Dari Sapi Menjadi Biogas di Umah Melajah

Sapi Umah Melajah
Ni Ketut Ratin memberikan makanan sapi. (Foto: I Wayan Karta)

Oleh: I Wayan Karta

 “SINI… sini… sini… bawa makanan sapinya, nak!” ajak wanita paruh baya memanggil anak-anak.

Anak-anak memikul daun pisang, daun intaran, dan daun bunut. Mereka menghampiri wanita itu dan memberi makan sapi. Ada dua ekor sapi, satu betina dan satu jantan. Umurnya sama-sama satu tahun. Keduanya tampak lahap makan. Itulah sepintas aktivitas beternak di Umah Melajah Taksu Tridatu di Nusa Penida, Bali.

Program beternak sapi salah satu program yang dikembangkan Yayasan Taksu Tridatu. Program tersebut memiliki tujuan agar anak-anak sadar akan pentingnya tetap beternak sapi. Walaupun nantinya bekerja di bidang pariwisata. Seperti kata kiasan orang Nusa Penida, “memelihara sapi adalah sebagai tabungan”. Tabungan yang dimaksud adalah jika nantinya ada kebutuhan sangat mendesak, maka sapi tersebut bisa dijual.

Anak-anak yang bergabung dengan komunitas Taksu Tridatu akan tahu cara beternak yang mengasyikkan. Kok bisa mengasyikan?

sapi umah melajah
Ni Ketut Ratin mengambil kotoran sapi untuk bahan kompor biogas. (Foto: I Wayan Karta)

Ya, karena hijauan pakan ternak, baik basah maupun kering, berasal dari lahan Umah Melajah. Hijauan dari tanaman yang ditanam mereka dalam program bertani dipergunakan untuk makanan sapi. Lebih asyiknya, pupuk tanaman berasal dari kotoran sapi dan bahan bakar di Umah Melajah menggunakan hasil biogas. Jadi aktivitas apapun yang dilakukan anak-anak di Umah Melajah akan bermanfaat untuk kegiatan lainnya.

“Anak-anak di sini belajar bagaimana beternak dengan baik dan memanfaatkan hasil beternak untuk kebun dan kompor di dapur,” kata Ni Ketut Ratin, perempuan yang tadi mengajak anak-anak memberi makanan sapi.

Ni Ketut Ratin, 55 tahun, menjadi pengurus ternak sapi di Yayasan Taksu Tridatu. Kesehariannya selain memberi pakan sapi adalah mengurus biogas agar gasnya tetap mengalir ke dapur. Rambutnya yang sudah beruban tidak menghilangkan semangatnya mengajari anak-anak beternak dan membuat energi dari ternak.

sapi umah melajah
Luas kandang sapi enam meter persegi, beratap asbes, dan ada sekat antarsapi. (Foto: I Wayan Karta)

Setiap pagi tampak wanita itu menyiram kotoran sapi. Kotoran itu disiram agar masuk ke dalam penampung bak biogas.

Bak yang dapat menampung empat meter kubik kotoran terbuat dari campuran semen dan pasir yang dicor. Galah didorong maju mundur agar kotoran bisa masuk. Sesekali ia memutar gagang pemutar kotoran yang berwarna biru untuk mempercepat masuknya kotoran.

“Ya, kalau tidak diisi kotoran, nanti biogasnya tidak berfungsi, terkadang anak-anak juga membantu setiap Sabtu dan Minggu,” katanya.

Luas kandang sapi enam meter persegi, beratap asbes, dan ada sekat antarsapi. Sekat itu dibuat supaya sapinya tidak saling seggol berebut makanan. Walaupun terbuat dari kayu, cukup efektif sebagai batas antarsapi.

