Menyelamatkan Wilayah Adat dengan Sekolah Adat

Emi Goreti (berbaju kuning) mengajar anak-anak Sekolah Adat Samabue (SAS) menari. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

WE LIA, perempuan berusia sekitar 50 tahun yang akrab dipanggil Nek Singara, menyedot perhatian anak-anak dengan ceritanya tentang seorang lelaki cacat bernama Abidin. Meski cacat, istri Abidin tetap setia mendampinginya. Melayaninya dengan penuh kasih-sayang.

“Karena kalian masih anak-anak, tentu belum mengalami arti kasih-sayang orang berumah tangga, tetapi nanti setelah besar kalian akan paham bahwa kalian harus menjadi orang-orang yang setia kepada keluarga, meski suami atau istri dalam kondisi apapun, sempurna atau tidak, kaya atau miskin,” katanya tersenyum.

“Yaaa… Nek…!” jawab anak-anak serempak.

Itulah aktivitas di Sekolah Adat Samabue (SAS) di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, Senin, 10 April lalu. Lebih 20 anak usia berbeda, mulai 4 tahun hingga 16 tahun, laki-laki dan perempuan, duduk bersila merapat ke dinding di ruang tamu sebuah rumah warga berlantai papan.

Nek Singara menyampaikan cerita berisi nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak SAS. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Mereka berpakaian bebas sehari-hari, begitu juga pengajarnya. Nek Singara yang juga guru Aparatur Sipil Negara di SDN 14 Silung, Kecamatan Menjalin seperti sedang beraktivitas di rumah dengan baju kaus dan celana pendek.

Sebelum Nek Singara, Yohanes Natalius Siton, pria 66 tahun, juga mengajar anak-anak. Yohanes adalah kepala adat di Binua Lumut Tengah, salah satu kelompok adat Dayak Kanayant di Kecamatan Menjalin dengan jabatan Timanggong.

Ia mengajarkan anak-anak tentang tata krama dan sopan-santun dalam adat Dayak Kanayant. Selain itu ia juga menceritakan tentang asal-usul kenapa Bukit Samabue, berbentuk datar di bagian atasnya.

“Dahulu kala Bukit Samabue gunung tertinggi di Pulau Kalimantan, tapi karena takut menimpa masyarakat Dayak akhirnya dipotong Bujakng Nyangko, ia memotong dua kali dan potongannya jadi bukit lain, sehingga bentuk atasnya jadi datar seperti sekarang,” kata Yohanes.

Yohanes Natalius Siton, Timanggong Binua Lumut Tengah mengisahkan asal mula Bukit Samabua datar puncaknya. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Usai mendengar cerita anak-anak dibawa ke halaman berumput. Mereka bersorak kegirangan. Sore semakin menyelimuti kampung yang masih basah setelah gerimis. Tapi mereka antusias diajak aneka permainan, menyanyi, dan menari oleh Yosita, Katterina Ria, Nek Singara, Emi Goreti, dan lainnya.

Emi Goreti mengajarkan tari Dayak Kanayatn dengan iringan musik Bawangk. Ia membuat gerakan-gerakan dasar tari yang langsung diikuti anak-anak. Setiap pertemuan diajarkan gerakan dasar, agar lama-kelamaan anak-anak bisa paham.

Setelah mengikuti sekolah adat tiga jam, dari pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB, anak-anak pun bubar dengan wajah gembira.

“Saya banyak mendapatkan pengetahuan adat dan budaya di SAS, ini tidak pernah kami dapatkan di sekolah, terutama cerita-cerita dari tetua adat, jadi sekolah adat sangat mendekatkan kami dengan budaya kami sendiri,” kata Sherryl Christabell Agatha yang akrab dipanggil Ayank, siswi Kelas IX SMP Negeri Menjalin.

Bukit Samabue dengan puncak yang datar, bukit yang dianggap keramat oleh Adayak Kanayatn di Kecamatan Menjalin. Kabupaten Landak. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Ayank murid SAS tertua dan telah ikut sejak sekolah adat ini didirikan. Ia pelajar yang gemar kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan selalu juara kelas. Pernah menjadi ketua OSIS, ikut Jambore Nasional Pramuka, dan ikut latihan tari di sanggar kesenian.

