatkannya untuk  bermain sepakbola. Orang-orang dewasa pun menjadikannya tempat menggembalakan ternak, sapi dan kerbau.

Sebelum air danau surut, biasanya warga seakan merayakan perpisahan dengan mengadakan lomba mendayung perahu di tengah danau.

“Tak bisa diperkirakan lagi kapan air akan menghilang atau kapan air akan datang, kadang lima bulan, kadang setahun dan paling lama dulu air danau tergenang  selama dua tahun saat saya masih kecil,” kata Imran Malin Mudo, 50 tahun, warga pinggir danau.

Lokasi terbaik di pinggir danau, sebuah bukit kecil dengan hamparan rumput yang hijau. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Saat Jepang masuk ke Indonesia, kata Imran, bahkan air danau kering 3,5 tahun. Begitu Jepang kalah perang, air keluar dengan deras dari gua-gua.

“Dan padang rumput ini kembali menjadi danau, itu cerita orang tua-tua di kampung dulu, karena saat itu saya belum lahir,” katannya.

Menurut Imran, jika air danau akan muncul, di kaki bukit biasanya terdengar suara dentuman dan suara blup-blup seperti air akan keluar.

Ketika air mulai keluar dari bawah bukit kerapkala terdengar suara dentuman. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Bahkan pada 2000 pernah terdengar dentuman besar seperti suara meriam dari balik batu kapur yang punya lubang-lubang untuk tempat air masuk dan keluar, di sini disebut telinga danau,” katanya.

Setelah dentuman itu, tiga hari kemudian keluar air yang cukup deras dan memenuhi padang rumput tersebut sehingga menjadi danau.

Danau yang tidak terlalu luas ini hanya butuh15 menit mengelilinginya dengan perahu karet bermesin tempel. Danau juga tak terlalu dalam, paling dalam hanya 10 meter.

Mengelilingi danau dengan perahu karet tak sampai 15 menit. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Di bagian selatan danau, di bawah bukit-bukit batu gamping dengan pepohonan yang subur di atasnya terlihat tujuh lorong tempat air keluar-masuk  dari sungai bawah tanah.

Namun menurut warga, ada banyak sekali terowongan air, tetapi tidak terlihat karena sudah tertutup air. Dari situlah terdengar suara dentuman beberapa hari sebelum air mengalir menjadi danau.

Ini salah satu sisi bukit dengan goa dan terowongan tempat air mengalir. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

AHLI GEOLOGI: FENOMENA MENARIK

Keunikan Danau Tarusan Kamang ternyata fenomena  menarik bagi ahli geologi.

Mantan ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Andang Bachtiar mengatakan, banyak danau karst di daerah lain di Indonesia, tetapi hanya Danau Tarusan Kamang yang punya hubungan langsung dengan sungai di bawah tanah.

Andang Bakhtiar melakukan penelitian. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Sehingga muncul fenomena danau yang bisa muncul dan menghilang kembali, kalau di tempat danau karst lainnya  airnya tergenang begitu saja,” katanya.

Beberapa tahun lalu Andang  Bachtiar melakukan penelitian awal bersama rekannya, di antaranya Nofrins Napilus dan Kurnia Chalik.Mereka didampingi Bupati Agam Indra Catri.

Untuk sementara Andang menyimpulkan, Danau Tarusan Kamang selain “danau karst” juga “danau tektonik pisah-regang” yang terkait dengan Patahan Sumatera. Sebab kawasan danau terletak dalam zona patahan Sumatera.

Andang Bakhtiar memperlihatkan sketsanya tentang penyebab air danau bisa hilang dan muncul. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Ini sudah pasti danau karts, karena berada di bawah pebukitan batu gamping dan batu gampingnya umurnya sudah tua sekali, sekitar 400-300 juta tahun lalu, lebih tua dari batu gamping di Jawa,” jelasnya.

Karena itu, tambahnya, bukit batu gamping di pinggir danau ini terlihat subur dan penuh pohon, karena di atasnya juga sudah tertutup tanah subur yang tebal.

Kadangkala penduduk mengarungi danau dengan rakit. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Selain itu, tambahnya, juga didapatkan bukti bahwa dataran tepian danau berumput hijau tersebut ternyata  suatu kipas alluvial yang merupakan ciri dari morfologi patahan normal yang aktif.

Nah, kenapa air danau bisa hilang dan datang? Penyebabnya, menurut Andang, ketika

muka air sungai bawah tanah surut sampai level lebih rendah dari dasar danau, maka danau pun mongering. Jika muka air sungai meninggi maka air danau pun terisi.

Ia mendaki bukit  setinggi 300 meter dan masuk ke gua di dalam karst, serta melihat lubang masuknya air.

Air bisa saja mengering tiba-tiba dalam kurun yang tak bisa dipastikan. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Pada ketinggian bukit 100 meter ada lubang air, di dalamnya terlihat  sungai bawah tanah, jadi kalau air sungai nya turun, danaunya jadi kering, kalau air sungainya naik, danaunya jadi muncul,” katanya.

Yang perlu diteliti, kata Andang, faktor apa yang mengontrol air naik turun tersebut. Perlu ada pemetaan gua-gua dan sungai bawah tanah yang  ada di bawahnya.

Menurutnya, sungai bawah tanah dan Danau Tarusan Kamang tersebut penting untuk konservasi air. Ini untuk alat pemantauan otomatis (otomatik montoring tool) yang diberikan kepada manusia sekitarnya.

“Jika air danaunya naik berarti penyerapan air di bukit-bukit barisan hingga ke belakangnya berjalan baik, jika gunung itu digunduli sudah tak akan lagi ada air naik-turun naik-turun,” katanya.

Jadi hutan di sekitar bukitnya mesti tetap terjaga dengan baik. (Febrianti/JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi redaksi@jurnalistravel.com. Terima kasih untuk anda bantu bagikan dengan tautan.(REDAKSI)