Di sisi depan sapi disediakan tempat makan dan minum sapi yang juga dibuat pembatas. Pembatas yang terbuat dari batako tersebut memiliki tempat untuk makanan dan kubangan air untuk minum sapi.

sapi umah melajah
Kotoran itu disiram agar masuk ke dalam penampung bak biogas. (Foto: I Wayan Karta)

Di sebelah utara kandang tampak sistem biogas. Ada pengaduk kotoran, bak penampung, dan bak slury. Di bak slury kita dapat memperoleh pupuk dari cairan sistem pembuatan biogas. Cairan itu dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

Cairan dari biogas itu mesti dicampur lebih dulu dengan air dengan perbandingan satu-sepuluh. Artinya, jika satu liter slury, maka ditambahkan 10 liter air. Cairan yang kaya akan unsur hara ini biasanya dijual dan juga dimanfaatkan untuk tanaman di Umah Melajah.

Ni Ketut Ratin mengatakan biogas digunakan di dapur yayasan. Bahan bakar kompornya menggunakan biogas. Kompor yang digunakan memang khusus untuk biogas. Apinya tampak sangat biru. Di dapur yayasan kita melihat penanda ada atau tidaknya gas yang dihasilkan.

Penanda ini memiliki angka yang bermakna, jika nol maka persediaan biogas telah habis. Kotoran sapi harus ditambahkan agar menghasilkan biogas. Selama ada aktivitas di Umah Melajah, kegiatan memasak memanfaatkan biogas. Uniknya lagi biogas juga digunakan sebagai bahan bakar lampu petromax di dapurnya.

sapi umah melajah
Galah didorong maju mundur agar kotoran bisa masuk. (Foto: I Wayan Karta)

Seorang anak tampak membantu memutar-mutar gagang biru dan pengurus ternak mendorong kotoran sapi.

“Saya baru tahu, ternyata beternak sapi bisa juga menghasilkan energi biogas, pupuk juga dihasilkan,” kata Boy yang bernama lengkap I Gede Boy Raditya Juliana.

Boy dan teman-temannya senang melihat sapi makan.

“Kunyahannya mantap,” kata anak 9 tahun yang ikut komunitas seni dan beternak di yayasan.

Setiap Sabtu dan Minggu, sebelum belajar menari Bali, anak-anak ikut program bertani dan beternak. Anak-anak ikut melihat kondisi kesehatan sapi. Secara empiris, kondisi sehatnya sapi dilihat dari rambutnya. Jika rambutnya halus, maka si sapi itu sehat. Namun jika rambutnya berdiri atau kelihatan gersang, artinya si sapi dalam keadaan kurang sehat.

Beternak sapi memang harus paham penyakit yang yang dialami sapi. Tidak hanya penyakit, binatang lain juga bisa membuat sapi kurang sehat. Contohnya lalat yang biasanya banyak muncul di kandang saat musim mangga tiba. Cara menangani lalat dengan bahan organik seperti daun intaran.

Umah Melajah
Tumbuhan sumbur dengan pupuk organik dari kotoran sapi. (Foto: I Wayan Karta)

Anak-anak memeras daun intaran dan mencampurkan dengan sedikit air. Air perasan itu disemprotkan ke kandang dan sapi.

“Saya kadang-kadang ikut membuat pestisida alami, juga ikut memasukkan kotoran untuk biogas, ternyata beternak sapi dapat banyak hasilnya sebelum kita jual,” kata Boy yang memang tertarik memberikan pakan ternak sapi.

Ni Ketut Ratin berharap anak-anak menyukai ternak sapi dan memanfaatkan hasil kegiatan beternak untuk pertanian dan lainnya. (I Wayan Karta)

(Tulisan feature ini hasil Pelatihan Jurnalisme Warga yang diadakan The Samdhana Institute dengan peserta pemuda komunitas adat se-Indonesia dengan trainer Syofiardi Bachyul Jb secara online pada 31 Agustus -21 September 2020. I Wayan Karta adalah aktivis di Yayasan Taksu Tridatu di Pulau Nusa Penida, Bali dan juga seorang dosen).