“Tapi keterampilan menari tradisonal Dayak Kanayatn justru saya dapatkan di SAS,” katanya tersenyum.

Angela Nova, adik kelas Ayank yang ikut SAS juga merasa beruntung. SAS telah memperkenalkan adat kepada generasi muda sepertinya, hal yang tak pernah ia dapatkan di tempat lain.

“Dan itu dengan cara menarik, misalnya belajar memasak makanan tradisional dan belajar menganyam bersama perempuan adat, menyanyi dan menari tarian tradisional, mencoba permainan tradisional, dan mendapat pelajaran adat dari para tetua adat,” katanya.

Pelajaran menari tarian tradisionaldi ruangan terbuka selalu menarik bagi anak-anak SAS. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

LAHIR DARI TANGAN GENERASI MUDA

Kepedulian untuk mewariskan adat dan budaya di sebuah komunitas biasanya muncul dari generasi tua yang khawatir. Tetapi tidak di Menjalin. Justru di sini pendidikan adat lahir dari tangan generasi muda perempuan.

Modesta Wisa adalah pelopor. Tamat Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak, Jurusan Kesehatan Lingkungan pada 2012, Wisa lebih suka menjadi aktivis adat daripada menjadi tenaga kesehatan. Ia aktif di Barisan Pemuda Adat Nusantara, sayap organisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan menjabat Dewan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Region Kalimantan.

Ide mendirikan sekolah adat muncul saat acara “Next Gen Masyarakat Adat”, pelatihan kepemimpinan yang diadakan AMAN, BPAN, dan Life Mosaic di Sui Utik, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimatan Barat pada Agustus-September 2015. Acara ini diikuti 30 pemuda-pemudi adat se-Nusantara.

Modesta Wisa (berbaju hitam dengan tulisan ‘I am Indigenous’), Kattarina Ria (berbaju putih titik-titik hitam), dan Yosita (paling depan melakukan swafoto), para perempuan muda Menjalin yang melahirkan Sekolah Adat Samabue (SAS). (Foto: Dok. JurnalisTravel.com dan terima kasih buat Yosita).

Para peserta diminta berkomitmen melakukan kegiatan untuk mempertahankan wilayah adat.

“Kami dibagi per kelompok untuk menciptakan ide, kami bertiga cewek satu kelompok, saya dari Kalimantan Barat, Nedine dari Sulawesi Utara, dan Sritiawati dari Kalimantan Utara, diskusi kami melahirkan rencana sekolah adat, karena akan mampu melahirkan generasi penerus masyarakat adat dan kami berkomitmen serta bermimpi untuk mewujudkannya,” kata Wisa.

Wisa menjadi virus bagi kawan-kawannya di Menjalin. Ia melontarkan ide kepada Katharina Ria dan Reni Baday yang lebih muda empat tahun darinya, serta Yosita dan Dwiana Sary yang baru lulus SMA pada 2016.

Waktu itu di seluruh Indonesia belum ada yang membuat sekolah adat. Akhirnya ia dan kawan-kawannya mendirikan SAS (Sekolah Adat Samabue) 24 Februari 2016. Nedine mendirikan Sekolah Adat Koha di Sulawesi Utara pada April 2016 dan Sritiawati mendirikan Sekolah Adat Punen Semeriot di Kalimantan Utara pada 11 Desember 2015.

Belajar adat dan kekompakan sambil bermain di alam terbuka paling disenangi anak-anak. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

“Tapi ketiga sekolah sedikit berbeda fokus karena terkait kebutuhan, Semeriot fokus pada pengajaran anak-anak tulis-baca karena minimnya fasilitas pendidikan formal, Koha fokus pada mengangkat kekayaan budaya yang terancam hilang seperti aksara untuk kembali digali pemuda adat, sedangkan Samabue mendidik anak-anak yang sudah mendapatkan sekolah formal untuk mempelajari adat,” kata Wisa.

Menurut Wisa, perlunya generasi muda mempelajari adat karena pendidikan formal membuat anak-anak adat tercerabut dari wilayah adatnya. Mereka satu-persatu pergi ke kota, banyak yang tak mau menggunakan bahasa ibu Dayak Kanayatn, bahkan malu menggunakannya. Mereka tak mengenal adat, usai kuliah jarang yang mau pulang kampung dan memilih kerja di luar kecamatan.

