Merentang Pukat di Pantai Bungus

Merentang Pukat di Pantai Bungus

Beberapa lelaki menarik pukat dari pantai. (Foto: Syafrizaldi Aal/ JurnalisTravel.com)

BUNGUS sejak lama telah menjadi tujuan wisata di Kota Padang, Sumatera Barat. Wisatawan lokal dan mancanegara menjelajahi Bungus untuk sekedar menikmati pemandangan alam. Terkadang juga bisa menikmati kegiatan nelayan tradisional merentangkan jalanya yang disebut “maelo pukek” (menarik pukat atau jala).

Aroma pantai yang unik menyeruak begitu saya tiba di kawasan wisata Bungus, Padang. Di seberang jalan, bukit batu tersayat tetesan air tersisa dari hujan semalam. Di beberapa tempat, tetesan itu membentuk air terjun mini. Perbukitan hijau seolah menawarkan diri untuk didaki, jalan setapak menganga untuk dilewati.

Tapi saya memutuskan untuk turun ke pantai. Suara ombak justru menarik minat saya mendekat ketimbang embusan angin dari daratan. Pasir putih menggoda saya melangkah tanpa alas kaki. Saya membiarkan serpihan buih ombak membasahi sebagian pakaian yang sedang saya kenakan.

Lampiran Gambar

Seorang nelayan menggantung pukat setelah digunakan. (Foto: Syafrizaldi Aal/ JurnalisTravel.com)

Carlos, nama pantai itu sesuai dengan nama penginapan yang tepat berada di bibir gelombang.  Beberapa orang pengunjung tengah berleha membaca buku di tempat tidur gantung. Sebagian tampak malas beranjak melewati damai pagi Minggu itu.

Beberapa nelayan tengah sibuk menyiapkan pukat. Saya mendekati salah seorang di antaranya, Rustam. Lelaki peruh baya ini sudah puluhan tahun menjadi nelayan.

Dibantu nelayan lainnya, Rustam mengangkat pukat ke perahu bercadik ganda. Gulungan pukat bewarna hitam kecokelatan tersambung dengan tali nilon besar bewarna hijau tua. Gundukan pukat mencapai dua kali drum besar yang digandengkan. Menurut Rustam, panjangnya bisa lebih dari 1 kilometer.

Saya membantu Rustam mendorong perahu menghantam gelombang yang tak seberapa besar.  Pengemudi perahu akan membawa pukat ke tengah laut. Seorang lainnya betugas menurunkan pukat dalam perjalanan. Sampai di tengah, perahu akan kembali membawa bagian pukat di sisi yang lain.

Seharusnya saya bisa ikut jika perahu tak dipenuhi pukat dan dua orang nelayan. Saya membayangkan, di tengah laut mereka pasti dapat bercanda dengan ikan-ikan sebelum digiring ke tepian.

Hampir dua jam penantian ketika perahu kembali ke bibir pantai di sisi yang berjauhan dari tempat perahu bermula berangkat. Matahari merambat naik saat Rustam mulai menghela pukat, langkah demi langkah.

Lampiran Gambar

Pantai bungus dengan teluknya yang indah. (Foto: Syafrizaldi Aal/ JurnalisTravel.com)

Tajuk pepohonan membuat teduh, menghalangi sinar matahari. Sinarnya menembus diantara celah dedaunan ara. Saya mengaitkan tali di pinggang, membuat simpul sederhana untuk mengaitkannya ke pukat.

Menarik pukat, kata Rustam, tak bisa sekuat tenaga. Pukat harus ditarik perlahan sesuai dengan ayunan gelombang.  Begitu saya sampai di belakang, simpul tali dilepas lantas kembali bergerak ke depan untuk memulai tarikan baru, demikian seterusnya.

Ikan berkecipak kala ujung pukat sampai ke pinggir. Anak-anak berebut ikan-ikan yang lepas dari cengkeraman pukat. Mengasikkan melihat mereka saling dorong, tanpa emosi.

Perjalanan ini mengajarkan saya tentang kesabaran dan kerelaan berbagi. Para nelayan hidup bersahaja dalam balutan roda ekonomi yang ketat. Mereka adalah orang-orang hebat, salut atas perjuangan hidup mereka.

Keelokan nusantara ternyata sesederhana tali pukat yang direntang Rustam. Tiupan angin dan buih ombak di tepian pantai Bungus adalah napas kehidupan warga. (Syafrizaldi Aal/ JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi jurnalistravel@gmail.com. Terima kasih atas bantuan Anda jika membagikan tautan.(REDAKSI)

Dapatkan update terkini Jurnalistravel.com melalui Google News.

Baca Juga

Nelayan Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni
Nelayan Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni
Tips Buat Wisatawan di Padang Jika Terjadi Gempa dan Tsunami
Tips Buat Wisatawan di Padang Jika Terjadi Gempa dan Tsunami
Penyanyi Vietnam Lantunkan Si Jantung Hati di PIOMFest 2018
Penyanyi Vietnam Lantunkan Si Jantung Hati di PIOMFest 2018
Budaya Pop Angkot Kota Padang
Budaya Pop Angkot Kota Padang
Kelenteng Tua Kota Padang Akan Dijadikan Museum
Kelenteng Tua Kota Padang Akan Dijadikan Museum
Malin Kundang Diduga Kuat Berasal dari Aceh
Malin Kundang Diduga Kuat Berasal dari Aceh