Terkagum pada Kebesaran Kompleks Candi Muaro Jambi

Candi Tinggi dan bangunan di depannya yang tidak bisa dipugar karena hancur. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

SEKELOMPOK remaja, laki dan perempuan, mengayuh sepeda tandem sewaan menyusuri jalan kecil melihat candi-candi di lokasi situs Candi Muaro Jambi, suatu siang. Beberapa keluarga dengan anak-anak menggelar tikar di bagian padang rumput halaman sebuah candi di bawah naungan pohon.

Objek wisata sejarah kompleks Candi Muaro Jambi memang menjadi daya tarik Provinsi Jambi. Setiap hari ramai dikunjungi wisatawan, terlebih di akhir pekan.

Meski terletak di wilayah Kabupaten Muaro Jambi, kompleks percandian ini hanya berjarak 17 km dari pusat Kota Jambi. Menuju ke sana kita akan melewati jembatan sepanjang lebih 500 meter yang melintasi Batang Hari.

Candi Gumpung lokasi ditemukannya arca Prajnaparamita.(Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Berada di kawasan situs membuat saya kagum pada kebesaran masa lalu Sumatera, meski yang tersisa tak lebih dari seperdelapannya.

Luas areal Candi Muaro Jambi sekitar 12 kilometer persegi dipenuhi pohon duku dan durian milik warga, terletak di sisi utara sungai Batang Hari. Di sini ditemukan sedikitnya 80 buah “menapo” atau runtuhan batu bata bekas candi. Namun baru tujuh candi yang selesai dipugar.

Ketujuh candi itu dinamakan Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Tinggi I, Candi Kembarbatu, Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan Candi Kedaton. Candi kedaton masih dalam proses pemugaran.

Candi Gumpung.(Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Berbeda dari Candi Borobudur atau Prambanan yang terbuat dari batu andesit, candi-candi di sini dibangun dari susunan batu bata merah. Inilah yang menyulitkan arkeolog memugarnya. Bangunan yang selesai tak ada yang benar-benar utuh, bahkan ada yang tingginya tak sampai dua meter.

Namun yang menarik tata letak candi yang mirip susunan rumah di sebuah perumahan, lengkap dengan pagar persegi dari bata dengan halaman yang luas. Ada yang panjang pagarnya 54 X 37 meter, tapi ada juga 200 X 214 meter.

Candi-candi ini berjejer bersisian. Bisa dibayangkan kebesaran lokasi ini di masa lalu jika sedikitnya 80 buah candi berdiri berderet rapi.

Candi Gumpung dan sepeda yang disewakan untuk tour keliling kompleks Muarajambi. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Tata ruang lokasi candi juga diperhitungkan sedemikian rupa. Dari Batang Hari dibuat kanal yang cukup lebar memanjang ke arah Barat, tempat candi-candi berada di sisi Utara. Sedangkan lokasi masing-masing candi ditinggikan dengan parit di sekelilingnya. ini antisipasi meluapnya sungai Batang Hari yang sering membanjiri lokasi.

Tak kalah menarik adalah sejumlah temuan di lokasi candi yang sebagian besar bisa dilihat di Pusat Informasi Kawasan Percandian Muaro Jambi  yang terletak di lokasi.

Salah satu adalah Arca Prajnaparamita dari batu andesit putih. Arca ini mirip dan diduga sezaman dengan Arca Ken Dedes peninggalan Kerajaan Singasari di Jawa Timur. Meski ditemukan tanpa kepala, arca ini lebih istimewa karena memiliki motif lebih rumit dan indah pada kain dan sabuk yang dikenakannya.

Stupa di sisi Candi Tinggi. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Temuan tak kalah menarik adalah belanga perunggu. Belanga ini diperkirakan dibuat sekitar abad 9 hingga 13 masehi dan digunakan sebagai tempat memasak dalam jumlah besar. Artinya, untuk makanan banyak orang.

Lainnya adalah makara atau patung gajah yang biasa digunakan di pintu masuk candi, beberapa arca, dan batu padma yang diduga berfungsi sebagai kegiatan ritual. Umpak batu dan pecahan genteng terakota menunjukkan di lokasi ini pernah terdapat bangunan dengan bagian bawah bata, sedangkan bagian atas kayu beratap genteng.

Sejumlah mata uang logam Cina dari Dinasti Sung (960-1279 Masehi) juga ditemukan di kompleks ini. Selain itu juga sejumlah artefak emas berbentuk lempengan, cepuk, koin mata uang, kelopak bunga, dan butir emas. Terkait dengan Cina, juga ditemukan gong perunggu dengan tulisan Cina.

