Pantai Ini Terkenal Dengan Nasi Sek

Dibungkus daun pisang dalam kondisi panas adalah khasnya, tak pernah berubah sejak 30 tahun lalu. (Foto: Febriati/ JurnalisTravel.com)

NASI Sek di Pantai Gandoriah selalu memunculkan rasa ingin tahu banyak orang. Orang pertama kali mendengar selalu bertanya, “Nasi seks?”

Lalu dilanjutkan, “Seperti apa? Di pantai? Ayo kita buktikan!?”

Itu karena pantai dan seks terkadang memunculkan gambaran yang klop, karena seringkali objek wisata di pantai dijadikan tempat pacaran. Jadi konotasinya ke arah sana…

Itulah kehebatan orang Pariaman, sebuah kota pantai yang tua dan kecil di Sumatera Barat. Orangnya ramah, banyak kelakar, dan seringkali juga terbuka berbicara tentang seks. Jadi kalau ada nama baru seperti “nasi seks”, mereka akan buru-buru ingin tahu, seperti apa gerangan dia dan rasanya.

Ini memang sebuah kreativitas yang sempurna, buktinya bertahan lama. Kisahnya bermula di sebuah warung sederhana di pantai Gandoriah yang teduh oleh cemara laut pada 1980-an akhir.

Enak dan suasana segar di bawah cemara laut membuat makan menjadi lahap. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Sang pemilik warung menjual nasi dengan dibungkus daun pisang dalam kemasan yang kecil. Ia menjualnya Rp100 (seratus rupiah) per bungkus. Karena murah warung ini diserbu pelajar, mahasiswa, dan siapa saja yang ingin menikmati semilir angin pantai dan (untuk menghibur diri) dinyatakan cukup mengenyangkan.

Dus, akhirnya dinamakan “Nasi Sek”, singkatan “Seratus Kenyang”. Sang pacar pun kalau diajak ke sini tak nolak, malah tersenyum penuh…

Harga Rp100 jangan dinilai sekarang, nggak masuk. Inflasi telah menohok rupiah setiap tahun, sehingga harga menyesuaikan. Ketika beberapa tahun lalu harganya Rp1.000, singkatan ini masih pas. Tapi harga sekarang (2017) sudah Rp2.000 per bungkus, singkatan menjadi terasa sedikit dipaksakan.

Tapi siapa yang peduli, karena Nasi Sek membawa sensasi tersendiri. Seperti bunga yang harum, bisnis nasi sek di Pantai Gandoriah telah mendatangkan banyak penjual serupa dan akhirnya sekarang jumlah warung cukup banyak di sana dengan lokasi makin asyik.

Ada gazebo juga, selain ada pilihan meja dan kursi di atas tanah berpasir halus. Atapnya tetap rindang pohon cemara yang berderai sampai jatuh.

Dan Anda tidak akan tahan hanya menghabiskan satu bungkus, melainkan tiga atau mungkin lima bungkus. Nah, itu hanya harga nasi. Lauknya mesti dibeli terpisah. Ada yang khas seperti sala lauk (ikan) atau sala cumi dan udang. Ikannya pasti segar karena hasil jaringan di lautan yang terhampar di depan warung oleh nelayan.

Makan lebih enak sambil melihat hamparan Samudera Hindia. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Sala lauk ini terbuat dari gorengan ikan dicelupkan ke tepung beras berbumbu. Bumbunya sederhana, yaitu tepung beras, kunyit, garam, dan jeruk nipis. Bumbu tersebut dibalurkan pada ikan dan cumi, lalu langsung digoreng dan dihidangkan panas-panas. Itu kata “koki”-nya di dapur tak sungkan berbagi resep.

Nah, untuk menambah sensasi ada sambal cabe merah tomat yang enak, plus urap daun singkong dan tauge. Sambal lado ini khas masakan padang, dibuat dari cabai, bawang, dan tomat rebus yang digiling kasar. Yummy…

Jika Anda makan di sini, pasnya tengah hari berteman minuman es teh. Jangan lupa, kantong Anda bisa ‘koyak’ sedikitnya Rp35 ribu satu orang. Sek telah membuat Anda lupa bahwa untuk kenyang di zaman ini tak cukup hanya seratus rupiah. Meski saat menyantapnya Anda lupa pada seks yang sebenarnya. (Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi jurnalistravel@gmail.com. Terima kasih atas bantuan Anda jika membagikan tautan.(REDAKSI)