Salju Abadi Jayawijaya Akan Hilang 2020, Ini Komentar Pendaki Wanadri

Kasman Arifin (berjaket biru, belakang) di puncak Cartensz pada 1996. (Foto: Dok. Kasman Arifin untuk JurnalisTravel.com)

BERITA menyedihkan, Indonesia terancam kehilangan salju abadinya di Jayawijaya, Pulau Papua hanya dalam waktu tiga tahun lagi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya mengingatan, Indonesia segera kehilangan salju abadi Jayawijaya berdasarkan tren mencairnya es di puncak tertinggi Indonesia itu.

“Jika tidak ditangani dengan baik lapisan es di Puncak Jayawijaya akan hilang pada 2020, jika trennya seperti sekarang,” kata Andi seperti dikutip Antara, Kamis 5 Januari 2017.

Perkiraan itu merujuk pada observasi langsung yang dilakukan Juni 2010, November 2015, dan November 2016. Observasi bertujuan mengukur kecepatan penurunan tebal es akibat pemanasan oleh atmosfer.

Salju yang unik di Cartenzs yang terancam hilang. (Foto: Dok. Kasman Arifin untuk JurnalisTravel.com)

Andi menjelaskan, pengukuran terakhir 23 November 2016 menunjukkan tebal es di Puncak Jaya menyusut 1,42 meter sejak Mei 2016 dan tebal es tersisa 20,54 meter. Sejak Mei, es di Puncak Jaya menyusut 4,26 meter dari November 2015 yang disebabkan el nino kuat pada 2015-2016.

Padahal Juni Juni 2010 tebal es Puncak Jaya 31,49 meter dan menyusut menjadi 26,23 meter pada November 2015 atau mengalami laju penurunan tebal 1,05 meter per tahun sejak 2010.

Tebing yang curam di Cartensz. (Foto: Dok. Kasman Arifin untuk JurnalisTravel.com)

“Perlu langkah strategis pemerintah dan masyarakat dunia untuk menekan laju pencairan es di Puncak Jaya yang menjadi salah satu dari tiga puncak bersalju dunia di khatulistiwa, selain di benua Afrika dan di Peru,” katanya.

Langkah strategis itu, menurut Andi, menghindari perilaku yang memicu pemanasan global seperti penebangan hutan liar, tingginya produksi emisi karbon, dan lainnya.

PRIHATIN DAN SEDIH

Menanggapi berita ini, Kasman Arifin, anggota Wanadri yang pernah mendaki Salju Cartensz Jayawijaya empat kali, pertama pada 1978, sangat prihatin dan sedih.

Lapisan salju abadi yang menyelimuti Cartensz pada 1996. (Foto: Dok. Kasman Arifin untuk JurnalisTravel.com)

“Karena ini puncak kebanggaan para perambah hutan Indonesia, salju di Negeri Khatulistiwa… salju Cartensz ibarat topi payung hutan tropis khatulistiwa,” katanya kepada JurnalisTravel.com, Kamis (12/1/2017).

Perambah hutan adalah istilah untuk anggota Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung yang terkenal dan terbesar di Indonesia bermarkas di Bandung. Kasman adalah anggota seangkatan dengan Profesor Kuntoro Mangkusubroto, mantan Menteri Pertambangan (1998-1999).

Menurut Kasman, salju Jayawijaya unik karena muncul di khatulistiwa memayungi hutan tropis yang berciri lurus dan tinggi.

Kasman Arifi (belakang) dan rekannya saat mendaki Cartensz 1996. (Foto: Dok. Kasman Arifin untuk JurnalisTravel.com)

Ia juga mendengar informasi kerusakan hutan dan lingkungan dari temannya di sana. Sawit sudah ditanam dan belum lagi dampak penggundulan bumi oleh Freeport.

Kasman memiliki kenangan pendakian dengan Cartensz. Pertama ia mendaki pada 1978 sewaktu mengambil nomor register “Perambah Hutan”, nomor keanggotaan Wanadri. Ke lokasi dari Tanjung Periuk, Jakarta menempuh perjalanan dengan kapal laut menuju Makassar, terus ke Manado, dan berakhir di Biak.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan pesawat perintis ke Jayapura, terus ke Timika, Ilaga, kemudian Lembah Danau-Danau (base camp terakhir), dan Puncak Cartensz.

Lokasi salju di Jayawijaya.

Perjalanan keduanya 1982 bersama rombongan Pataga Universitas Tujuh Belas Agustus dengan rute sama. Perjalanan ketiga 1990 juga dengan Pataga untuk persiapan pendakian Green Jures di Swiss dan Mount Blanc Prancis..

Perjalanan keempatnya pada 1995 persiapan tim Merah Putih untuk Pendakian Everest dan Mount Blanc dengan rute Timika-Lembah Kuning.

“Dari Lembah Kuning atau Lembah Penantian lebih indah dibanding Danau Danau, dari sini kita melihat dimulainya kerusakan gletser Cartensz, salju di sini agak kasar dibanding dengan salju yang ada di Eropah, mungkin disebabkan pembentukan dan proses kondensasinya,” katanya.

Ceruk kuali raksasa penambangan emas Freeports jika ditarik garis lurus di peta hanya berjarak 7 km dari salju Cartensz. (Foto: Capture Google Earth)

Kasman yang kini seorang dosen dan tinggal di Pekanbaru, Riau mengenang, Puncak Jaya yang saljunya disebut Cartensz seluruh puncaknya ditutupi salju.  Ketika mendaki, lelehan palung ujung gletser biasanya ditandai.

“Ketika pendaki lihat patok itu, dia akan lapor bahwa gletser makin meninggi, artinya setiap tahun salju berkurang….” ujarnya.

“Kita akan kehilangan tantangan bersalju di lintasan khatulistiwa, akan kehilangan pemicu adrenalin,”  tambahnya.

Berikut foto-foto Kasman Arifin dan teman-temannya di salju Cartensz pada 1996. Sangat menyedihkan jika salju-salju ini menghilang. (Febrianti & Syof / JurnalisTravel.com)

 

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi jurnalistravel@gmail.com. Terima kasih atas bantuan Anda jika membagikan tautan.(REDAKSI)