5 Top Sate Padang yang Rasanya Berbeda-Beda

Sate Pauh di Kota Padang. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

BILA berkunjung ke Padang, Sumatera Barat, jangan lewatkan kehangatan sepiring sate padang. Apalagi disantap saat hujan atau sore dan pada malam hari, hmm… nikmatnya.

Sate padang ini memang paling banyak dijual pada sore hingga malam hari. Di Padang sate padang ini hanya dinamakan sate. Kalau ada embel-embel biasanya ditambah nama pemilik, nama kedai, atau nama daerah asalnya. Misalnya sate ajo pariaman, sate danguang-danguang, sate pauh, dan sate mak syukur.

 

 

Penjual sate padang ini khas pakai gerobak, walaupun menjualnya di warung. Di gerobak ini tempat pemanggangan sate dengan bara tempurung dan di sampingnya ada seperiuk besar kuah sate yang terus mengepul, karena ada api di bawahnya. Jadi satenya selalu terhidang hangat. Karena kalau tidak hangat, kuahnya akan encer dan tidak kental lagi.

Berikut beberapa tempat makan sate enak di Kota Padang dan Kota Padang Panjang untuk mencicipi kelima rasa sate padang.

  1. Sate Pauh

Warung dengan merek ‘Sate Pauh’ ini selalu ramai dari sore hingga malam hari, dengan asap sate yang mengepul dari pemangganganserta periuk kuah sate yang terjerang.

Aromanya yang sedap memenuhi perempatan jalan. Terletak di Simpang Empat Kapalo Koto, di Pasar Baru Kecamatan Pauh, Padang. Ini lokasinya padat mahasiswa Universitas Andalas, karena simpang ini menuju dan tak jauh dari Kampus Universitas Andalas.

Sate Pauh menurut pemiliknya Janewar yang biasa dipanggil Pak Haji, racikan bumbunya memang khas sate daerah Pauh, Padang.

Kekhasan sate Pauh ini adalah pada bumbu kuahnya ditambah dengan gilingan kelapa yang sudah disangrai, sehingga kuahnya berwarna coklat kemerahan. Pada daging sate juga dibalur dengan parutan kelapa yang menambah gurihnya sate setelah dibakar.

Rasa satenya memang khas, kuahnya kental dengan bumbu yang pas. Rasa pedas dan manisnya imbang. Rasa manis berasal dari guilingan kelapa yang disangrai.. Dihidangkan di dalam piring yang dialasi daun pisang, ditambah dengan ketupat, enam tusuk sate, lalu disiram dengan kuah yang melimpah dan banyak taburan bawang goreng.

Ketupatnya empuk dan dagingnya juga empuk dan wangi karena hanya dipanggang sebentar.

“Ini memang asli sate Pauh, pakai ambu-ambu atau kelapa sangrai yang giling, di tempat lain tidak ada yang seperti ini,” kata Janewar yang mulai menjual sate pauh sejak 1980.

Banyak pelanggan yang menambahkan kerupuk ubi pada satenya. Seporsi sate pauh dengan tiga ketupat dan enam tusuk sate daging atau campuran usus dan lidah. Dalam sehari Pak Haji ini mengolah 15 kg daging dan jeroan untuk sate dan 500 buah ketupat.

  1. Sate KMS

Ini salah satu jenis sate pariaman yang paling banyak dijual di Padang. Ada delapan cabang KMS (singkatan dari Kami Saiyo) di tempat-tempat strategis di Padang dan semuanya masih dijual dengan gerobak sate yang mangkal di trotoar pinggir jalan.

Sate KMS di Kota Padang. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Penjual sate KMS pertama adalah M. Rusli di Blok A Pasar Raya Padang yang memulai usaha pada 1980-an. Ia berasal dari Pariaman.

Setelah M. Rusli meninggal, usaha ini dikembangkan anak dan keponakannya di Padang yang punya usaha sendiri-sendiri, tetapi tetap dengan ciri khas sate KMS.

Sate KMS ini terasa amat kaya bumbu dan rempah, dan cukup pedas. Kuahnya berwarna coklat kemerahan. Beda dengan sate lainnya, sate KMS banyak menggunakan daun bawang dan seledri. Di kuah sate terlihat ada daun bawang dan seledri yang berwarna kehitaman karena sudah ditumis. Ada juga yang berwarna hijau karena baru dimasukkan saat daun menggelegak.

Selain itu, dalam kuahnya juga terasa ada kacang tanah, sehingga kuahnya tidak polos begitu saja, masih ada gilingan kasar kacang tanah sangrai yang bisa dikunyah bersama sate dan ketupat. Ini menambah gurih kuah satenya. Untuk pelengkap sate ini biasanya dengan keripik singkong.

Sate yang dijual selain daging, ada usus, lidah, dan lokan. Satu porsi sate KMS terdiri dari dua ketupat dan tujuh tusuk sate. Salah satu penjualnya ada di Jalan Patimura, Padang. Buka mulai pukul 11 siang hingga 11 malam.

  1. Sate Danguang-Danguang

Sate ini berasal daerah Danguang-Danguang, Kabupaten Limapuluh Kota. Bertolak belakang dengan sate pariaman yang terasa sekali bumbunya, sate danguang-danguang rasanya lebih bersahaja, karena tidak terlalu terasa aroma bumbu dan rempah. Kuahnya kuning kecoklatan dan rasanya tidak terlalu pedas, bahkan cenderung agak manis.

