Gusmen Heriadi Mengupas Dampak Kebanggaan Manusia

Gusmen Heriadi di depan salah satu lukisannya yang dipamerkan.

PELUKIS Gusmen Heriadi mengupas ketamakan manusia melalui lukisan-lukisannya pada pameran tunggal berjudul “Deep Skin-Skin Deep” di Ciptadana Center lantai 5, Plaza Asia Office Park Unit 5, Jalan Jenderal Sudirman Kv 59 Jakarta.

Pameran yang dibuka hari ini, Kamis, 22 Desember hingga 14 Desember 2018 merupakan agenda pameran seni rupa tahunan Ciptadana Art Program. Gusmen didaulat tampil di “Ciptadana Art Space” ketujuh tahun ini.

Ciptadana Art Space dimulai pada 2011/2012 dengan menampilkan pelukis Hanafi melalui pameran solo. Kemudian Sunaryo (2011/2013), Pande Ketut Taman (2013/2015), Filippo dan Sciascia (2014/2015).

Pada 2015/2016 pameran bersama lima pelukis: Ichwan Noor, Anusapati, Hedi Haryanto, A. Simatupang, dan T. Supriyono. Tahun berikutnya kembali pameran solo, Made Wianta (2017/2018) untuk kemudian tahun ini Gusmen Heriadi.

Gusmen merupakan pelukis asal Padangpariaman, Sumatera Barat kelahiran 1974 yang sejak kuliah di Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menetap di Jogya.

Ciptadana melalui siaran pers menyebutkan, sebagian besar objek yang diangkat Gusmen dalam karya-karyanya yang dikuratori EmmoItaliaander dan Sudjud Dartanto adalah wujud metafora dari perasaan dan perdebatan mengenai isu budaya dan tradisi dalam kehidupan modern bermasyarakat.

Sebagian besar karyanya bukti nyata dari beragam impian, tanggapan perihal kehidupan, dan padangan filosofis sang seniman.

“Pemikiran filosofis dan kritis yang banyak ditampilkan dalam karya-karyanya merupakan hasil dari perkembangan kultur dan budaya disertai kebiasaan sehari-hari dan pengaruh dari luasnya pergaulan seni dan proses pembelajarannya.”

Kurator seni pameran Ciptadana Art Program EmmoItaliander mengatakan, Ciptadana Art program kembali hadir dalam mempromosikan dialog yang menjembatani komunitas bisnis di Indonesia dan dunia seni yang dinamis.

Satu dari 25 lukisan Gusmen Heriadi yang dipajang di pameran,

“Gusmen kerap menampilkan karyanya dalam dua dekade terakhir dan kami sangat antusias untuk dapat menampilkan karya-karya sang seniman di dalam program kami tahun ini,” ujarnya.

Dalam karyanya saat ini, katanya, Gusmen mengeksplorasi kebanggaan akan ‘identitas’ manusia dan bagaimana kebanggaan tersebut berdampak pada lingkungan dan kehidupan makhluk lainnya melalui pendefinisian dari segi ‘esensi’ dan‘status’.

Dikutip dari siaran pers, Gusmen mengatakan, pada akhirnya perilaku manusia menyebabkan kelelahan dalam menghadapi kesiasiaan yang tak terbatas. Baik ‘esensi’ maupun ‘status’ menentukan berbagai hal yang terjadi di sekeliling manusia.

“Melalui berbagai eksplorasi, saya mencoba menerjemahkan kondisi manusia yang saya amati ini ke berbagai lukisan dan karya seni yang akan dipamerkan ini,” ujarnya.
Pameran dibuka untuk umum setiap hari dari pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. (jt)