TNKS Dukung Pembukaan Jalur Baru Pendakian Gunung Kerinci

Jhoni Masrul dari Wanadri, anggota tim finalisasi di jalur baru Gunung Kerinci dari Solok Selatan, Sumatera Barat. (Foto: Ade Wahyudi, Mapala UI untuk JurnalisTravel.com)

BALAI Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mendukung rencana Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat membuka jalur baru pendakian untuk wisatawan ke Gunung Kerinci yang berada di kawasan taman nasional tersebut.

Saat ini satu-satunya jalur pendakian ke gunung setinggi 3.805 mdpl dan tertinggi di Pulau Sumatera tersebut hanya dari Kersik Tuo, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Setiap tahun jumlah pendaki meningkat di jalur ini, pada 2016 tercatat 6.716 wisatawan lokal dan 62 wisatawan asing.

Kepala Balai Besar TNKS, M. Arief Toengkagie mengatakan, jalur baru yang dirintis sepanjang 14,2 km tersebut melalui Zona Inti dan Zona Rimba sekitar 6 km.

Ade Wahyudi (Mapala Universitas Indonesia, kiri) dan Jhoni Masrul (Wanadri, kanan) dua anggota tim finalisasi jalur baru Gunung Kerinci dari Solok Selatan di puncak Kerinci 3.805 mdpl. (Foto: Fadjrin Ashari Zihni, Mapala UI untuk JurnalisTravel.com)

“Kedua zona jelas tidak bisa digunakan untuk jalur pendakian, karena itu zonanya harus direvisi dulu menjadi Zona Pemanfaatan, paling hanya untuk jalur selebar 60 cm,” kata Arief kepada JurnalisTravel.com, Rabu (25/1/2017).

Arief mengatakan, masih menunggu pengajuan dari Pemkab Solok Selatan untuk jalur ini. Kemudian akan membentuk tim dari berbagai stakeholder untuk mengkaji kelayakannya. Tim termasuk dari Perguruan Tinggi dan pemerintah daerah.

Kajian menyangkut tidak mengancam ekosistem taman nasional, keamanan pengunjung, dan lokasi untuk fasilitas pendukung.

“Jalur ini pernah kami rintis dan sejauh ini tidak ada di jalur jejak satwa liar yang dilindungi di sana, seperti harimau, jadi secara umum daerah ini bisa direvisi zonasinya,” katanya.

Tim finalisasi jalur baru Gunung Kerinci sedang beristirahat di sumber air. (Foto: Fadjrin Ashari Zihni, Mapala UI untuk JurnalisTravel.com)

Informasi yang menghebohkan dengan ditemukannya lembah kura-kura besar di jalur, kata Arief, jalur tersebut sudah dijauhkan dari sana.

“Kami mendukung pembukaan jalur ini karena bukan jalur kunjungan wisatawan massa, tapi wisatawan minat khusus yang terbatas, dengan adanya jalur pendakian akan mendorong roda ekonomi masyarakat di sekitar TNKS, sehingga mereka juga mendapatkan manfaat ekonomi dari kehadiran TNKS dan sudah tentu akan ikut menjaganya sebagai ‘ladang ekonomi’ mereka,” katanya.

Ia menyebutkan, TNKS berada di wilayah empat provinsi, dua terbesar Provinsi Jambi 450 ribu ha dan Sumatera Barat 348 ribu ha. Wilayah Gunung Kerinci yang termasuk di dalam Kabupaten Kerinci di Jambi dan Kabupaten Solok Selatan di Sumatera Barat juga sama-sama berhak mendapatkan manfaat.

Kepala Seksi Pengelola Kawasan Strategis dan Destinasi Kepariwistaaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok Selatan, Aig Wadenko mengatakan, telah meminta bantuan sejumlah lembaga pencinta alam seperti Wanadri, Mapala Universitas Indonesia, Mapala Universitas Trisaksi, dan Sekretariat Bersama Pencinta Alam Sumatera Barat melakukan finalisasi jalur baru tersebut.

Pohon-pohon hutan primer di jalur baru Gunung Kerinci pada ketinggian 1.300 mdpl. (Foto: Fadjrin Ashari Zihni, Mapala UI untuk JurnalisTravel.com)

“Tim finalisasi sudah selesai bekerja, jalur sudah jauh dikeluarkan dari Lembah Kura-Kura, panjang jalur 14,2 km dan ditempuh 4 hari 3 malam, memang lebih lama dua kali lipat dari jalur di Kersik Tuo, Kabupaten Kerinci, tapi jalurnya lebih landai dan pemandangannya luar biasa hutan tropis alami Kerinci,” katanya.

Ia mengatakan, hasil tim akan dijadikan rekomendasi surat usulan dari Bupati Solok Selatan kepada Balai Besar TNKS yang segera dikirimkan.

“Kami sangat berharap jalur ini disetujui, karena ini akan kami jadikan jualan utama pariwisata Solok Selatan dan pintu masuk untuk mendatangkan turis asing ke daerah kami, karena Gunung Kerinci termasuk destinasi pariwisata nasional,” ujarnya.

Pembukaan jalur tersebut, tambahnya, akan membuka banyak usaha lokal dan lapangan pekerjaan, sehingga masyarakat ikut menjaga taman nasional dan jalur juga bisa digunakan untuk patroli petugas TNKS menghentikan perburuan liar dan perambahan hutan. (Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi jurnalistravel@gmail.com. Terima kasih atas bantuan Anda jika membagikan tautan.(REDAKSI)