Sate Danguang-Danguang di Kota Padang. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Pembuatannya sama dengan sate padang lainnya, hanya saja bumbu rempahnya tidak terlalu banyak.Tetapi bumbu segarnya yang lebih banyak seperti kunyit, jahe, lengkuas, ketumbar, dan kapulaga. Kuahnya selain menggunakan kaldu daging, juga ada penambahan santan kental dan sedikit gula aren. Ini yang membuat sate danguang-danguang ini agak manis.

Walau begitu, sate danguang-danguang ini  punya penggemar sendiri. Bahkan penggemar sate pariaman yang pedas dan banyak bumbu juga bisa  menyukai sate danguang-danguang, karena sama-sama nikmat.

Salah satu penjual sate danguang-danguang di Padang adalah Aris, di Simpang Kinol Padang. Aris adalah generasi keempat keturunan Datuk Bahar penjual sate Danguang-Dangung pertama di Payakumbuh. Kakek buyutnya itu yang mempopulerkan sate danguang-danguang di Payakumbuh dan menjualnya dengan garendong atau keranjang pikulan.

Sate danguang-danguang terasa nikmat. Kuahnya kental, tidak terlalu manis dan pedasnya juga hampir tidak terasa. Daging satenya empuk dan ketupatnya juga pulen. Bila tidak terlalu menyukai rasa bumbu yang tajam, sate danguang-danguang ini bisa jadi pilihan.

  1. Sate Lokan, Buntut, dan Ceker Ayam

Nah, sate yang satu ini populer sekali di Padang dan penjualnya juga banyak. Tetapi tidak dijual di warung sate atau di pinggir jalan. Sate yang dijual dengan gerobak ini mirip penjual bakso keliling perumahan dan kos-kosan mahasiswa. Pedagang sate gerobak ini mulai berkeliling sore hingga malam hari.

Ini masih genre sate pariaman yang berkuah merah bata dan pedas, tetapi  uniknya yang dijadikan sate itu seperti buntut ayam, ceker ayam, lokan, dan telur puyuh, walau tetap juga ada sate dagingnya.

“Yang paling laris itu sate buntut ayam, cepat sekali habisnya, padahal saya membuatnya 200 tusuk sehari,” kata Raju, penjual sate bermerek Sate Raju yang mangkal di kos-kosan mahasiswa di Simpang Pisang, Padang.

Sate buntut ayam yang terasa gurih saat dimakan dengan kuah sate, karena hanya terdiri dari lemak dan tulang rawan. Sate buntut ayam ini sudah direbus, lalu dibakar sebentar. Pilihan lainnya juga tak kalah sedap, sate lokan, sate ceker, dan sate telur puyuh.

Dihidangkan bersama  ketupat lalu disiram kuah kental berwarna merah dengan sedikit campuran kacang tanah di dalamnya. Lalu diberi bawang goreng yang garing. Dan bisa ditambah dengan keripik singkong yang pedas. Seporsi sate ini seharga Rp15 ribu terdiri dari dua ketupat dan tujuh tusuk sate. Lebih murah dari harga sate lainnya. Bahkan bisa beli setengah porsi.

  1. Sate Mak Syukur di Padang Panjang

Bila ke Sumatera Barat, jangan lewatkan sate yang satu ini, karena Mak Syukur ini sudah kondang kelezatannya. Sate Mak Syukur adanya di Padang Panjang sekitar 80 km dari Padang. Restoran “Sate Mak Syukur” ini tepat berada di pinggir jalan di jalan raya Padang menuju Bukittinggi atau tepatnya di Jalan Sutan Syahrir Silaing Bawah.

Sate Mak Syukur di Padang Panjang. (Foto: Febrianti/JurnalisTravel.com)

Sate Mak Syukur ini awalnya dijual oleh Mak Syukur (Mak ini artinya mamak atau paman) panggilan dari Sutan Rajo Endah yang mulai menjual sate pada 1941dengan garendong atau pikulan berkeliling di Kota Padang Panjang. Kini Sate Mak Syukur dikelola anak-anaknya.

Kuah sate Mak Syukur ini ciri khasnya warnanya kuning kunyit, tetapi pedasnya tetap pas. Sate dan kuahnya amat gurih, terutama sate usus dan sate lidah, sedangkan daging satenya juga empuk.

Seporsi sate Mak Syukur ini selalu membuat kangen, karena sangat nikmat. Apalagi ditambah dengan kerupuk jangek atau kerupuk kulit kerbau selebar tangan yang ditaruh di atas meja.

Penyajiannya juga tetap tradisional, tidak berubah. Masih dalam piring kaleng yang dialasi daun pisang yang segar, diberi ketupat, tujuh tusuk sate dan disiram kuah yang kental yang hangat dan ditaburi bawang goreng. Jenis sate bisa dipilih sate daging atau sate campur yang terdiri dari sate usus, sate lida sapi, dan jantung.

Sate Mak Syukur ini sajian yang sangat pas di udara dingin Padang Panjang. Dijual dari pukul 11 pagi hingga malam hari. (Febrianti/JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi jurnalistravel@gmail.com. Terima kasih atas bantuan Anda jika membagikan tautan.(REDAKSI)