Nekat Melihat Keindahan Bawah Laut di Suwarnadwipa

Sesi berfoto di bawah laut di depan Resort Suwarnadwipa, Padang. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

OLEH: AMALLIA ANGGARWATI

AROMA laut menyapa lembut indera penciuman, saat kami menginjakkan kaki di Bungus, Padang. Kami tercengang pada keindahan hamparan biru laut yang beriak.

Hilang sudah penat, rasa lelah, dan perjalanan enam jam yang mencekam dalam bus pariwisata yang tak sebanding dengan jalan kecil dengan kelokan maut dari Kayu Aro, kaki Gunung Kerinci menuju Bungus, Padang.

Segera saja semuanya berubah menjadi antusias. Tak sabar menuju Pulau Pasumpahan, Pulau Pagang dan Suwarnadwipa Beach & Resort yang berada di sebuah tanjung di selatan Kota Padang.

Menuju Pulau Pasumpahan. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Dengan berdebar kami naik boat. Maklum hampir semua yang ikut belum pernah mengarungi lautan. Kami tinggal di pegunungan sehingga rasa cemas dan was-was terlihat jelas di wajah masing-masing.

Kalau boat terbalik atau kami terpeleset bagaimana ya, kami tak bisa berenang. Ah, saya tak bisa membayangkannya. Ada dua boat, kami lebih memilih naik yang lebih besar karena terlihat lebih aman.

Untungnya selama perjalanan kami diberi life jacket. Setengah dari perjalanan saya tak menikmatinya karena sibuk komat-kamit berdoa keselamatan. Separuh perjalanan berikutnya saya sudah terpesona akan indahnya laut yang begitu bening. Bahkan saya bisa melihat ikan meliuk-liuk bebas yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di pasar ikan laut.

Pantau dengan laut yang bening di depan Resort Suwarnadwipa. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Seperti anak kecil kami menunjuk-nunjuk berteriak kagum, saat ikan-ikan atau ubur-ubur terlihat. Saking senangnya tak terasa kami sudah sampai di tujuan.Mungkin hanya 15 menit.

Saya ikut rombongan kawan-kawan staf Puskesmas Kersik Tuo, Kerinci. Kami mengambil paket liburan mengunjungi Pulau Pasumpahan, Resort Swarnadwipa, dan Pulau Pagang.

Pulau Pasumpahan pulau kecil pertama yang kami kunjungi. Saya tersihir keindahan pantainya dengan pasir putih dan air yang jernih. Kami tak sabar ingin segera turun, memanjat dermaga dengan semangat.

Menginap di lantai dua, cukup nyaman. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Saking semangatnya, bagian lutut celana seorang teman pun robek tersengkut paku yang mencuat di salah satu kayu dermaga. Robeknya cukup besar hingga kulit lututnya ikut tergores.

Tapi ia segera melupakan kejadian itu. Sebentar kami sudah asyik menikmati pesona Pasumpahan. Kami pun asyik berlari-lari di pantai dengan pasir halus bewarna putih bersih di temani riak-riak ombak biru jernih.

Kami tak menyia-nyiakan kesempatan, langsung mengeluarkan senjata andalan, tongsis dan smartphone untuk segera berfoto dan berselfie ria sepuasnya.

Bisa juga memancing di sini. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Setelah dua jam puas bermain, kami pun kembali naik boat menuju tempat kami menginap di Resort Swarnadwipa yang ditempuh 15 menit.

Sampai di Resort Swarnadwipa kami segera ke kamar yang disediakan di lantai dua. Lumayan nyaman. Kamarnya satu ruangan luas dengan beberapa kasur putih yang di pisah dengan sekat kelambu putih.

Makanan di resort lumayan enak dengan menu bervariasi sebagai bagian dari paket.

BELAJAR SNORKELING DI SWARNADWIPA

Esoknya, selesai sarapan tour guide memanggil kami untuk berkumpul di pantai. Ia memberikan petunjuk dan rencana kegiatan hari ini: snorkling, banana boat, dan foto di dalam laut bersama ikan-ikan.

Snorkeling pertama yang tak terlupakan. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Setelah sorak semangat tim kami pun bubar mengambil perlengkapan snorkling dan pelampung. Saya yang sama sekali tak bisa berenang pun sempat ciut nyali tak mau ikut masuk ke laut. Namun teman saya meyakinkan untuk ikut saja.

Dengan modal nekat saya memberanikan diri masuk lebih jauh dari bibir pantai. Ternyata tak hanya saya yang ketakutan, ada juga beberapa teman yang tak bisa
berenang.

Akhirnya setelah air laut sampai di batas pinggang, tour guide kami pun mengumumkan cara memakai alat snorkling yang benar. Langsung saja saya merapat mendekati tour guide supaya tak melewatkan satu informasi pun. Maklum, saya sama sekali buta akan masalah renang-renangan.

