Sagu yang Mulai Tergusur di Mentawai

Ardi, warga Sikabaluan, Siberut sedang memproses pembuatan sagu secara tradisional. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

DI TENGAH  hutan di pinggir jalan Sikabaluan, Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, seorang lelaki muda terlihat seperti sedang menari. Kakinya menghentak berirama seperti tarian Sikerei, dukun Mentawai, di atas lantai uma, rumah tradisional Mentawai. Tapi itu bukan lantai uma, dia sedang menari di atas tapisan kayu, menginjak-injak serpihan putih sagu yang menumpuk tebal di atasnya.

Sesekali ia menimba air dari sungai kecil di bawahnya dan menyirami sagu-sagu itu, lalu menginjak-injaknya kembali. Di bawah tapisan kayu cairan putih sagu yang ditampung dialirkan ke atas sampan kecil untuk tempat cairan putih itu diendapkan yang akan memisahkan air dan pati sagu.

Pria itu Ardi, 20 tahun, warga Sikabaluan. Sudah tiga hari mengolah sebatang sagu bersama sepupunya Andi, 17 tahun. Andi berada tak jauh di dekatnya, sedang memarut sagu dengan parutan kayu yang besar. Sebatang pohon sagu sepanjang 15 meter yang sudah dipotong-potong itu bisa menghasilkan 170 karung tepung sagu. Satu karung seberat 20 kilogram. Tepung ini selain mereka gunakan untuk makanan pokok juga dijual ke warga lain. Satu karung seharga Rp70 ribu.

Andi, warga Sikabaluan, Siberut sedang memarut sagu. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Hutan di sekeliling mereka sebagian besar ditumbuhi pohon-pohon sagu yang menjulang tinggi dan subur di atas rawa-rawa. Mereka menebang sebatang sagu tak jauh dari sana dan mengolahnya di sungai kecil yang mengalir di hutan itu.

“Sekarang tidak banyak lagi orang yang mengolah sagu, jadi kami bisa menjualnya, karena ternyata masih banyak yang suka makan sagu, walaupun mereka juga makan nasi, harga beras juga lebih mahal, sekilo Rp13 ribu,” kata Ardi.

Sagu sebenarnya sejak dulu menjadi sumber utama hidrat arang di Mentawai. Pohon sagu banyak tumbuh subur di rawa-rawa. Tanpa ditanam, tanaman ini bisa berbiak sendiri melalui tunasnya yang akan memenuhi rawa dan tak ada habisnya. Tetapi karena pentingnya sagu bagi orang Mentawai, mereka mewajibkan setiap keluarga baru menanam beberapa batang tunas sagu di tempat yang sudah banyak dipanen untuk jaminan hidup bagi anaknya kelak.

Sagu di Siberut juga tumbuh besar dan tinggi. Bisa mencapai 12 meter hanya dalam 8 tahun. Zat-zat makanan yang terbawa aliran tanah yang terus-menerus turun dari bukit-bukit berhutan di sekitarnya memenuhi rawa-rawa dan menjadikannya sumber kesuburan yang tak habis.

Sagu tumbuhan yang paling banyak memberikan hasil pada manusia dengan kerja yang sedikit. Dari sebatang sagu sepanjang 15 meter bisa menyediakan makanan selama tiga bulan untuk satu keluarga.

Tepung sagu juga sangat banyak mengandung hidrat arang, 50 persen hidrat arang dan menyediakan 241 kalori per 100 gram. Meskipun sagu berisi sedikit protein hanya 1,5 persen, tetapi secara tak langsung sagu juga menyediakan protein.

Dari sebatang sagu yang ditebang dan dipotong-potong, satu potongan yang paling muda digunakan untuk membuat batra atau ulat sagu. Batang sagu dibelah, satu sisi batang sagu dibiarkan terbuka dengan memberi ganjalan sebilah kayu agar tawon besar (Rynchoporus ferrungineus) bertelur di celah batang yang mengandung sagu yang perlahan-lahan meragi.

Selama 7-12 minggu di dalam batang sagu itu sudah berkembang ulat-ulat sagu berwarna putih sebesar jari sepanjang 3-4 cm. Ini sumber protein yang penting dan amat disukai. Di pasar Sikabaluan, semangkuk kecil ulat sagu dijual seharga Rp10 ribu rupiah. Ulat sagu ini diolah, dimasak, dibakar, atau dikeringkan. Sagu juga dijadikan makanan ternak, untuk makanan babi, ayam, dan bebek.

Bagian lain dari pohon sagu masih berguna. Daunnya untuk atap rumah, kulit pohonnya yang keras bisa dibentang untuk jalan setapak di halaman rumah, untuk bahan membuat keranjang atau menjadi kayu bakar.

Proses pembuatan sagu secara tradisonal di Mentawai. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Untuk makanan pokok, tepung sagu diolah secara sederhana. Tepung sagu diolah menjadi makanan seperti obuk atau kapurut. Obuk adalah sagu yang dimasak dalam bambu, sedangkan kapurut sagu yang dimasak dalam daun sagu.

