Peluncuran Star Up Cafe Bersama Rocky Gerung

Rocky Gerung sedang menyeduh kopi. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

KEDAI kopi atau coffee shop mulai tumbuh bersemi seperti cendawan di musim hujan, menggambarkan meningkatnya kesukaan masyarakat pada kopi lokal yang sedap. Kopi yang baru digiling sebelum diseduh dan dituangkan ke cangkir. Itu memang sungguh sedap.

Kemarin ada satu lagi kedai kopi yang di-launching di Padang. Namanya Star Up Cafe di Kawasan Ulak Karang, Kota Padang, tepatnya di Jalan S. Parman  Nomor 186. Semakin banyak tempat nongkrong untuk menyesap kopi-kopi yang enak di Padang.

Saya tidak ingin melewatkan undangan launching kedai kopi Star Up pada 9  Juli 2018, apalagi pemiliknya sangat saya kenal dengan baik, M. Zuhrizul Chaniago, seorang pegiat wisata di Sumatera Barat.

Pagi pukul 9.30 WIB saya dan teman saya, Nora datang ke sana. Terlihat sudah banyak yang datang. Karangan Bunga berjejer di sisi jalan. Kedai kopi baru itu menempati lantai satu di ruko berlantai tiga. Plang namanya besar dengan latar hitam dan tulisan Star Up warna putih yang kelihatan modern.

Star Up Cafe di Jalan S. Parman, Padang. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Di halamannya, di ruang terbuka ada empat meja dari kayu dengan bangku-bangku yang nyaman di bawah payung peneduh. Di sisi kanan-kiri ada pembatas dari bambu setinggi 2 meter yang memperkuat kesan alami.

Di ruang dalam ada meja kerja barista lengkap dengan mesin pembuat kopi. Di belakang meja barista berjejer biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk kopi solok dari Sumatera Barat.

Rungan itu dipenuhi bangku-bangku yang nyaman. Ada ruangan lainnya yang dipenuhi koleksi buku. Suasananya tenang seperti sebuah kedai kopi dengan aroma kopi panggang yang mulai tercium di udara. Kami menunggu acara dibuka, duduk di bangku di halaman, disajikan kudapan.

Ada yang menarik juga pada launcing ini, akan hadir pengamat politik dan ahli filsafat terkenal di Indonesia, Rocky Gerung. Dia didaulat sebagai pembicara dengan topik “Gerakan Rasionalisasi Indonesia”. Sepertinya kajian yang berat. Saya sih inginnya ngopi sambil santai, tapi jadi penasaran juga.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Rocky Gerung bersama M. Zuhrizul. Dia disambut semua orang, mungkin karena sering terlihat di layar kaca.

Rocky Gerung (berbicara) bersama moderator Heru Perdana Putra, dosen FISIP Unand (kiri) serta M. Zuhrizul Chaniago dan Pebriansyah (kanan). (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Rocky Gerung sehari sebelumnya mendaki Gunung Talang di Kabupaten Solok dan baru turun tadi pagi.

“Saya masih pakai pakaian dari gunung,” katanya tersenyum.

Baju dan celana, juga sepatu gunungnya yang berdebu memang saya lihat persis sama dengan yang ia pakai di Gunung Talang dari postingan foto di sebuah grup WhatsApp tadi malam.

Acara segera dimulai, jumlah yang datang cukup membludak, kebanyakan mahasiswa, mungkin menunggu ceramah Rocky Gerung.

Ternyata apa yang disampaikannya nggak terlalu berat soal politik. Saya menikmati kuliahnya tentang filsafat yang dibahas dengan asyik, dari Plato, Tan Malaka, Madilog hingga sejarah kedai kopi dan kopi. Pengetahuannya tentang kopi juga luas.

“Saya minum kopi 7 sampai 9 gelas sehari dan kata orang jantung bisa berdebar, kalau saya tidak, nggak ngopi bikin saya nggak bisa tidur, karena dengan kopi fungsi otak kita dikondisikan berpikir tenang, tidak ada kegelisahan, tidur bisa nyenyak,“ kata Rocky menjawab pertanyaan saya berapa kali dia minum kopi dalam satu hari.