Ayunan pantai, asyiik… (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Tour guide kami pun menjelaskan kalau memakai snorkeling kacamatanya harus benar-benar ketat menutupi hidung dan bernapas dari mulut dengan
selang snorkelingnya.

Dengan lugu saya mengikuti dan menenggelamkan kepala. Tak sampai semenit saya sudah gelagapan tak bisa bernapas. Saya lupa bernapasnya mesti melalui mulut, bukan hidung.  Terang saya tak bisa bernapas sama sekali.

Percobaan pertama gagal, namun saya tak mau menyerah. Setelah beberapa kali akhirnya saya mendapatkan ritme pernapasan. Senang sekali rasanya. Tinggal satu masalah lagi, saya tidak bisa berenang. Bagaimana mau menikmati keindahan laut jika saya tak bisa berenang.

Pulau Pasumpahan. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Jadi saya putuskan mendatangi tour guide kami. Ia mengatakan, pasti bisa. Dengan singkat ia mengajarkan saya basic berenang. Bagaimana agar saya tak tenggelam dan tetap mengapung.

Berulang kali mencoba baru saya bisa terapung, meski harus tetap dipegangi.
Tour guide kami pun merasa cukup untuk membimbing saya melihat keindahan dalam laut.

Dengan dipegangi saya dibawa berenang melihat keindahan bawah laut. Mata saya terbelalak tak percaya melihat sesuatu yang sangat indah. Ikan yang sebelumnya hanya saya lihat di televise. Terumbu karang yang indah, ikan loreng-loreng kuning-hitam-putih. Bahkan saya juga melihat ikan nemo.

Tanpa sadar tour guide telah membawa saya lebih jauh ke tengah. Waah saya terkagum-kagum melihat ikan bewarna silver besar yang saya tak tahu namanya. Terlihat segerombolan ikan kecil yang tengah mengerumuni batu karang.

Pulau Pasumpahan. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Saya sangat takjub sampai tak sadar kedalaman laut sudah setinggi atap rumah. Saya mulai panik dan membayangkan hal-hal buruk. Bahkan tidak ada pijakan di sana. Saya menarik tangan tour guide dan mengisyaratkan ingin segera balik ke bibir pantai.

Untung saja ia mengerti dan malangnya saat itu, tiba-tiba saja air mulai masuk ke celah kacamata saya dan mulai masuk ke hidung. Saat itulah saya mulai kehilangan akal sehat. Saya panik.

Saya menggapai-gapai permukaan air laut dan tenggelam. Bahkan saya lupa caranya bernapas saat itu dan mulai bernapas dengan hidung. Seperti tercekik rasanya. Bahkan saya sudah membayangkan inilah akhir hidup saya. Namun tour guide saya dengan sigap merangkul leher saya dan menarik saya ke atas.

Dia bertanya ada apa. Sementara saya sambil tertatih berusaha bernapas dan menahan perih tenggorokan saya yang terasa pahit asin. Saya menjawab air masuk ke hidung saya dan saya panic. Ia segera menenangkan saya dan menggiring saya ke tempat yang lebih dangkal.

Jembatan menuju dermaga di Suwarnadwipa. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Rasanya lega sekali kaki saya bisa kembali menjejak tanah, kembali berkumpul bersama teman-teman yang tak berani berenang jauh. Mereka mendatangi saya dan tersenyum genit menggoda saya.

“Cieee yang mesra sama tour guide, dipeluk-peluk.”

Astaga! Mereka tak tahu ternyata saya hampir mati tenggelam dan “pelukan” yang mereka lihat adalah aksi untuk menyelamatan saya. Dengan penuh sabar (sedikit tergoda untuk menenggelamkan mereka) saya pun menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Mereka pun kaget, tak menyangka kejadianya seperti itu.

Setelah puas berenang akhirnya tour guide meminta kami berkumpul untuk berfoto dalam laut. Tak terlalu dalam, tapi masih indah. Bergiliran kami pun satu persatu diambil fotonya.Lucunya ada teman yang sama sekali tak bisa berenang dan selalu gagal untuk diambil fotonya.

Entah kesambet apa teman-teman laki-laki pun iseng menenggelamkan paksa dia hingga akhirnya bisa juga diambil fotonya.

Resort Suwarnadhipa. (Foto: Dok. Amallia Anggarwati)

Sungguh kejadian menegangkan sekaligus lucu yang takan pernah saya lupakan. Bahkan karena masih trauma saya tidak ikut naik banana boat. Sayang sekali.

Hari itu usai sudah kegiatan. Kami kembali ke resort, membersihkan diri dan beristirahat. Agenda kami besok mengunjungi ke Pulau Pagang.

Tapi tiba-tiba seorang teman sakit. Saya dan empat teman lainnya membatalkan ke Pulau Pagang karena tidak tega meninggalkannya.Kami hanya bermain di sekitar resort sambil menunggu teman kembali untuk kemudian mengakhiri tur kami di Suwarnadwipa.

Meski hanya semalam, ini liburan yang sangat berkesan, tentunya. (Amallia Anggarwati)