Untuk membuat obuk, gumpalan tepung sagu yang basah diparut dari parutan yang dibuat dari bilah-bilah bambu sehingga tepungnya menjadi halus. Kemudian tepung ini dimasukkan ke dalam bumbung bambu tipis ukuran kecil dengan diameter 3 centimeter.

Bambu berisi sagu disusun di atas tungku dan dibakar di atas api sekitar 10 menit. Setelah matang, bambu dibelah dan sagu di dalamnya siap dihidangkan bersama lauk yang lainnya. Sagu ini biasanya dihidangkan dengan makanan berkuah seperti sup ayam atau sup ikan.

Tapi kini di Mentawai sagu sudah mulai digeser beras, karena pemerintah menggalakkan penanaman padi ladang sejak lima tahun terakhir, walaupun hasilnya tidak begitu subur.

Lahan sagu juga mulai terdesak oleh pembukaan ladang dan sawah baru. Tahun lalu di Saibi, Siberut Tengah, ladang sagu malah terancam pembukaan Hutan Tanaman Industri seluas 20 ribu  hektare, tapi karena diprotes masyarakat rencana ini ditunda.

“HTI itu masuk ke wilayah yang banyak tanaman sagu yang menjadi makanan pokok orang Mentawai, padahal sagu itu lumbung ketahanan pangan orang Mentawai dan tidak pernah gagal panen seperti padi, ladang sagu juga untuk mas kawin dan sangat penting dalam budaya di Mentawai,” kata Indra Gunawan Sanenek, warga Saibi memberi alasan penolakan.

Ketua Badan Pengurus Harian AMAN Mentawai Rapot Simanjuntak mengatakan, belum ada perlindungan untuk sagu sebagai makanan pokok dari pemerintah. Sagu juga mulai ditinggalkan karena kecenderungan masyarakat adat pun sepertinya mengikuti program pemerintah untuk bertanam padi.

Ia mengatakan, di beberapa tempat di Siberut, ladang sagu sudah mulai terdesak dengan pembukaan lahan untuk sawah dan pembangunan perkantoran pemerintah dan swasta.

Di tiga pulau lainnya, seperti Sipora dan Pagai Utara dan Pagai Selatan, sagu bukan lagi menjadi makanan pokok, tetapi hanya dimakan sesekali saja. Karena makanan warga tiga pulau ini dulunya adalah keladi dan pisang, walaupun sagu juga digunakan.

“Kini yang makan sagu sebagai makanan pokok di Mentawai saya perkirakan tinggal 40 persen saja, karena sudah mulai berganti ke beras,” kata Rapot.

Ketergantungan ke beras menjadi tinggi karena pemerintah ikut mendorongnya dengan membuat program menanam padi dengan bantuan dana APBD Mentawai dan melalui bantuan beras miskin.

Untuk melindungi sagu sebagai makanan pokok, AMAN Mentawai akan melakukan penggalian aturan adat yang berkaitan dengan pengelolaan rawa atau onaja diperlukan agar aktivitas di daerah rawa yang umumnya dilakukan oleh kaum perempuan dapat terlindungi kembali dengan penerapan aturan adat yang dulunya sudah ada yang dinamakan Onaja.

“Onaja sesuai aturan adat bisa digunakan oleh siapapun di komunitas yang mau mengelolanya dan dikhususkan untuk tanaman pangan lokal seperti keladi dan sagu,” kata Rapot.

Di kawasan rawa, lokasi tanaman sagu juga tempat aktivitas menangkap ikan yang dulunya telah ada seperti babak (kubangan alami) dan siugguk (kubangan yang sengaja dibuat oleh pemilik tanah).

Siugguk dan babak adalah kubangan yang diperuntukkan untuk tempat ikan di onaja. Ada saatnya dilakukan panen ikan dengan mengajak beberapa kaum ibu lainnya untuk bersama melakukan panen ikan. Umumnya dilakukan saat kemarau.

“Penggalian aturan adat dan aktivitas yang menunjukkan kebersamaan di daerah rawa, kita rencanakan dengan lembaga adat bekerja sama dengan pemerintah desa dibuat dalam bentuk peraturan desa yang didasari aturan adat sehingga aktivitas menanam sagu dan juga keladi tetap terlindungi, hak kelola kaum perempuan di rawa kami jadikan sebagai titik masuk dalam intervensi menjaga makanan pokok sagu dan keladi,” katanya.

Saat ini di komunitas masyarakat adat di Sipora masih tahapan revitalisasi lembaga adat dan menggali aturan-aturan adat terkait pengelolaan sumber daya alam.

“Untuk RPJMD Mentawai 2017-2022, kami sedang menyiapkan usulan program kelestarian lingkungan berbasis kearifan dan pengetahuan lokal, selain itu kami juga mengusulkan program perlindungan tanaman dan hewan endemik di wilayah adat,” katanya. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)