Kesukaannya kepada kopi juga menurutnya sama dengan kesukaannya kepada gunung. Aktivitas utamanya naik gunung. Tidak hanya gunung-gunung di Indonesia, tetapi juga sampai beberapa kali ke Himalaya. Naik gunung baginya bisa melatih kepekaaan.

M. Zuhrizul, pemilik Star Up Cafe. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

“Paling tidak seminggu nggak mencium harum hutan dan menginjak basah tanah di gunung saya nggak bisa tidur, kenapa begitu, bukan untuk melarikan diri dari politik, bila Anda naik gunung Anda akan memperoleh seluruh jenis kepuasan,” katanya.

Di tengah perbincangan yang asyik, aroma kopi mulai menguar ke udara dari kopi-kopi yang baru dipanggang dan digiling. Tak lama, bergelas-gelas kopi solok yang hangat mulai beredar dari tangan ke tangan. Langsung saya sesap,  kopi solok yang sangat sedap.

Menurut Zuhrizul, kedai kopi ini sebelumnya kantor agen travel miliknya. Lantai satu yang dulunya untuk tempat penjualan tiket itulah yang direnovasi menjadi kedai kopi.

“Era digital membuat travel agen habis, adik saya saja beli tiket sekarang di Traveloka, bangku-bangku yang ada di cafe ini dulunya tempat orang antre membeli tiket, kita harus rasional memikirkan tempat ini akan menjadi apa, akhirnya pilihan ke kedai kopi,” katanya.

Selain menjadi kedai kopi, menyambut era start up, ia juga mempersilahkan kedai kopi “Start Up” ini menjadi tempat ngantor untuk anak muda yang baru merintis usaha di dunia start up.

“Saya apresiasi kawan-kawan muda dalam bisnis start up, belum tentu dia bisa bayar kantor, sewa kantor, jadi teman-teman bisa menjadikan alamat di sini sebagai alamat kantornya, dan silahkan bekerja dari sini, ada wifi dan disediakan ruangan meeting dengan klien, sambil ngopi tentunya,” kata Zuhrizul.

Kopi solok siap disuguhkan. (Foto: Febrianti/ JurnalisTravel.com)

Kedai Kopi Star Up nantinya juga akan dijadikan kafe literasi dan tempat berdiskusi. Sudah banyak koleksi bukunya dan menerima sumbangan buku dari yang datang.

Kedai Kopi Star Up nantinya akan banyak menyajikan kopi-kopi asli dari Sumatera Barat, selain juga kopi-kopi dari daerah lainnya di Indonesia.

“Kopi Sumatera Barat itu sangat banyak, tidak hanya kopi solok, juga ada kopi arabika dari Gunung Sago, kopi dari Gunung Marapi, tapi belum banyak, padahal sejarah kopi di Sumatera Barat sangat panjang,” kata Pebriansyah, aktivis kopi dari Sumatera Barat.

Itu dibuktikan dengan masih ada pohon-pohon kopi tua yang besar di kaki gunung Merapi, Sunggalang, Sago, juga sisa bangunan pabrik tua bekas pabrik kopi.

“Yang sangat diperlukan itu mengedukasi petani kopi bagaimana membudidayakan kopi dan panen dengan benar agar kualitasnya bagus, di kedai kopi seperti Star Up ini juga bisa dijadikan tempat pelatihan untuk petani kopi nantinya,” kata Pebriansyah.

Dialog tentang kopi diakhiri dengan launching Star Up Cafe. Rocky Gerung didaulat menyeduh kopi dengan manual brewing menggunakan drip V60.

“Ini namanya kopi berakal sehat, kita siram dengan argumentasi, maka jadilah kopi yang berbasis gagasan, namanya Star Up Kopi, mari kita nikmati sama-sama, sewangi akal Minang,” katanya berfilsafat, tapi kali ini dibumbui sedikit iklan.

Saya kebagian mencicipi segelas kopi seduhan ahli filsafat ini, rasanya boleh juga. (Febrianti/ JurnalisTravel.com)