“Kampung sepi, mereka yang pergi umumnya berpikir materialistis dan individualistis, kolektivitas hilang dan tidak ada kebersamaan, akibatnya banyak wilayah adat yang hilang dan dirampas,” katanya.

Nek Singara memandu permainan. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Wilayah adat mencakup semuanya yang berkaitan dengan adat, seperti manusianya, tanahnya, hutannya, hukum adat, aturan, ritual, budaya, dan kesenian.

“Itu semua terancam gara-gara modernisasi dan kapitalisme masuk kampung, juga sistem pendidikan modern yang seragam, karena itu perlu upaya untuk menyelamatkannya,” ujarnya.

TANTANGAN, DIANGGAP PROYEK

Wisa ketawa mengenang kegiatan SAS diisukan sebuah program atau proyek yang didanai AMAN atau lembaga lain. Terlebih setelah ia dan kawan-kawannya berhasil menggelar perayaan 1 Tahun SAS di Rumah Adat Dayak Kanayatn, 24-25 Februari 2017. Perayaan menampilkan aneka kegiatan pendidikan SAS dan berhasil mendatangkan sejumlah pejabat kabupaten.

“Padahal satu tahun mengelola SAS di empat komunitas berbeda, melibatkan 120 anak dengan kegiatan dua hingga tiga kali seminggu, kami mendanai dengan iuran dari kantong kami sendiri dan pada perayaan ulang tahun kami membuka donasi,” katanya.

Masyarakat adat harus kompak agar bisa mempertahankan wilayah adat. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Setahun berjalan, jelasnya, SAS menghabiskan dana operasional Rp816 ribu. Dana digunakan membeli buku catatan untuk anak-anak, penganan, dan uang bensin bagi tetua adat, perempuan adat, dan pemuda adat yang mengajar.

“Mereka umumnya menolak, tapi kebanyakan kami paksa karena kadang mereka datang dari jauh dengan kendaraan dan nilainya pun tak seberapa,” ujarnya.

Wisa dan kawan-kawan terus beraktivitas. Anak-anak pun suka dengan sekolah ini karena menyenangkan, terutama mengikuti kegiatan adat di alam, seperti turun ke sawah atau mencari bahan untuk menganyam dan memasak.

“Bahkan kalau saya lewat di satu komunitas, anak-anak mengejar menanyakan kapan lagi sekolah adat Kak Wisa….” katanya senang.

Modesta Wisa memegang kue ulang tahun pertama Sekolah Adat Samabue (SAS) 24 Februari 2016 dkelilingi teman dan anak-anak muridnya berpakaian adat Dayak Kanayatn. (Foto: Dok. SAS)

Kini Wisa dan kawan-kawan bisa bangga karena sekolah adat mereka mulai dicontoh kabupaten tetangga. Sebuah komunitas Dayak Kanayatn di Kabupaten Mempawah juga meniru dengan mendirikan Sekolah Adat Malabatn dan di Kabupaten Bengkayang sedang mencari tim membuat sekolah yang sama.

Di Kabupaten Landak sendiri, anggota DPRD dan Dinas Pendidikan berharap di setiap kecamatan ada  sekolah adat seperti SAS. Mereka berencana mengawali dengan pelatihan kepada generasi muda yang akan dimentori Wisa dan kawan-kawan. Ia juga didaulat AMAN untuk berbagi cerita tetang sukses SAS dalam satu panel di Kongres Masyarakat Adat Nusantara V di Medan, Maret lalu.

Tentu saja, ia dan kawan-kawannya bermimpi SAS beraktivitas lebih baik. Misalnya, memiliki perangkat alat kesenian tradisional, seragam baju adat untuk anak-anak, dan contoh-contoh permainan tradisional. Semuanya bisa terwujud dengan biaya lumayan besar, lebih Rp25 juta.

“Tapi mimpi utama kami adalah SAS terus berjalan apa adanya, tidak terkontaminasi formalitas, bisa melahirkan generasi penerus masyarakat adat Dayak Kanayatn sebagai komunitas adat terbesar di Kalimantan Barat, dan semakin banyak orang lain mau menginisiasi sekolah adat, agar masyarakat adat Nusantara tidak tercerabut dari adat dan budayanya,” kata Wisa. (Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)