Saguer dan Cap Tikus di Museum Manado

Saguer dijual di pinggir jalan raya menjelang masuk Kota Bitung, Sulawesi Utara. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

JIKA Anda ingin mengenal budaya suatu daerah, maka pergilah ke museumnya. Pernyataan ini sudah lama saya dengar meski saya tak tahu siapa yang pertama kali mengatakannya.

Apakah ada informasi tentang Saguer dan Cap Tikus, minuman khas Manado, tepatnya Minahasa, yang terkenal itu di museum daerah di Sulawesi Utara?

Maka saya pergi ke Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara yang terletak di Jalan W. R. Supratman No.72, Lawangirung, Wenang, Kota Manado.

Museum berlantai tiga ini sepi ketika saya datang pada Jumat siang, 23 Februari 2018. Tapi saat saya masih berada di lantai satu, serombongan murid SD Frater Don Bosco, Manado datang bersama dua guru mereka.

Contoh Saguer dan Spritus dari Nira di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara di Manado. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Rombongan ini segera disambut dan dibantu pemandu yang menjelaskan dengan suara lantang tentang satu kontak informasi ke satu kotak informasi lainnya

“Cap Tikuuuuussss….” kata anak-anak tersebut serempak ketika pemandu pria itu bertanya apa nama minuman khas Manado yang terbuat dari pohon aren yang terkenal.

Pemandu bertanya ketika berada di depan salah satu etalase di lantai tiga yang menginformasikan tentang minuman khas Minahasa dari bahan alami pohon aren.

Di etalase berkaca tebal itu terdapat sejumlah alat pengolah nira hingga menjadi Saguer (Palm Wine) dan Cap Tikus. Di sudut tersandar sebatang bambu yang di Sumatera dulunya juga dijadikan alat oleh petani untuk menyadap air nira dari pohon aren.

Di lantai etalase terpajang dua botol air mineral berbeda ukuran. Botol besar tidak berlabel. Sedangkan botol yang lebih kecil berlabel “Spritus Super Quality”. Keduanya berisi air bening seperti air mineral.

Contoh alat-alat pengolah minuman dari pohon aren di Museum Negeri Sulawesi Utara. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Selain itu ada sebuah kuali berisi adonan bening, sebuah tempat masak silinder, dua alat dari kayu mirip penokok (pemukul), dan dua buah alat lainnya lebih kecil mirip pahat. Selain itu juga ada dua buah gayung dari batok kelapa.

Di bagian depan terdapat kertas informasi berjudul “Manfaat Pohon Aren di Sulut”: 1. Botol berisi Saguer; 2.Belanga untuk membuat gula aren; 3. Sondo (untuk mengaduk gula); 4. Kakendong (pemintal tali ijuk).

“Peralatan di atas adalah alat-alat yang digunakan di dalam pemrosesan/ pemanfaatan pohon aren. Dari pohon aren dapat dibuat Saguer (sejenis tuak), gula aren, Cap Tikus (sejenis minuman beralkohol tinggi), dan tali ijuk.”

Sedangkan di dinding belakang terdapat gambar pohon aren, foto petani sedang mengolah air nira, dan sejumlah pria sedang mengangkat gelas berisi Saguer yang mirip jus berwarna air tebu.

Di sana ada tulisan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Tulisannya begini: “Di Sulawesi Utara dikenal budidaya pemanfaatan pohon aren. Dari pohon aren tersebut masyarakat sering mengolah air niranya menjadi beberapa keperluan seperti dibuat menjadi gula merah, saguer (tuak) atau Cap Tikus (minuman-minuman khas daerah ini) dan lain-lain.”

“Saguer adalah minuman khas daerah ini yang berasal langsung dari air nira yang diambil dari pohon, sedangkan Cap Tikus adalah minuman beralkohol tinggi dari air nira pula, tetapi sesudah mengalami penyulingan.”

Dalam perjalanan dengan mobil 13 menit sebelum memasuk gerbang Kota Bitung dari Minahasa Utara, saya sempat membeli minuman Saguer yang dijual dipinggir jalan. Minuman itu ditaruh di dalam botol bir dan botol bekas air mineral. Busa muncul di mulut botol.

Alat-alat pengolah nira di Museum Negeri Sulawesi Utara. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Harga sebotol cuma Rp8 ribu. Hanya saja pembeli harus memindahkan sendiri ke botol yang dibawanya. Kebetulan saya hanya memiliki botol air mineral ukuran menengah yang isinya hampir habis. Saya menyalin isi botol bir ke sana.

Rasanya enak sekali. Manis. Mirip air tebu. Kita harus segera menghabiskan Saguer ini. Jika tidak, airnya akan memunculkan busa yang jika semakin tebal akan meledak dengan melemparkan tutup botol.

“Kalau dibiarkan lama-lama Saguer ini akan menjadi cuka,” kata Onal Parera yang akrab dipanggil Tole yang menemani perjalanan. Karena itu, kami bergantian meminumnya. Terakhir sebelum saya teguk habis, tutup botol air mineral itu terlepas setelah suara letupan.

“Untuk menjadikannya Cap Tikus, Saguer ini direbus dan disuling dengan cara tertentu sampai warnanya bening,” lanjutnya.

Saya sudah melihat Tole meneguk Cap Tikus seperti meminum air mineral saat menyopir. Katanya Cap Tikus membuatnya semakin fit. Saya pernah mencoba sedikit dan rasanya memang enak dengan alkohol yang tinggi.

Cap Tikus adalah arak lokal Minahasa yang nama aslinya “Sopi”. Konon nama “Tjap Tikoes” bermula sekitar 1900-an saat orang-orang Belanda yang menduduki Minahasa mulai kekurangan arak dari Eropa. Pedagang Cina mengambil kesempatan dengan memasarkan Sopi dengan memberi label “Tjap Tikoes”.

Konon lagi, kata “tikus” ini juga diberikan karena kisah lokal yang menyebut di pohon aren banyak bersarang tikus, sehingga bekas cakarnya menempel di batang aren.

Kisah ini saya dapatkan bukan dari buku sejarah atau ucapan langsung sejarawan, melainkan dari penelusuran dari beberapa blog. Jadi, bisa saja benar, bisa juga ada kisah lain yang benar.

Yang pasti, Cap Tikus dengan kadar alkohol bisa sampai 70 persen ini, kini menjadi terkenal karena dua hal: pertama, mahal harganya, apalagi jika dikirim ke daerah lain seperti di Jayapura bisa Rp100 ribu per botol.

Kedua, mulai diberangus aparat kepolisian karena seperti minuman beralkohol dengan kadar tinggi lainnya, bisa menjadi pemicu kriminalitas.

Terlepas dari itu, saya sudah pernah mencicipi kedua minumkan khas Manado ini, Saguer dan Cap Tikus. Jadi tidak hanya mendengar cerita dari orang lain. (Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)