Seperti Inilah di Dalam Jam Gadang Bukittinggi

Sebuah besi batang menghubungkan setiap pusat lingkaran jam ke roda gigi dan terhubung ke mesin di lemari. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

SEBAGAI bangunan bersejarah yang menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia, hampir tak ada orang yang tak kenal Jam Gadang di Bukittinggi.

Berpose di depan Jam Gadang adalah impian wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat. Bahkan bagi orang Sumatra Barat sendiri, jika datang berkali-kali ke Bukittinggi pun tak pernah puas menikmati suasana Jam Gadang dan berfoto di depannya.

Meski begitu, tak semua orang bisa menikmati bagian dalam bangunan Jam Gadang dan melihat “isi perut” jam kuno yang berusia 125 tahun itu. Sebab bangunan berusia 91 tahun sejak didirikan 1926, memang tertutup buat pengunjung.

Bayangan angka Rumawi jam terlihat dari dalam. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Hanya orang-orang tertentu atas izin pejabat berwenang di Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi yang bisa masuk dan naik ke puncak. Jadi, ketika saya mendapat izin naik Jam Gadang saya tak menyiakan kesempatan memotret setiap sudut kondisi di dalam yang masih orisinil.

Hanya sayang, saya datang pada Oktober 2015, ketika Kota Bukittinggi diselimuti bencana kabut asap dari kebakaran lahan dan hutan di Palembang dan Jambi. Jadi pemandangan ke sekeliling Kota Bukittinggi dari puncak Jam Gadang watu itu tidak bersih dari kabut asap.

Bangunan Jam Gadang terdiri dari 6 lantai,mulai dari dasar hingga paling atas sebagai kaki bangunan kayu beratap gonjong. Bagian bawah mirip tapak bangunan. Bangunan berikutnya ibarat kubus yang setiap di atasnya sedikit lebih kecil dari bangunan bawah.

Beberapa katrol untuk tali baja tergantung di plafon untuk menghubungkan jarum dengan mesin. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Jika dilihat dari luar, setelah tapak, bangunan Jam Gadang hanya terlihat empat tingkat. Sebuah tangga kecil dari besi terdapat di sudut mulai tingkat satu. Tangga cukup terjal dan hanya cukup untuk satu badan orang dewasa. Lumayan mengeluarkan keringat dan energi untuk sampai ke puncak, karena semakin ke puncak ruangan semakin sempit.

Ruangan paling menakjubkan tentu saja paling atas (di bawah bangunan atap bagonjong) yang terdapat bulatan jam di empat sisi dinding. Kaca putih bulat berdiameter 80 cm memantulkan cahaya dari luar. Bayangan angka Rumawi jam di pinggir lingkaran terlihat dari dalam.

Lemari berisi mesin jam raksasa. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Sebuah besi batang yang menjulur di tengah setiap lingkaran menarik perhatian. Ada roda gigi terlihat di sana. Besi tongkat menghubung ke tengah ruangan, saling terhubung dengan tali kawat ke katrol di plafon ruangan, lalu terhubung ke sebuah lemari di tengah ruangan berpintu kaca.

Di dalam lemari itulah terdapat sebuah mesin jam raksasa. Tonjolan rangka besi dalam lemari membayangkan saya sebuah timbangan kuno. Sejumlah roda gigi raksasa terlihat di sana.

Mesin jam di dalam lemari kayu. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Sehelai tali kawat kecil terjulur ke lubang ke plafon, terhubung ke ujung pemukul di ruang atas untuk menariknya memukul sebuah lonceng ketika jarum pendek menunjukkan pukul 00. Lonceng terletak di bangunan persegi paling atas dengan jendela kayu berkaca beratap gonjong mirip rumah adat Minang.

Lonceng tembaga itu bertuliskan “Vortmann Relinghausen, I.W Germany”. Vortman nama belakang Benhard Vortmann, si pembuat jam. Recklinghausen nama kota di Jerman tempat mesin jam ini diproduksi 1892.

Lonceng jam tergantung di bagian atas. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Konon mesin jam ini cuma dibuat dua unit waktu itu, satu lagi adalah mesin jam Big Ben di London, Inggris. Angka Rumawi IIII untuk “empat” yang lazimnya IV menjadi keunikan kedua jam ini.

Ratu Belanda perlu menggelontorkan 3.000 gulden untuk membangun Jam Gadang waktu itu. Membeli jam khusus ini di Jerman dan mengirimkannya ke Bukittinggi dengan kapal ke Pelabuhan Emma Heaven, kini Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, dilanjutkan dengan jalur darat ke Bukittinggi.

Pemukul lonceng digerakkan otomatis melalui tali baja ke mesin jam di bawah. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Demikian antusias Ratu Belanda berhasil mendapatkan Fort de Kock, nama pertama untuk Bukittinggi, setelah memenangkan perang habis-habisan dan cukup lama melawan Kaum Paderi pimpinan Imam Bonjol dan kawan-kawan.

Hampir satu abad bangunan Jam Gadang berdiri dan jamnya terus berdetak. Loncengnya pernah berbunyi mengumumkan waktu ke penduduk kota.

Tangga yang sempt dan cukup terjal. (Foto: Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Hanya pada 2007 bangunan itu terguncang akibat gempa darat. Bendul di dalam mesin raksasa patah, membuat jam terhenti. Bangunan pun miring 2 derajat dan retak kecil di beberapa bagian. Dilakukan perbaikan serius untuk menangani hingga pulih kembali.

Pemandangan Kota Bukittinggi dari atas Jam Gadang. Sayang kota sedang diselimuti kabut asap. (Syofiardi Bachyul Jb/ JurnalisTravel.com)

Dari bangunan atap kita bisa leluasa memotret ke sekeliling Kota Bukittinggi. Sebuah sensasi yang tak terlupakan. Hanya sayang kota sedang diselimuti kabut asap. (Syofiardi Bachyul Jb/JurnalisTravel.com)

Jam Gadang yang megah dan unik. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

CATATAN: Tulisan dan foto-foto (berlogo) ini adalah milik JurnalisTravel.com. Dilarang menyalin-tempel di situs lainnya atau keperluan publikasi cetak tanpa izin. Jika berminat bisa menghubungi jurnalistravel@gmail.com. Terima kasih atas bantuan Anda jika membagikan tautan.(REDAKSI)