Gapura bagian luar Candi Kedaton dengan makara.(Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

BELUM DIKETAHUI

Penemuan lain yang penting dari lokasi ini adalah arca Buddha yang sekarang disimpan di Museum Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Peneliti situs Candi Muaro Jambi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo memastikan bangunan-bangunan candi di Muaro Jambi adalah bangunan suci pemujaan bagi masyarakat pemeluk ajaran Buddha Mahayana dan bukan merupakan sebuah kota atau pusat kerajaan.

“Ini bangunan sakral, bukan bangunan profan sebagai rumah tinggal, hanya saja hingga saat ini tidak diketahui siapa atau masa pemerintahan siapa dan dari kerajaan mana bangunan suci di sini dibangun,” katanya.

Candi Gedong I. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Minimnya sumber tertulis yang ditemukan terkait Candi Muaro Jambi adalah penyebabnya. Karena itu, waktu pasti pembangunannya juga tidak diketahui. Para ahli memperkirakan pertanggalan berdasarkan gaya seni tulisan yang ditemukan di bagian perigi Candi Gumpung, gaya seni arca, dan keramik.

Gaya seni arca Buddha yang disimpan di Palembang, terutama dari pakaiannya menunjukkan gaya seni abad ke-7 dan 8 Masehi. Gaya seni tulisan perigi di Candi Gumpung sekitar abad ke-9 hingga 10 Masehi. Keramik yang ditemukan menunjukkan sekitar abad ke-11 dan 13 Masehi. Sedangkan Arca Prajnaparamita menunjukkan gaya seni Singhasari yang berkembang abad ke-13 Masehi.

“Untuk sementara dapat disimpulkan bahwa bangunan suci di Muaro Jambi dibangun dan berfungsi sejak sekitar abad ke-8 hingga abad ke-13 Masehi,” kata Bambang.

Model pagar candi-candi di Kompleks Situs Muara Jambi. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Mengingat dalam catatan Cina, pada masa itu pernah di sekitar kawasan tersebut terdapat Kerajaan Malayu dan Kerajaan Sriwijaya, maka ada dugaan situs Muaro Jambi didirikan pada masa salah satu atau kedua kerajaan tersebut.

Menurut Bambang, masyarakat pendukung bangunan suci Muaro Jambi  di masa lampau terdiri dari dua macam, yaitu para pemelihara atau pengelola (biksu) bangunan dan rakyat biasa.

“Mereka semua, tidak diketahui berapa jumlahnya, tinggal di daerah tepian Batang Hari pada rumah-rumah tinggal yang didirikan di tepian sungai atau di rumah-rumah rakit,” katanya.

Belanga Perunggu (Bronze Pot) yang ditermukan di Candi Kedaton diduga pernah digunakan untuk tempat memasak banyak orang. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Pemukiman dan juga bangunan suci Muaro Jambi, jelas Bambang, dibangun pada daerah tanggul alam (natural levee), sebuah daerah tinggi di tepian sungai yang tidak terlanda banjir. Bangunan suci dibangun di tempat yang bebas banjir, karena harus jauh dari pencemaran. Dibangun jauh dari muara, mungkin untuk mencari tanah darat yang sudah stabil. Bukan lahan basah, wetland.

Dari candi-candi yang sudah diekskavasi, Candi Kedaton, menurut Bambang, termasuk istimewa karena temuan di sana. Pada pintu gerbang ditemukan makara berprasasti dalam aksara kuadrat. Ini sejenis aksara yang ditulis timbul, berlanggam Kadiri yang berkembang pada abad ke-11 Masehi. Arti tulisan itu berbunyi, “tempat mengheningkan ciptanya (meditasinya) Mpu Kusuma”.

“Selain itu juga ditemukan belanga yang mengindikasikan bahwa di sekitar Kedaton terdapat wihara, tempat para samanera atau calon biksu  dan biksu belajar, belanga itu dipakai untuk memasak makanan para penghuni wihara,” katanya.

Lokasi Kompleks Muaro Jambi di Provinsi Jambi. (Dicetak dari Google Earth)

Situs Muaro Jambi pertama kali dilaporkan S. C. Crooke, perwira angkatan laut Kerajaan Inggris pada 1883. Ekskavasi dimulai oleh Direktorat Sejarah dan Purbakala pada 1975. Pada 6 Oktober 2009 situs ini diusulkan ke UNESCO menjadi situs Warisan Dunia (World Heritage).

Sepertinya jalan masih panjang untuk pengakuan itu. Dibutuhkan keseriusan pemerintah untuk mengelola. Juga dibutuhkan perhatian lebih banyak dari para ahli, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk menguak latar belakang dan kebesaran Kompleks Candi Muaro Jambi. (Syofiardi Bachyul Jb/JurnalisTravel.com)